
Bastian berjalan dengan wajah kesal, dia mengepalkan kedua tangannya dengan perasaan campur aduk Karena kejadian tadi.
Dia berjalan begitu saja tanpa menghiraukan karyawan yang menyapanya, bahkan sekretarisnya pun dicuekinya.
"Loh Pak Bastian kenapa lagi ya?" batin Nancy yang melihat atasannya berjalan dengan wajah kesal.
Pria itu masuk ke dalam ruangannya dengan hati yang kacau.
"Cih...sialan, kenapa setiap bertemu perempuan itu aku selalu dalam masalah, kenapa aku harus bekerja dengannya ahhhh sialan!!" gerutu Bastian.
Beberapa menit lalu sebelum terjadi kejadian yang tak diinginkan, Bastian sedang berjalan sambil mengecek dokumen di dalam ponselnya, sampai tiba tiba seseorang menubruk nya dari depan dan menyarankan ponselnya jatuh begitupun dengan dirinya.
Bastian duduk di dalam ruangannya dengan wajah kesal.
"Apa aku terlalu kejam padanya tadi? ini juga kan salahku karena tidak memperhatikan dia, ck.. arhhh kenapa aku kepikiran wajahnya yang sudah hampir menangis tadi," gumam Bastian sambil memijit keningnya.
"Ahhh sial, terserah, dia juga salah, buat apa coba dia jalan mundur seperti itu, mana ponselku hancur lagi, untuk filenya kugandakan, ahhh dasar gadis ceroboh!!!" gerutu Bastian.
Sementara itu Rahel membawa Jenny menuju ruangan kerja mereka.
Wajah Jenny benar Benar sedih dengan kejadian tadi, salah sendiri kenapa jalan mundur begitu.
"Loh Jen kenapa?" tanya Bella sambil menghampiri mereka.
"Jenny tadi di bentak Pak Bastian Bel!" ucap salah satu rekan kerjanya yang melihat kejadian tadi.
"Husshh sudah jangan di bahas, ini dokumennya kalian coba cek dulu biar aku tenangin Jenny dulu," ucap Rahel sambil menyerahkan dokumen yang mereka bawa tadi.
"Kok bisa Ra?" tanya Bella penasaran.
"Dia jalan mundur terus gak sengaja nubruk Pak Bastian, mana ponsel pak Bastian pecah lagi," jelas Rahel.
"Astaga Jen, haduh ya udah kamu tenangin dia duku aku mau bantu yang lain ya," ucap Bella yang dianggukkan oleh Rahel.
"Sabar Jen, pak Bastian emang terkenal sering nge bentak, jangan bawa ke hati," ucap Bella yang hanya di balas anggukan kecil oleh Jenny.
Bella pergi kini tinggal Jenny dan Rahel di sudut ruangan itu.
"Ra gimana dong ini, gimana kalau sampai proyek itu batal karena kecerobohanku, aku merasa bersalah banget nih," ucap Jenny dengan wajah sedih, matanya mulai menganak sungai apalagi mengingat bagaimana marahnya Bastian tadi.
"Huffft makanya jangan ceroboh, kena kamu kan, ck... kamu minta maaf gih sama Pak Bastian, selesaikan masalah kalian, jangan sampai kalian berantem gara gara hal ini," ucap Rahel.
"Tapi Ra aku takut," ucap Jenny sambil menggenggam tangan Rahel.
Satria yang kebetulan mencari Istrinya melihat mereka duduk disana, dengan segera pria itu menghampiri mereka.
Satria duduk di samping Rahel, dia menatap heran pada Jenny yang tengah menangis.
"Leh ada apa sayang? kenapa Jenny menangis?" tanya Satria.
"Tadi dia dibentak sama Pak Bastian, salah dia juga sih gak hati hati jalannya sampai dia nubruk Bastian, ponselnya pecah gara gara hal itu, katanya lagi ngerjain proyek besar," jelas Rahel.
"Ohh... pantes dia marah, tu anak emang gak boleh diganggu pekerjaannya, kalau udah gitu kamu harus minta maaf Jen, dia kerjanya profesional dan sangat menghargai waktu, makanya dia marah ya karena pekerjaan nya jadi terganggu," jelas Satria.
"Ta.. tapi pak, gimana kalau proyeknya hancur gara gara saya, Sa...saya gak bisa ganti kerugiannya, sa.. saya minta maaf karena sudah ceroboh," lirih Jenny dengan deraian air mata.
__ADS_1
"Gimana dong ini?" bisik Rahel yang tidak tega melihat sahabatnya menangis sedih seperti itu.
"Kamu bicara sama Bastian, kamu minta maaf aja, biar dia yang tentuin gimana nanti, gak usah takut paling dia juga cuma nge bentak, kalau dia gak ngambil tindakan nanti akan kubantu," ucap Satria.
"Tapi saya takut Pak," lirih Jenny.
"Jen, kamu yang buat masalah ya kamu yang harus selesaikan, ayo jangan jadi pengecut, Jenny yang ku kenal gak lemah seperti ini!" ucap Rahel menguatkan sahabatnya.
"Ck... hiks hiks hiks, bagaimana aku akan minta maaf pada Pak Bastian, dia pasti sangat marah," lirih Jenny.
"Udah Jen sana gih, kamu pasti bisa," ucap Rahel memberikan dukungan pada sahabatnya.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi Pak Satria, Rahel," ucap Jenny sambil menekuk wajahnya.
Rahel menatap punggung Jenny yang tampak lesu, padahal semua ini terjadi karena ulahnya sendiri yang tidak berhati hati sehingga menyebabkan masalah untuk dirinya sendiri.
"Dasar gadis itu, dia selalu ceroboh seperti ini," ucap Rahel.
"Aku tak yakin bagaimana nasibnya saat bertemu Bastian nanti, pria itu sangat tempramental apalagi jika sudah berhubungan dengan pekerjaan dia akan sangat sensitif," ujar Satria.
Pukk
Rahel menepuk lengan Satria dengan wajah kesal.
"Kenapa baru bilang sekarang? aduh gimana sih kamu, terus Jenny gimana dong nanti," gerutu Rahel.
"Heheheh ya biar dia hadapi sendiri Ra, kan dia yang salah, ya udah yok keluar dulu kamu temani aku ketemu klien," ucap Satria.
"Loh kenapa ajak aku, mending ajak Bella, Nia atau siapa yang lebih berpengalaman apalagi ini ketemu Klien Satria," ucap Rahel sambil menatap Satria bingung.
"Ya udah bentar aku ambil ponsel sama tas dulu," ucap Rahel yang di balas anggukan kepala oleh Satria.
Setelah mengambil barang barangnya Rahel dan Satria segera berangkat menuju tempat pertemuan dengan klien yang akan mereka hadapi.
"Ra kamu baca dulu dokumennya siapa tau dia tanya tanya ke kamu, biar bisa jawab," ucap Satria sambil memasang seat belt istrinya.
"Dokumennya yang di map biru ini ya?" tanya Rahel sambil mengangkat Map berwarna biru di tangannya.
"He... em, kamu pelajari sedikit," ucap Satria sambil menyalakan mobilnya.
Mereka melaju dari kantor Grup Farenheit menuju tempat pertemuan.
"Emm Satria, produk ini kapan akan diluncurkan?" tanya Rahel yang fokus dengan dokumen penting di tangannya.
"Itu peluncurannya dua Minggu lagi, produk itu milik perusahaan salah satu temanku yang tinggal di Jakarta, mereka punya anak perusahaan disini, jadi mereka mempercayakan produk mereka untuk kita pasarkan," jelas Satria.
"Hmmmm.... hebat ya teman kamu, bisa ciptakan produk kacamata ini," ucap Rahel.
"Aku justru bingung kenapa dia mengeluarkan produk kacamata buta warna ini, dia memang selalu saja aneh," ucap Satria.
"Heh gak boleh gitu," tegur Rahel.
"Hehehe kau akan lihat seaneh apa manusia yang satu ini Ra," ucap Satria sambil tersenyum.
Mereka melaju menuju sebuah toko penjual aksesoris yang cukup terkenal, salah satu toko cabang yang ditempatkan di Yogyakarta.
__ADS_1
"Kita sudah sampai, ayo masuk," ajak Satria yang di balas anggukan kepala oleh Rahel.
Satria dan Rahel masuk ke dalam toko itu dan disambut oleh pegawai toko itu.
"Selamat datang tuan, nona,ada yang bisa saya bantu?" tanya pegawai itu.
"Saya mau bertemu Aiden, dia di ruangannya kan?" tanya Satria.
"Kalau boleh tau dari mana tuan?" tanya pegawai itu.
"Perusahaan Farenheit," jawab Satria singkat.
"Ahh silahkan masuk tuan, beliau sudah menunggu Anda!" ucap pegawai itu.
Satria dan Rahel masuk ke dalam toko itu, pria itu sudah hapal ruangan disana.
Saya mereka masuk terdengar suara musik yang sangat keras membuat Satria dan Rahel saling menatap.
Dum.. tas... Dum..tas... Dum.. dumtas...
"I feel good.... tenenenenet... i feel good... so good ... tum tas.. so... good.... i gotta youuuuu...
"
Terdengar seseorang bernyanyi mengikuti alunan musik yang di putar sangat keras.
"So good yeahhh... wohooo.... ha... ha.. yuhuuuuu!!!" teriaknya kegirangan.
Tap, klek
Satria memutus sambungan listrik ke pemutar musik itu lalu berdiri berkancah pinggang menatap temannya yang sangat konyol itu.
"Eh sapa yang setop sihhh..." ucap pria itu sambil berbalik.
"Asik banget ya joget joget kayak orang gila sampai klien sendiri gak dilihat!" ledek Satria.
"Woh... udah datang bro, pulang sana hahahaha," kekeh Aiden, pria tampan dengan wajah lembut sekaligus tegas tapi sayang udah gak jomblo lagi.
"Ck.. ya udah,yok pulang Ra," ajak Staria sambil menarik tangan istrinya.
"Eh.. eh.. eh.. kau aja yang pulang, kakak ipar jangan pulang hahahhahahahah," kekeh Aiden.
"kakak ipar? siapa sebenarnya pria aneh ini? jangan bilang dia klien kami?" batin Rahel menatap bingung pada Aiden.
"Ck... dasar manusia kampret," ketus Satria.
"Hahahah ya udah duduk dulu duduk dulu, " ucap Aiden.
.
.
.
like, vote dan komen 😉😉😊😉
__ADS_1