Istri Cantik Suami Bucin

Istri Cantik Suami Bucin
PC 32 (Bekas?)


__ADS_3

Satria menarik tangan Rahel dengan lembut ke dalam kamar mereka, tampak Satria mengulum senyumnya saat melihat karya hasil penjelajahan nya semalam masih terlihat jelas di leher Rahel.


"Kenapa Satria?" tanya Rahel bingung.


"Ini leher kamu," ucap Satria sambil mendudukkan Rahel di depan meja rias dan menunjukkan bekas jejak penjelajahannya semalam.


"Ohh mungkin di gigit nyamuk atau alergi karena di badan aku banyak," ucap Rahel dengan polosnya hingga membuat Satria tertawa terbahak-bahak.


"Pfftttthhh bwahahhahahaha," Satria tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban polos istrinya yang mengira kalau dia tekena alergi.


"Kenapa ketawa Satria?" tanya Rahel bingung.


"Apa kamu betul betul gak tau itu bekas apa Rara?" tanya Satria masih terpingkal-pingkal bahkan wajahnya sampai memerah.


"hahahahahah"


"Paling digigit nyamuk," ucap Rahel dengan polos.


"Huahahahahahahhaha astaga Ra ahahahaha kau membuatku sakit perut hahahahahah," Satria tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa sih?" tanya Rahel yang benar-benar tidak paham dengan maksud Satria.


"Hahahah, hufff... hadehhh... sini biar ku jelaskan," ucap Satria sambil memutar tubuh Rahel dan menghadap cermin.


Satria mendekatkan bibirnya ke leher jenjang Rahel dan...


Cup


Satria melakukan persis seperti yang dilakukannya semalam dan meninggalkan bekas merah itu disana membuat mata Rahel terbelalak kaget dengan apa yang dilakukan Satria.


"Satria, jadi me...rah... haaa??" ucap Rahel terbelalak.


"Sama kan, jadi sekarang udah tau bekas itu dari mana?" tanya Satria dengan jahilnya.


"Arhhhh Satriaaaaa!!!" kesal Rahel sambil menutup wajahnya yang memerah karena malu.


"Hahahahahahah," Satria tertawa terbahak-bahak.


"Lalu yang diperutku? di betis? di paha di punggung sama... arhhhhh" Rahel semakin terkejut apalagi saat dia sampai di bagian dadanya.


"Banyak sekali tandanya Satria," rengek Rahel.


"Maafkan aku," ucap Satria sambil mengambil sesuatu dari meja rias.


"Haisshh kenapa gak bilang bilang tadi, aku kan jadi malu sama Mom dan Dad ada Sabrina lagi," keluh Rahel.

__ADS_1


"Maaf ya, apa aku keterlaluan?" tanya Satria merasa bersalah.


"Huffft sedikit, jujur aku kesal Satria, arhh nanti dikira aku perempuan apaan punya banyak bekas seperti ini," ucap Rahel.


"Maaf ya maaf, ya udah bentar aku tutupin dulu bekasnya," ucap Satria sambil mengoleskan foundation itu ke leher sang istri.


"Sudah selesai, yuk keluar, udah lapar nih," ucap Satria sambil merangkul bahu Rahel.


Mereka pun keluar dan melanjutkan sarapan pagi mereka yang terganggu akibat bekas gigitan gigitan nyamuk besar itu.


"Kapan kalian ke rumah utama Satria? Mom dan Dad gak bisa berlama lama disini, banyak urusan soalnya," tanya Mom saat mereka semua telah selesai makan pagi.


"Pelan pelan Mom, Dia juga belum tau apa apa tentang Satria, tunggu ya pelan pelan," jawab Satria sambil melirik Rahel yang sedang membersihkan piring kotor bersama Sabrina.


"Pokoknya segera bawa istri kamu ke rumah, Mom gak mau menantu Mom terus terusan dalam bahaya, jangan sampai mereka tau kamu menikah dengan Rahel sebelum rencana kita berhasil, Mom gak mau Rahel kenapa-kenapa nanti, dan sebaiknya kamu beritahukan semuanya pada Rahel," jelas Mom Ayu.


"Ya Mom benar, kamu harus jujur pada istrimu Satria, Dad takut dia mendengar yang tidak tidak dari orang lain sehingga kepercayaannya hilang terhadap dirimu,"


"Dalam rumah tangga, keterbukaan adalah hal yang sangat penting, Dad gak mau terjadi apa apa pada menantu Dad!" tambah Dad Bram.


"Jiah ngomong mah enak ya, terus apa alasan mom dan Dad menjebak kami hmmm sampai dua kali loh Mom,Dad, Gimana kalau Rahel sampai panik dan melakukan hal yang sama seperti beberapa waktu lalu lagi? cara kalian terlalu ekstrem!" kesal Satria.


"Kalau Satria gak peka, bisa bisa kita gak bakal lihat Rahel lagi di rumah ini saat ini juga, jadi Satria mohon jangan membuat sesuatu yang resikonya tinggi Mom, Dad," ucap Satria lagi.


Mom Ayu dan Dad Bram saling menatap, benar apa yang dikatakan anak mereka, jika Satria tidak peka, bisa saja Rahel sudah menghilang dari dunia ini.


"Huffft..." Satria menghela nafasnya.


"Satria emang gak mau nikah Mom,Dad, tapi alasan utama Satria gak mau nikah sudah kembali dan dia adalah Rahel anaknya Om Raiden," ucap Satria.


"Satria sebenarnya mau menikah asalkan bersama dengan anaknya om Raiden yang bahkan Satria belum tau siapa dia dulu bahkan rupanya saja Satria nggak tau," jelas Satria.


"Ada Janji yang harus Satria tepati pada Om Rai yaitu menjaga anaknya sampai akhir hayat Satria," jelas pria itu dengan suara bergetar mengingat kejadian sepuluh tahun yang lalu.


"Dan ternyata Tuhan pertemukan Satria dengan cara yang unik dengan Rahel, tanpa kalian paksa pun Satria akan tetap mendampingi Rahel," jelas Satria.


Mom Ayu dan Dad Bram saling menatap, ternyata anak mereka punya alasan sebesar itu.


" Tapi kan sekarang nggak apa apa kan Satria? ya udah sih, Dad dan Mom cuma mempercepat jalannya supaya kalian cepat nikah, jadi nikmati aja!" Balas Dad Bram.


"Ya iyalah dinikmati Dad, udah begini juga," jawab Satria.


Sementara itu di dapur tampak Rahel dan Sabrina sama sama canggung, Rahel yang sebenarnya mudah diajak bicara menjadi kaku saat melihat wajah dingin dan datar adik iparnya.


"Apa dia tidak menyukaiku?" batin Rahel sambil melirik ke arah Sabrina yang terlihat fokus pada piring yang di bersihkannya.

__ADS_1


Sabrina melirik Rahel yang tampak sesekali menatapnya, dia juga gugup dan merasa canggung.


"Apa kakak ipar tidak menyukaiku? kenapa dia diam saja?" batin Sabrina.


Sabrina terus melirik Rahel, dia benar benar ingin bicara pada kakak iparnya yang cantik itu namun mulutnya tak bisa terbuka seolah ada sesuatu yang menahan dirinya.


"Sabrina.." panggil Rahel.


Pranggg


Karena terkejut dipanggil saat dia asik melamun, Sabrina menjatuhkan sebuah gelas hingga pecah dan berserakan di atas lantai.


"Eh... aduh ma... maaf kak," ucap Sabrina benar benar gugup, dia langsung berjongkok dan memungut beling itu.


"Jangan pakai..." belum sempat Rahel berbicara, tangan Sabrina sudah menjadi korban pecahan beling itu.


"Awhhhh... ssshhhh...," Sabrina meringis kesakitan, saking gugupnya dia tak sengaja menyentuh pecahan beling yang tajam dan menekannya dengan kuat sehingga menggores jari telunjuknya cukup dalam.


"Aduhh... kenapa pakai tangan Sabrina, sini kakak lihat, ayo kamu berdiri," ucap Rahel sambil membantu Sabrina berdiri dan membawanya duduk di atas kursi Yanga ada pada ruang dapur itu.


"shhhh.. ini pasti sakit," ucap Rahel sambil mengambil tissu dan memberikannya pada Sabrina.


"Tahan dulu pakai ini, bentar kakak bersihin pecahan belingnya," ucap Rahel yang dengan cepat dan ligat membersihkan pecahan beling itu sampai tuntas.


Setelah bersih, Rahel mengambil kotak obat yang diletakkan di laci dapur itu lalu duduk di samping Sabrina.


" Sini kakak obatin ," ucap Rahel dengan lembut.


"Biar Aku aja kak," ucap Sabrina.


"Sssttt... udah diem, jangan bandel, biar kakak yang obatin dasar ceroboh, untuk lukanya gak sampai parah benget, lain kali kalau ada pecahan seperti itu jangan langsung dipegang, begini kan jadinya," kesal Rahel.


Sabrina terdiam, dia benar-benar gugup di dekat kakap iparnya sendiri.


Dengan telaten Rahel membersihkan luka di ujung jari Sabrina.


"Udah beres, lain kali hati-hati ya," ucapan Rahel sambil tersenyum lembut.


"Ada apa Ra?" ucap Satria yang langsung berlari ke dapur dengan wajah panik.


"Terlambat Satriaaa," jawab Rahel.


.


.

__ADS_1


.


like, vote dan komen 😉😉😊😊


__ADS_2