
Rahel dan Satria mengemudi mencari penjual martabak sesuai keinginan Rahel. Mereka berkeliling kota untuk menemukan penjual martabak yang biasanya rame namun bak di telan bumi, tak ada lagi wujudnya di muka bumi ini.
"Hmmm dimana ya yang jual, gak kelihatan Ra, biasanya disini ada," ucap Satria yang memutar mobilnya kesana kemari mencari penjual martabak.
"ihkk kok gak ada sih, ck... aku pengen banget," ucap Rahel sambil menekuk wajahnya karena apa yang dia inginkan tiba tiba susah didapatkan.
Satria menatap Rahel sambil tersenyum, jarang jarang istrinya minta sesuatu, sekalinya minta malah minta di beliin martabak tapi anehnya malah susah Nemu penjual martabak di lokasi itu.
"Sabar sayang, bentar kita ke tempat langganan Mom dan Dad aja, mereka pasti buka," ucap Satria yang dibalas anggukan kepala oleh Rahel.
"Sabrina udah semester berapa by?" tanya Rahel.
"By?" ucap Satria terkejut dengan panggilan Rahel.
"Hmm? apa Satria? " balas Rahel pura pura tidak tau.
"kamu manggil aku tadi apa?" tanya Satria.
"Satria," jawabnya dengan polos.
"bukan sebelum itu, waktu kamu nanyain Sabrina semester berapa?" tanya Satria.
"Hmm apa ya aku gak ingat by," ucap Rahel sambil tersenyum nakal.
"Tuh kan kamu manggil By, mulai nakal nih," goda Satria sambil menatap Rahel.
"Hum.. nggak tuh, salah ya aku manggil By, hubby? gak suka?"ucap Rahel, gadis itu tiba tiba aneh pikir Satria.
Pria tampan berwajah khas Asia itu menoleh ke arah istrinya sambil memasang wajah penasaran, sebenarnya istrinya kenapa, pikirnya.
"Nggak salah sih, malah aku suka, tapi aku takut kamu gak nyaman, gak usah dipaksain mau manggil begitu, senyamannya kamu aja Rara," Ucap pria itu sambil memasang senyum mempesona yang entah bagaimana caranya berhasil membuat Rahel dag Dig dug tak karuan.
"Tampan sekali heheheh," batin Rahel yang merona karena di lihati oleh suaminya.
"Kenapa sih sayang?" tanya Satria bingung, dia mengusap kepala istrinya, namun Rahel Hanya menggelengkan kepalanya saja.
"By, kita beli Martabak setelah itu ke rumah Mom sama Dad ya, aku mau ketemu sama Sabrina, tiba tiba kangen, padahal nggak sering ketemu," ucap Rahel mengutarakan keinginannya yang membuat Satria menoleh.
"Hmm? kangen sama Sabrina? padahal kalian belum sedekat itu, ada apa sih sayang kok tiba tiba begini, aku jadi takut loh," ucap Satria.
"Ih apaan sih kamu, ya namanya tiba tiba," celetuk Rahel.
"Hmmm ya udah kita beli martabaknya dulu, ini tempatnya, Mom dan Dad sering beli disini,"ucap Satria yang dibalas anggukan dengan senyuman sumringah di wajah Rahel.
Rahel keluar dari dalam mobil, dia menghirup udara dalam dalam, bagaikan baru saja keluar dari goa yang penuh dengan kesesakan," Hmmm...haaahhhh... segarrr!!" celetuknya.
Satria hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah istrinya itu.
"Ra ayo sini," Ucap Satria.
__ADS_1
Namun mata Rahel tertuju pada seorang pria muda yang tengah menikmati es cendolnya, dia duduk sambil menyendokkan es cendol itu ke mulutnya, Rahel menelan Salivanya sendiri dia menatap pria itu dengan tatapan berbinar-binar.
"Wahhh seger tuh, kayaknya enak pas cuaca begini, pasti seger langsung lolos ke tenggorokan, ahhh peengeenn, sshhhh... tapi gak boleh, tadi udah minta beliin martabak, jangan lagi, udah Ra," Rahel bergelut dengan dirinya sendiri.
"Ra?" panggil Satria saat istrinya tidak menyahut panggilannya.
Satria melihat kemana mata Rahel tertuju, sungguh dia terkejut istrinya melihat pria yang sedang minum es cendol sambil asik memainkan ponselnya.
"Kok Rahel lihatin cowok lain sih? padahal kan ada aku suaminya, mana berondong lagi," batin Satria yang malah cemburu istrinya menatap pria lain padahal yang ditatap Rahel es cendol ya bukan orangnya.
"Ra!" panggil Satria sambil sedikit menepuk bahu gadis itu.
"Eh," Rahel terkejut dan tersadar dari lamunannya.
"Maaf aku gak dengar tadi," cicit Rahel namun dibalas dengan cuek oleh Satria yang malah salah paham dengan Rahel.
"Hmmm.. jadi gak nih beli Martabaknya?" tanya Satria dengan suara datar.
"Dia marah ya? apa aku ngerepotin? apa karena aku gak jawab panggilannya tadi?" batin Rahel yang tiba tiba merasa asing dengan ekspresi suaminya.
"Ja..jadi kok," Cicit Rahel dengan suara pelan pertanda dia takut dan sedih, hal ini membuat Satria tersadar dengan cara bicaranya tadi.
"Sabar Satria, Sabar jangan kasar, Rahel itu sensitif," batin Satria.
"Ya udah ayo, kamu lihatin apa sih tadi hmm?" pria itu menggandeng tangan istrinya dan bertanya dengan lembut pada Rahel agar Rahel tidak takut dan sedih lagi.
"Kamu mau?" tanya Satria namun dibalas gelengan kepala oleh Rahel.
"Hmmm ya udah ayo kita beli Martabaknya," ucap Satria sambil merangkul bahu istrinya namun dia mengkodekan pada penjual es cendol itu agar membungkus dua untuk mereka.
Satria dan Rahel masuk ke gerai penjual Martabak itu, tentu saja Satria langsung dikenali oleh penjual martabak langganan orang tuanya.
"Eh den Satria, lama gak datang mau pesan berapa Den?" tanya Penjualnya.
"Pesan yang biasa mang buat Mom dan Dad terus... " dia berhenti lalu menatap istrinya yang tampak diam sambil mengulum bibirnya.
"Kamu mau rasa apa Ra?" tanya Satria.
"Emmm aku mau cokelat, campur keju tapi harus manis ya," ucap Rahel dengan wajah berbinar-binar.
"Wah pacarnya ya den, cantik sekali," puji si penjual martabak.
"Istri saya Mang, beberapa Minggu lalu kami menikah," ucap Satria.
"Ohh selamat ya den, Eneng cantik, semoga langgeng," ucap Penjual itu.
"Amin, Terimakasih pak," ucap Satria dan Rahel.
"Sayang kamu duduk disini dulu ya, aku mau telpon Mom sebentar siapa tau mau nitip sesuatu," ucap Satria yang dibalas anggukan kepala oleh Rahel.
__ADS_1
Satria pergi keluar dari gerai itu,sedangkan Rahel duduk manis disana sambil memperhatikan Mamang penjual martabak mengolah masakannya dengan telaten sampai membuat Rahel mengedipkan matanya berkali-kali karena takjub dengan tangan lihat si penjual.
Sementara itu di luar, Satria mengambil pesanannya tadi dan menambah satu porsi lagi kemudian membungkus dalam plastik hitam dan memasukkannya ke dalam mobil dan disimpan dalam penyimpan makanan yang selalu dibawanya siapa tau membeli makanan dingin seperti ini.
Setelah itu dia kembali menemui istri tercintanya yang dengan setia duduk manis sambil memperhatikan penjual itu memasak martabak pesanan mereka.
"Manisnya, udah pengen banget ya sampai mangap begitu?" goda Satria sambil mencolek hidung Rahel membuat gadis itu menoleh lalu sedetik kemudian memalingkan wajahnya dan kembali fokus menatap penjual martabak yang dengan lihainya memasak martabak pesan ke mereka.
"Hehehehe aku salut melihat penjual martabak itu," ucap Rahel ," tangannya bisa sampai secepat itu, mereka benar-benar hebat," ujar Rahel dengan tatapan kagum.
"Hahahah ku pikir apa tadi," ucap Satria.
tak beberapa lama pesanan mereka selesai dimasak,
"Ini den sudah selesai," ucap penjual itu.
Satria dan Rahel menerima pesanan mereka lalu melakukan pembayaran .
Setelah membeli martabak yang mereka inginkan Rachel dan Satria, melaju menuju rumah besar keluarga Fahrenheit.
30 menit perjalanan mereka akhirnya tiba di rumah keluarga Fahrenheit. Rumah besar yang lebih cocok jika disebut sebagai Mansion berdiri kokoh menjulang ke atas langit.
"Ayo sayang," ajak Satria sambil menggandeng tangan istrinya sedangkan tangan yang lain membawa wadah tempat makanan.
"Wahh besar sekali, ini rumah atau gedung hotel sih?" celetuk Rahel membuat Satria tersenyum mendengar ucapan istrinya.
"Rumah sayangku, udah ayo masuk!"
Mereka berdua di sambut dengan kegembiraan oleh para pelayan, mereka benar benar bahagia akhirnya tuan mereka membawa seorang wanita ke rumah.
"Wahhh tuan kita benar benar normal!!" celetuk para pelayan yang mengintip dari balik pintu.
"Tuan membawa wanita, benar benar seorang wanita!!"
"Kupikir pernikahan waktu itu bohong!"
"Wahh apa itu benar benar manusia? dia sangat cantik!"
Par pelayan bergunjing dengan kedatangan Rahel di rumah keluarga Farenheit, mereka semua senang akhirnya tuan mereka normal.
.
.
.
gak tuan dan nyonya besar , gak anaknya, gak menantunya, gak pelayannya sama sama absurd!
ehh jangan jadi pembaca gaib ya readers sayang, kasih like, vote juga sama komentar juga ya , terimakasih
__ADS_1