
Nyonya Viko dan Dea bergetar ketakutan saat mendengar suara menggelegar dari Satria, hingga menarik perhatian orang lain yang sedang menikmati makan siang mereka di restoran itu.
"Bawa Nona Farenheit dari sini!" titah Satria.
"Pelayan tunjukkan ruangan kami!" ucap Satria lagi yang dianggukkan oleh pelayan itu.
Jenny membawa Rahel setelah memperbaiki masker gadis itu, mereka benar benar berusaha agar wajah Rahel tidak terekspos ke hadapan Publik.
"Berani sekali Anda menyentuh nona Farenheit!!" ketus Bastian.
"Kami hanya ingin berkenalan, bukankah Anda tau siapa kami tuan Farenheit yang terhormat?" ucap Nyonya Viko dengan segala kepercayaan dirinya.
"Siapa yang tidak tau perusahaan pencuri seper kalian, yang tega mencuri perusahaan milik saudaranya sendiri, tentu semua pebisnis di negeri ini tau nyonya Viko yang terhormat!" sindir Satria, setelah itu dia langsung pergi meninggalkan mereka disana dengan Nyonya Viko dan Dea yang terbelalak atas apa yang dikatakan oleh Satria.
"Bastian, bereskan mereka, aku tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi!" tegas Satria.
"Baik tuan!" ucap Bastian sambil menunduk hormat.
"Tuan Farenheit, sombong sekali Anda!!! bukan hanya perusahaan Anda yang berpengaruh di kota ini! Anda hanya secuil dari empat grup besar di negeri ini, dan kami punya koneksi dengan mereka!!!" ucap Nyonya Vika.
"Jiahjahahah, apa kau sedang bercanda nyonya? apa perkataanmu bisa kau buktikan?" tawa Satria menggelegar.
"Tentu bisa, perusahaan kami punya koneksi dengan keempat perusahaan besar itu! dalam sekejap perusahaanmu bisa di hancurkan!" ancam Nyonya Viko.
Satri berbalik, dengan tawa yang menyeramkan.
"Hohohoh baiklah kita buktikan siapa yang akan hancur!" ucap Satria sambil mengeluarkan ponselnya.
"Aku akan menghubungi Gamaliel Park, Bima Satria, Aiden Maureer dan Ken David Anderson, mungkin kau bisa berbicara langsung dengan mereka?" ucap Gama sambil menyeringai membuat nyonya Viko dan Dea menelan kasar Saliva mereka.
"Ma, udah deh, ayo daripada perusahaan terancam, sepertinya koneksinya sangat luas, kita salah langkah, lagian Mama kenapa bawa bawa empat perusahaan besar itu sih!!" gerutu Dea sambil menarik lengan Mamanya.
"Ck... kupikir dia akan takut," gumam Nyonya Vika.
"Baiklah aku akan menghubungi perusahaan Bima," ucap Satria sambil mencari nomor Bima yang merupakan teman dekatnya.
"Halo Bim!" sapa Satria.
Saat Satria mulai berbicara, dengan cepat Nyonya Viko dan Dea kabur dari restoran itu.
"Ayo cepat pergi, lain kali kami akan membalasmu!" ancam Nyonya Viko yang tidak tau posisi mereka jauh di bawah perusahaan. Farenheit.
__ADS_1
"Cih perusuh!" ucap Bastian berdecih.
"Ada apa kau meneleponku Bang... Sat??? hahahahah," kekeh Bima dari seberang telepon.
"Ck...sialan kau Bima! ingat namamu juga Satria dodol," Umpat Satria pada sahabat baik nya itu.
"Pfftttthhh hahahhahaha, ada apa ?" tanya Bima.
"Apa kau punya koneksi dengan V.R grup?" tanya Satria.
"Ahh perusahaan pencuri itu? aku punya kerja sama dengan mereka namun hanya proyek kecil, mereka lumayan hebat di bidang itu, aku hanya mencari keuntungan dari perusahaan itu," ucap Bima.
"Pantas saja mulut kotornya itu berani mengancam ku hanya karena mempunyai kerja sama dengan perusahaanmu," ucap Satria.
"Pfftttthhh hahahhahaha ternyata ada juga yang berani mengancam seorang tuan muda Farenheit hahhaha," Buma tertawa terbahak-bahak meledek temannya sendiri.
"Sialan kau,sudahlah istriku sudah menunggu!" ucap Satria.
"Wahh si kampret nikah gak ngundang, parah Lu Man, kenapa gak bilang sama Luna dan Ken? apalagi Luna, dia bisa kesal loh!!" ucap Bima.
"Gak sempat bro, ini juga gue nikah dadakan karena dijebak sama Mommy dan Daddy, kau tau kan sifat mereka itu?" ucap Satria.
" jangan sok muda Bima, jelas jelas dia adik iparmu!" ketus Satria.
"Hahahahah baiklah, tapi aku akan memberitahukan kabar ini pada Luna, dia pasti senang, " ucap Bima.
"Ahhh bagaimana kabar keponakanku?"tanya Satria.
"Mereka Sehat, perut Luna semakin lama semakin besar sudah seperti balon hahahah, aku tak sabar menantikan kelahiran Park Junior!" seru Bima.
"Kau ini, baik lah titip salam pada Luna dan yang lainnya, dan kau cepat move on!" ucap Satria sebelum mengakhiri panggilannya.
"Bagaimana? harus kuapakan dua ular tadi? haruskah ku basmi sekarang!?!"tanya Bastian yang sudah geram melihat tingkah Nyonya Viko dan Dea yang sok mencari perhatian pada Satria.
"Biarkan saja dulu, belum waktunya pembalasan, tunggu sampai istriku siap!" ucap Satria.
Mereka melangkahkan kakinya menuju ruangan VIP dimana Rahel dan Jenny sudah menunggu.
Pintu dibuka, tampak Rahel dan Jenny menatap kedatangan dua pria tampan itu.
"Kau baik baik saja Ra? Tak ada yang sakit kan? apa kau terluka?" tanya Satria, sedikit lebay tetapi itu adalah bentuk perhatiannya pada sang istri.
__ADS_1
"Aku baik baik saja, mau apa mereka tadi?" ucap Rahel.
"Mungkin mereka penasaran dengan siapa gadis cantik di balik masker dan kacamata hitam ini," goda Satria yang langsung duduk di samping istrinya.
"Cih kau bisa saja, masih sempat-sempatnya menggodaku, dasar aneh!" ejek Rahel.
"Hahahahah, kau menggemaskan sayang," kekeh Satria.
"Ya ampun, dunia serasa milik berdua ya, yang lain mah ngontrak," gumam Jenny yang di dengar jelas oleh Bastian.
"Kalau iri bilang aja, gak usah pake ngatain orang begitu, cih dasar manusia tengkorak!" ejek Bastian yang membuat Jenny menekuk wajahnya kesal.
Kalau Bastian di ladeni, bisa bisa mereka menjadi tontonan pasangan yang sedang dimabuk romansa itu, akhirnya Jenny memilih diam daripada harus meladeni pria tiang listrik di sampingnya itu.
Mereka menikmati makan siang mereka yang memang sudah tersedia di dalam ruangan itu.
sementara itu, di luar restoran, tampak Nyonya Viko dan Dea menatap tajam ke arah tempat itu. Mereka benar-benar dipermalukan oleh Satria bahakan orang orang memberikan tatapan aneh pada mereka.
"Ck... Ma kalau gini citra Dea rusak di depan Tuan Farenheit, Dea yakin kalau dia itu seorang pria muda yang tampan, Mama ngapain bawa bawa empat perusahaan besar itu sih, kalau pun kita ada kerjasama dnegan mereka, kita bukan apa apa bagi mereka, kita hanya secuil, belum lagi J.B grup, jangan bawa bawa orang lain nanti kita yang malu, Mama ini gimana sih!" gerutu Dea sambil masuk ke dalam mobilnya.
"Nah Loh kok jadi salahin Mama, mencoba itu gak masalah Dea, siapa tau berhasil, walau hasilnya seperti tadi," ucap Nyonya Viko.
"Tapi apa Mama lihat wajah gadis itu? kenapa mereka bertiga menutupi identitas mereka dan siapa wanita yang datang bersama Pak Bastian tadi? aku tak pernah melihatnya!" ucap Dea pada Mamanya yang sudah masuk ke dalam mobil.
"Mana Mama tau, coba kamu tanya temanmu yang bekerja di Perusahaan Farenheit," usul Nyonya Viko.
"Ck... tak ada lagi Ma," ucap Dea dengan wajah kesal.
" Maksud mu?" tanya Nyonya Viko bingung, sebab setahu dirinya, Dea punya teman baik yang bekerja di Farenheit.
"Gaby dipenjara karena menyerang salah satu karyawan baru disana dan Bella, dia tidak bis dihubungi," ketus Dea.
"Ck... sial kenapa begini sih!!" gerutu Nyonya Viko karena rencananya tak berhasil dengan lancar.
.
.
.
like, vote dan komen 😉😉😊
__ADS_1