
Brakk....
Brakk...
Brak...
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dari luar.
"Raaaaheeeelllllll...." Teriakan melengking dari seseorang yang sangat mereka kenal sontak membuat mata mereka terbelalak kaget, baru beberapa menit sejak Jenny memutus sambungan telepon, kini dirinya sudah ada di depan pintu rumah Satria dan Rahel.
"Lah itu kan Jenny, cepat banget nyampenya??" Ucap Rahel yang benar benar tidak menyangka.
"Bas buka pintu nya!" Titah Satria yang membuat Bastian menatap malas ke arah pintu itu karena dia harus membukanya untuk si manusia skeleton musuh bebuyutan di kantor.
"Haruskah aku?" Ucap Bastian sambil menatap Satria dnegan tataap malas.
"Lalu apa harus aku?" Ucap Satria sambil menaikkan satu alisnya dan menggerakkan kedua jarinya menyaratkan gunting yang tengah memotong sesuatu.
Jika dia melakukan itu, artinya gadi Bastian menadi taruhannya.
"Harhhh... Baiklah," ucap Bastian tidak berani berkutik akrena selain gaji, uang pesangon dan bonus tambahan akan terancam punah jikabtidak mengikuti perintah sang bos.
Bastian membuka pintu untuk Jenny, dan...
Jeng... Jeng... Jeng...
"Raheeelll kangeeen..." Ucap Jenny yang tanpa melihat langsung memeluk sosok orang di depannya dengan erat.
Bastian diam mematung saat gadis seri gigi dagunya itu memeluk dirinya dengan erat, seperti pelukan penuh kelembutan dari seorang Ibu yang berhasil membuat seorang Bastian diam membeku tanpa melakukan apa pun.
Satria dan Rahel saling menatap, mereka terkikik geli melihat apa yang terjadi di antar si tiang listrik dan manusia skeleton itu.
Jenny yang memeluk Bastian dengan lembut meraba raba tubuh di depannya itu yang otoma langsung membuat jantung Bastian berdegup kencang serasa di sengat listrik apalagi kepala gadis itu bergerak gerak di sekitar ceruk lehernya.
"Eh... Ra kamu olahraga ya, kok badan ku kekar banget sih, mana punggungnya juga lebar, eh lenagnnya juga berotot, eh sejak kapan kamu setinggi..."
Jenny berhenti lalu membuka matanya dan menatap sosok pria yang dia pegang sedari tadi.
"Astaga kampret ehh tiang listrik eh ya ampun Aaaaaaaaghhhhhhhh meeeesuuummmmmmm" pekik Jenny langsung berjalan mundur beberapa langkah ke belakang hingga akhirnya dia kehilangan keseimbangan namun.
Hap
Dengan cepat Bastian menangkap gadis itu dan membawanya ke dalam pelukannya membuat mata mereka berdua saling bertemu dan menatap untuk beberapa saat.
Tap... Tap... Tap...
__ADS_1
"Ekhmmm.... Mau mesra mesraan sampai subuh sih boleh tapi tunggu lewat pelaminan dulu, sekarang.... KERJAAAAA" teriak Satria membuyarkan lamunan kedua sejoli itu.
Brukk
Bastian melepaskan tubuh Jenny begitu saja ke atas lantai hingga membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Ck... Arhhhh tiang listrik kurang asemmm, sakit tau, lama lama bokong ku bisa tipis gara gara dirimu aaaaaaaagghhhhhh" teriak Jenny sambil melemparkan tatapan tajam ke arah Bastian.
"Cih memang sudah tipis kan?" Ejek Bastian yang membuat Jenny terbelalak dengan perkataan pria itu.
"Husshhh...... Sudah sudah mau sampai kapan kalian berdebat, waktu terus berjalan apa kami harus menyaksikan perdebatan kalian setiap hari?" Ketus Satria dengan wajah kesal yang membuat keduanya terdiam.
Jenny bangkit berdiri lalu menghampiri sahabatnya.
"Raaaa..."rengek gadis itu sambil memeluk le gan sahabatnya yang lebih pendek dari dirinya.
" Sudahlah kamu selalu saja berdebat," ucap Rahel sambil mengusap lengan Jenny.
"Kan dia yang mulai," rengek gadis itu lagi.
"Cih dasar cengeng!!" Ketus Bastian tanpa menoleh, dia asik menatap layar ponselnya untuk memeriksa kegiatan tuannya hari ini.
Setelah bersiap, mereka semua pun berangkat menuju rumah besar keluarga Farenheit.
"Kalau bukan karena Sabrina yang nyariin kamu aku gak bakal biarin kamu pergi sendirian Ra," ucap Satria yang masih belum tega membiarkan istrinya pergi tanpa dirinya.
Bastian dan Jenny berada dalam mobil milik Bastian dan suasana disana cukup langka karena keduanya sama sama diam.
"Tapi Sabrina kenapa sayang? Ada apa dengannya?" Tanya Satria dengan wajah khawatir.
Rahel menghela nafas berat, dia tidak yakin apa dia harus memberitahukan hal ini pada Satria atau tidak.
"Please kasih tau sama aku," pinta Satria dengan wajah memelas.
"Hmmm... By kuharap kamu tenang, dari yang aku lihat dan dengar dia sepertinya menjadi korban bullying di kampusnya, tubuhnya memar semua apalagi perut, paha dan punggung nya, " jelas Rahel sambil berhenti mengamati ekspresi suaminya.
Dia mencoba menjelaskan setenang mungkin.
"A.. apa? Bully?" Satria tak percaya dengan apa yang di dengarnya, bagaimana bisa adiknya di bully.
"Bagaimana kamu tau Ra? Apa Sabrina yang bilang?" Tanya Satria.
"Sabrina gak bilang apa-apa, aku tau dari bau tepung, dan bau kapur di jaketnya, dan aku tau karena pernah mengalami hal seperti itu," jelas Rahel sambil menatap Jalanan dengan tatapan kosong mengingat bagaimana dirinya di bully beberapa tahun lalu.
"Sayang," ucap Satria sambil menoleh pada Rahel kebetulan mereka berhenti di lampu merah.
__ADS_1
"Hmm? "
"Kamu gak apa-apa?"
"Tenang by, aku baik baik saja,"
"Jangan sedih ya, aku gak suka Lihat kamu sedih," ucap Satria yang dibalas anggukan kepala oleh Rahel dengan senyum manis di wajahnya.
"Lalu bau alkohol itu?" Tanya Satria.
"Sepertinya dia dipaksa by, kita harus cari tau hal ini, jangan sampai Sabrina makin parah, kasihan dia by, menyembuhkan trauma akibat bully sanagt sulit dan aku tau rasanya, apalagi saat tak ada orang yang menjadi sandaranmu," jelas Rahel.
Staria menggenggam tangan istrinya, sambil menatap wajah Rahel sebentar lalu kembali fokus ke Jalanan.
"Aku akan cari tau, aku akan habisi siapa pun yang berani bermain main dengan adikku!!" Ucap Satria.
Tak beberapa lama mereka tiba di rumah besar keluarga Farenheit. Rahel dan Satria berjalan dengan bergandengan tangan.
Bastian dan Jenny? Jangan ditanya mereka berjalan dengan jarak sejauh mungkin dan diam satu sama lain, jika memilih berdebat maka mungkin saja mereka tidak akan sampai di rumah itu saat ini.
Kedatangan mereka langsung di sambut oleh Pak Gio, dan beberapa pelayan lainnya.
"Wahh besar sekali rumahnya, seperti istana saja" celetuk Jenny yang entah bagaimana bisa di dengar jelas oleh Bastian.
"Kampungan!" Ejek Bastian.
"Cih.... Suka suka saya!" Ketus Jenny sambil berjalan mendekati Rahel untuk menghindari perdebatan dengan manusia tiang listrik itu.
Mereka masuk ke dalam rumah besar itu seketika saja terdengar suara teriakan dari dalam rumah yang Bastian dan Satria tau pasti suara siapa itu, siapa lagi kalau bukan Mom Ayu yang sudah menyadari kesalahannya.
"Raaaheeeellllll menantu Mommy saaaayaaaanggg!!!!" Teriak Mom Ayu sambil berlari dan langsung memeluk menantunya, mengingat kejadian semalam Rahel menjadi sedikit canggung dan Satria paham dengan gelagat istrinya.
"Mom," panggil Satria namun Mom Ayu tidak menghiraukan, Dad Bram melemparkan kode agar membiarkan mereka sejenak.
"Maafkan Mommy sayang, maaf ya nak ya, Mom gak bermaksud buat kamu bersedih, maaf atas kebodohan Mom, Mom salah," Mom Ayu menangis sambil memeluk menantunya yang sedari tadi diam saja.
"Huaaaa.... Daddy Rahel gak bicara, hiks hiks hiks Mommy salaaahhhh.... Huaaaaa Daddy" rengek Mom Ayu sambil melepaskan pelukannya dan berlari memeluk Dad Bram.
Rahel tampak diam saja entah apa yang dipikirkan wanita itu.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 😉😉