Istri Cantik Suami Bucin

Istri Cantik Suami Bucin
PC 30 (Panas)


__ADS_3

Satria dan Rahel masuk ke dalam kamar mereka, yang lebih tepatnya kamar Satria yang akan mereka tempati sebagai suami istri yang sah.


Ketika mereka masuk, mereka berdua merasakan sesuatu yang salah dan aneh dengan diri mereka.


Sepertinya ada sesuatu yang akan terjadi diantara mereka berdua. Usut punya usut ternyata minuman yang diminum mereka berdua tadi sudah dicampur dengan obat yang akan membangkitkan gairah mereka.


Dan ternyata efeknya sangat cepat, apalagi Rahel dia merasa tidak nyaman dengan dirinya dan berusaha mempertahankan kesadarannya agar tidak terjadi kekacauan meski dia tidak tau kenapa hal ini terjadi.


Satria menatap Rahel yang tampak tidak nyaman dengan tubuhnya, dia juga merasakan hal yang sama.


"Eghh panas," ucap Rahel sambil mengipasi tubuhnya, dia mulai kelihatan gelisah begitu juga dengan Satria.


"Kok tiba-tiba gerah begini arghh, kepalaku juga pusing," ucap Satria sambil memijit pelipisnya yang terasa berat.


"Satria bantu aku, kenapa panas sekali, bisa bantu bukakan kancing gaunku?" ucap Rahel yang sudah tak tahan dengan dirinya, benar-benar dirinya panas saat ini.


"Kemarilah, eghh..." Ucap Satria yang mulai sempoyongan.


Rahel mendekat ke arah Satria dengan posisi membelakangi pria itu sambil mengangkat rambutnya dan mengipasi tubuhnya yang terasa panas bahkan kesadarannya mulai menghilang.


Di sisa kewarasannya, Satria masih bisa membuka kancing dress Rahel, matanya terbelalak melihat punggung putih dan mulus itu, bahkan leher jenjang Rahel begitu menarik perhatiannya.


"Sepertinya mereka melakukan sesuatu dengan minuman itu, astaga ini akan berbahaya, bagaimana perasaan Rahel nanti," gumam Satria yang masih berusaha menahan dirinya agar tidak terpengaruh oleh obat itu.


"Kenapa ruangan ini jadi terasa panas Satria, arhhh... ini kenapa, aku jadi pusing," ucap Rahel , dia memegang kepalanya yang terasa berat dan penglihatannya berkunang kunang.


"Sepertinya kita di jebak Ra, bagaimana ini, aku.. aku tak bisa menghindarinya, aku arhhh..." ucap Satria mulai merasakan efek mengerikan dari obat yang dimasukkan oleh Dad Bram ke dalam minumannya tadi.


Lain halnya dengan Rahel yang benar benar sudah kehilangan kesadarannya, obat itu bekerja dengan cepat di tubuh Rahel membuatnya merasa gelisah dan harus menuntaskan sesuatu di dalam dirinya.


Rahel berjalan dengan mata sayup ke dekat Satria, dia benar-benar pusing dan gelisah.


Brukkk


Mereka berdua terjatuh di atas kasur dengan posisi Rahel di atas tubuh Satria.


Mata mereka saling bertemu, mereka bertatapan untuk beberapa saat.


Sementara itu di lantai dua, Dad Bram sedang melamun memikirkan apakah rencananya kan berhasil atau tidak.


"Hmmm bagaimana ini, apa akan berjalan dengan baik, sepertinya aku sudah memberikan dosis yang tepat tadi, tapi mengapa belum bereaksi?" Gumam Dad Bram yang merebahkan tubuhnya di atas ranjang di samping Mom Ayu yang sudah terlelap sejak tadi karena lelah setelah acara pernikahan anak mereka.

__ADS_1


"arhhhh... sial, sudahlah mau terjadi atau tidak yang penting mereka sudah sah jadi suami istri!" celetuk Dad Bram yang memilih tidur dan memeluk istri tercintanya.


Sementara itu kembali ke kamar Rahel dan Satria, keduanya kehilangan kesadaran mereka hingga terjadilah pertempuran yang memang wajar mereka lakukan hanya yang tidak wajar disini adalah mereka melakukannya karena obat.


Satria meletakkan bibir nya di ceruk leher gadis itu membuat Rahel merasakan sesuatu yang benar-benar baru dalam dirinya meski dalam pengaruh obat yang dimasukkan Dad Bram ke dalam minuman mereka berdua saat minum tadi.


Satria mengecup leher jenjang gadis itu, menghisap dan memberikan tanda merah di lahan putih bersih itu.


"Ahhh .. emphh," nafas Rahel mulai memburu.


Satria berada di atas tubuh Rahel ditatapnya wajah cantik yang sedang kehilangan kesadarannya itu. Bibir seksi berwarna merah merona itu tampak sangat menggoda, dilahapnya dengan rakus bibir ranum itu.


Rahel menyentuh kulit Satria mencari rasa yang ingin dia inginkan untuk sesuatu yang akan segera meledak dalam dirinya.


Kini Satria berada di atas tubuh istri dan masih dalam posisi yang sama mengecup bibir manis istrinya dengan lembut, Rahel membalas permainan suaminya tak kalah ganasnya.


Entah sejak kapan mereka sudah polos dan penuh dengan peluh.


Satria berhasil memasukkan sesuatu ke tempatnya yang seharusnya membuat bercak merah mengalir dari bawah sana bersamaan dengan air mata Rahel.


Satria mengelus wajah polos nan cantik itu, dia memompa sesuatu di bawah sana hingga mereka sampai kepada puncaknya.


Tampaknya malam itu masih panjang, menikmati gelenyar gelenyar aneh dalam diri mereka, berguling kesana kemari menyalurkan sesuatu yang mereka lakukan di bawah pengaruh obat yang diberikan Dad Bram pada minuman mereka.


Malam panjang pun berlalu, rasa lelah setelah pertempuran semalam membuat sepasang pengantin baru itu tidur dengan lelap.


Apalagi dosis yang diberikan oleh Dad Bram sepertinya bukan dosis main main hingga bisa membuat mereka melakukannya hingga beberapa kali.


Satria bangun terlebih dahulu dari tidurnya, dia menatap seseorang yang kini tengah tidur dalam pelukannya. Dia tidak lagi terkejut, sebab dia mengingat dengan jelas apa yang mereka lakukan semalam.


"Sepertinya ini pekerjaan pak tua itu, arhhh Daaad kenapa kau melakukan ini!!" gerutu Satria dalam hatinya.


"Tapi tunggu dulu, berarti di hari itu kami tidak melakukan apa apa karena dia masih berdarah, akghhh ini pasti akal akalan mereka, awas kalian nanti Mom, Dad, tapi..." Satria menatap wajah polos Rahel, disingkirkannya anak rambut yang mengganggu tidur istrinya.


"Ck.. dasar rambut nakal!" ketus Satria.


"Entah apa responmu nanti, ku harap kau tidak marah Ra, dan aku berharap segera tumbuh disini malaikat kecil, supaya setidaknya kamu menemukan harapan baru untuk tetap hidup, sampai saat ini aku masih khawatir dengan keinginanmu untuk bunuh diri, aku tidak bisa membiarkan mu putus harapan begitu saja," batin Satria.


Jujur saja kejadian saat Rahel mencoba mengakhiri hidupnya masih terngiang jelas di kepala Satria. Setiap hari dia memikirkan tentang hal itu, membuatnya gelisah dan tidak tenang.


Saat ini Satria sudah menyadari rasa cinta dalam hatinya, entah Rahel bisa membalasnya atau tidak biarlah melihat nanti.

__ADS_1


Cup


Satria mengecup kening Rahel, dia tidak tega melihat gadis yang sering bengong itu, meskipun tertawa mata Rahel tak bisa bohong, ada sejuta kesedihan tersimpan dengan rapat di balik tawanya.


Getir....


Sungguh menyedihkan melihat gadis itu bersedih dan murung.


Merasa ada yang memeluknya, Rahel mengerjapkan matanya, seketika dia teringat dengan pergulatan panas semalam, bagaimana dia bisa mengeluarkan suara suara yang bahkan tak pernah ia lakukan, bagaimana sesuatu masuk ke bawah sana dan menyemburkan lava hangat memenuhi sesuatu disana.


"Sa.. Satriaaaa....," ucap Rahel terkejut, matanya mulai menganak sungai, dia benar-benar terkejut.


Satria mendengar suara Rahel, dia memeluk Rahel dengan penuh kasih agar wanita itu tidak takut dan sedih.


"Maafkan aku Ra," ucap Satria.


"Maafkan aku," ucapnya.


"Apa kita..." Rahel berhenti.


Satria menatapnya sambil menganggukkan kepalanya. Rahel merasa malu dan gugup, jujur saja ketika mengingat kejadian yang baru pertama kali dialaminya di dalam hidupnya membuatnya merasa sangat malu.


"Kenapa begini, Satria... apa aku membuat kekacauan lagi?" ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Ma..maaf Satria, aku hiks hiks hiks," Rahel menangis tersedu-sedu, dia bingung dengan semua yang terjadi, menikah dadakan karena tertangkap basah tidur bersama dalam keadaan polos, dan sekarang melakukan hubungan yang memang sudah sah untuk mereka lakukan.


"Ssshhh... jangan menangis Ra, jangan menangis lagi, ini bukan salahmu, sudah jangan menangis, tenanglah semua akan baik baik saja," ucap Satria yang merasa sakit saat mendengar Isak tangis gadis itu.


"Arhhh... maafkan aku, aku membawa kekacauan, maafkan aku, seharusnya aku memang mati waktu itu arhhh maafkan aku Satriaaa," tangis Rahel tersedu-sedu.


Deghh


Mendengar ucapan Rahel, sangat sakit hati Satria, kekhawatirannya semakin menjadi jadi, apalagi mendengar penuturan gadis itu.


"Rahel!" bentak Satria membuat Rahel terkejut.


"Kenapa pikiranmu pendek sekali sih!" ucap Satria.


.


.

__ADS_1


.


jangan Lupa like, vote dan komen 😉😉😉😊😉


__ADS_2