
Setelah mendengar penuturan mereka, Ken langsung mengeluarkan Laptopnya yang biasa dia gunakan untuk mencari tau sesuatu seperti kasus Sabrina.
Mereka semua kini berada di ruang kerja. Satria dan Rahel bergabung bersama mereka, Satria cukup terkejut karena orang yang dimaksud Jonathan adalah sepupunya sendiri, ternyata dunia ini begitu kecil pikirnya.
"Tak kusangka ternyata kau orang yang dimaksudkan, kenapa kau ada disini?" tanya Satria.
"Aku ada urusan sebentar Sat, tadi pagi aku kesini, dan saat mau pulang dia meneleponku, langsung saja aku terbang kesini," jelas Ken.
"Terbang?" ucap Cika.
"Naik Heli maksudnya," ucap Ken lagi dan dibalas anggukan kepala oleh mereka semua.
Ken pun memulai pencariannya, namun hanya sedikit bukti yang bisa dia temukan dan akan sulit jika seperti ini.
Dia berusaha mencari lagi bukti bukti yang sudah hangus, namun tidak di temukan juga.
Ken mengusap wajahnya dengan kasar, dia memijit pelipisnya berusaha mencari jalan untuk menemukan bukti yang dihapus oleh V.R grup.
"Ahhhh seperti nya kita harus menghubungi Luna dan yang lainnya," ucap Ken.
"Luna?" tanya Dad Bram.
"Ya Nana Paman, dia yang terbaik untuk masalah seperti ini," jelas Ken dengan percaya diri .
"Bagaimana bisa? " tanya Mom Ayu.
"Tentu Bisa Bi, dia yang terbaik, bahkan aku dan timku saja dikalahkan oleh wanita itu, dia benar benar menakjubkan," ucap Ken.
"Baiklah, segera hubungi dia,kita harus langsung menemukan bukti itu lalu menghajar bajingan yang telah berani melukai Sabrina!!"ucap Dad Bram .
Rahel tampak duduk di kursi di dekat suaminya, dia menyandarkan kepalanya di bahu Satria sambil mendengarkan penuturan mereka semua.
"Apa kau mengantuk?" bisik Satria namun di balas gelengan kepala oleh Rahel. "Aku hanya suka dengan posisi ini," bisik Rahel yang tentu saja berhasil membuat Satria tersenyum.
Ken menghubungi Luna dengan melakukan panggilan video yang di hubungkan ke laptopnya.
"Halo.... ehh... Ekhmmm heheheh," Luna terkekeh di seberang sana saat menyadari ada banyak orang yang menatapnya di layar ponselnya, padahal dia sedang makan sate sambil duduk lesehan di depan tv di ruang santai rumah besar Park.
Mereka semua tersenyum melihat tingkah manis ibu hamil itu.
"Heh sedang makan apa? enak sekali seperti nya hmm?" tanya Ken dengan senyuman bahagia saat melihat wajah adiknya.
Luna tersenyum sambil mengangkat satenya di depan kamera ponselnya. "Makan Sate kak, mau ???heheheh.."" kekeh Luna dengan senyum sumringah yang ditanggapi mereka dengan senyuman.
"Ada apa kak? kakak kok bisa di tempat Paman dan Bibi?" tanya Luna sambil meletakkan ponselnya di meja.
__ADS_1
"Gini Na, ada masalah sama Sabrina," ucap Ken dengan wajah sendu.
"Sabrina? mana dia? masalah apa? apa yang terjadi padanya? " tanya Luna dengan tatapan serius.
"Sabrina disini kok, Dek kemari dipanggil untuk Kak Nana," ucap Ken sambil menoleh ke arah Sabrina yang duduk di dekat Rahel dan Satria.
Sabrina melangkahkan kakinya, dia menatap layar laptop Ken, seketika itu dia tersenyum melihat Luna di layar itu.
"Hai Sabrina!!" seru Luna sambil tersenyum manis, Ibu hamil ini memang sangat suka tersenyum membuat hati siapa pun menjadi hangat.
"Loh kenapa dengan wajahmu? rambutmu pendek, terus kulitmu merah kebiruan, ada apa hmm? kamu baik baik saja?" tanya Luna yang langsung bisa melihat bekas luka di tubuh Sabrina.
Sabrina menundukkan kepalanya, "Kak jelaskan apa yang terjadi kenapa dengan Sabrina? apa yang terjadi pada Sabrina?" tanya Luna dengan wajah khawatir.
"Jadi gini Na...."
Mereka pun menjelaskan kejadian sebenarnya kepada Luna, semua kronologi kejadian mereka jelaskan dengan benar benar detail.
Mendengar hal itu, Luna benar benar terkejut sekaligus marah saat sang adik sepupu mengalami kejadian mengerikan itu. Sebagai seorang wanita, tentu dia paham kalau Sabrina pasti trauma dengan kejadian itu, dia juga benar benar tidak menyangka kalau adik sepupunya menjadi korban pelecehan bahkan sampai dijual kepada pria hidung belang.
"Berani sekali mereka," geram Luna.
"Baiklah akan kucari tahu kak," ucap Luna.
"Sabrina kamu jangan khawatir kakak akan cari tau semuanya, jangan takut, yang perlu kamu persiapkan saat ini adalah diri kamu untuk membalas semua kejahatan mereka, jangan takut, kami disini mendukungmu," ucap Luna .
"Nah begitu dong harus kuat ya, maaf kakak gak bisa kesana, lihat nih perut kakak udah besar kayak balon, ponakan kamu makin berat soalnya heheh," kekeh Luna sambil mengusap perut buncitnya.
"Iya kak gak apa apa, kaka sehat sehat ya, Dede bayinya juga harus sehat," ucap Sabrina dengan senyuman manis di wajahnya yang tak pernah lepas saat berbicara dengan Luna.
"Mana kakak kamu?" tanya Luna.
"Bang Saaattt, mana Bang??" panggil Luna dari telepon itu.
Mereka semuanya Tertawa mendengar panggilan Luna pada Satria lain halnya dengan Satria, dia malah menekuk wajahnya karena kesal. Luna akan selalu memanggilnya dengan panggilan itu dan selalu saja berhasil membuat Satria kesal.
"Heh apa sih na, bukan Bangsat tau, jelek banget nama ku kamu panggil begitu," ketus Satria yang bangkit berdiri dan menatap layar laptop itu, sedangkan Rahel masih duduk di sofa.
"Hahahah kan gak salah loh bang Sat, iya kan Paman, Bibi, orang namanya Bang Satria heheheheh,," Ucap Luna terkekeh.
"Pfftttthhh.... hahahaha kamu benar sayang, astaga Mom jadi merasa bersalah karena telah memberikan nama itu pada Satria," ucap Mom Ayu meledek anaknya sendiri.
"Ihhkk Mom bukannya belain anaknya malah diejek, gimana sih Mom," rengek Satria sambil menarik narik lengan Mom Ayu.
"Heh jangan tarik tarik lengan istriku, nanti sakit," ucap Dad Bram langsung menarik mom Ayu ke pelukannya.
__ADS_1
"Cieee hahahhahahahah," mereka semua Tertawa terbahak-bahak dengan tingkah mereka masing.
Rahel menatap mereka semua dengan tersenyum, dia bisa merasakan kehangatan yang namanya keluarga di rumah ini.
Jenny menatap Sahabatnya yang tampak nya akan menangis karena mata Rahel mulai berkaca kaca.
Dengan segera dia mendekati Rahel dan memeluk Rahel dari samping.
"Kenapa Ra?" tanya Jenny dari samping Rahel.
"Aku bahagia Jen, aku benar benar merasa hangat disini, tertawa bersama, benar benar keluarga yang aku impikan Jen," ucap Rahel dengan tangis haru.
"Husshh jangan menangis Ra, kamu berhak buat bahagia, aku tau perjuangan kamu selama ini, kamu berhak buat dapatkan semua ini, jangan menangis lagi ya," ucap Jenny sambil mengusap air mata Rahel.
"Terimakasih karena selalu ada di sampingku Jen, aku bersyukur punya sahabat sebaik kamu," ucap Rahel.
"Iya aku tau, aku yang paling hebat iya kan, namanya juga Jenny, pasti hebat ," ucap Jenny sambil tersenyum bangga di depan Rahel.
"Hahahahah kamu mah terlalu narsis," ledek Rahel.
"gak papa narsis yang penting asik iya kan hahahaha," Jenny tertawa di samping Rahel.
"Jen minggir, itu tempatku, syuh syuh..." ucap Satria sambil mengibaskan tangannya.
"wleekkk... gak mau Pak Satria, ini tempatku," ucap Jenny meledek Satria sambil mengeratkan pelukannya pada Rahel.
"Ck... kekanakan!" ejek Satria yang duduk di sisi lain Rahel namun langsung disalip oleh Cika yang malah ikut ikutan memeluk Rahel.
Brukk
"Sana, jangan dekat dekat, aku mau peluk kakak iparku," ucap Cika sambil memeluk Rahel dari sisi lain sembari dia mendorong Satria dengan kakinya hingga pria itu jatuh ke lantai.
"Hahahhahahahaha," mereka semua tertawa melihat Satria yang cemburu karena istrinya dipeluk gadis gadis itu.
"Cika..... Jennyyyyyy!!!" teriak Satria namun di balas dengan juluran lidah oleh mereka berdua.
Keluarga mereka benar benar menyenangkan," batin Jonathan
.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 😉😉😉