
"Husshhh.... Jangan takut dek, ada kakak, ada Mom dan Dad ada kak Satria ya v akan jagain kamu,"ucap Rahel.
"Siapa yang melakukan ini?" Tanya Rahel pelan.
Namun Sabrina masih diam, " hmmm... Kamu sebaiknya istirahat, kalau kamu udah siap buat cerita hubungi kakak, nanti kakak tinggalkan nomor kakak disini," ucap Rahel.
"Hiks hiks hiks, maaf Kak" cicit Sabrina.
"Udah gak masalah, kamu tidur dulu ya biar badannya enakan, jangan sedih lagi,"ucap Rahel sambil membantu membaringkan tubuh Sabrina.
Lama dia menemani Sabrina dan menunggunya sampai terlelap. Hingga sebua ketukan mengejutkan dirinya.
Dia membuka pintu itu, tampak wajah tiga anggota keluarga yang khawatir dan penasaran dengan kondisi Sabrina saat ini.
"Bagaimana kondisinya?" Tanya Dad Bram.
"Sabrina baru aja tidur Dad, sebaiknya biarkan dia istirahat hari ini, dan ... Emm tidak itu saja, Sabrina hanya butuh istirahat, " ucap Rahel.
" Mom pengen lihat boleh kan?" Ucap Mom Ayu lagi lagi langsung menerobos karena rasa paniknya sampai dia sedikit mendorong tubuh Rahel.
"Eh.. "
"Tahan Ra, jangan disini, jangan sekarang," batin Rahel sambil menelan air matanya kuat kuat.
"Ra kamu kenapa? Kamu pucat," ucap Satria khawatir.
"Em... Gak apa apa, aku mau pulang Sat, bisa kan? Aku mau istirahat," ucap Rahel pelan .
"Pulang? Kita nginap disini aja, Sabrina masih sakit aku gak bisa ninggalin dia," ucap Satria yang membuat Rahel tak bisa menolak jika alasannya adalah Sabrina.
"Eh... Baik terserah kamu," jawabnya pelan.
"Ada apa?" Tanya Satria namun cepat cepat Rahel menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lembut seperti biasanya padahal hatinya menangis.
"Ya sudah kamu ke bawah, kamar kita di bawah tanya aja sama pak Gio," ucap Satria yang dibalas anggukan kepala oleh Rahel.
Rahel turun dengan wajah lemah menahan sakit kepalanya dan sesak di dadanya.
Satria yang khawatir dengan adiknya langsung masuk ke kamar tanpa mengantar Rahel ke kamar mereka.
Rahel merogoh kantongnya dilihatnya pecahan lima puluh ribu dan seratus ribu, dia benar benar ingin pulang ke rumah.
"Ada apa nona?" Tanya Pak Gio.
"Eh Pak saya keluar dulu, bilang aja saya keluar nanti saya telepon sama Satria, ada urusan mendadak," ucap Rahel dengan ramah pada Pak Gio.
"Tapi ini udah malam nona, gak baik keluar sendirian," ucap Pak Gio.
__ADS_1
"Naik taksi Pak, lagian masih jam 8 malam kok, ya udah Rahel permisi ya," ucapnya yang dianggukkan oleh Pak Gio.
Rahel melangkah lunglai, dia memesan taksi beberapa menit taksinya datang, entah kenapa dia merasa sangat kacau hari ini, rasanya benar benar menyedihkan, padahal tak biasanya dia begitu.
"Mau kemana non?" Tanya pak Supir.
"Ke jalan Nilam pak, nanti saya bilang berhenti dimana" ucapnya.
Taksi melaju menuju tempat yang Rahel maksud, dia sampai di rumahnya dan juga rumah Satria tempat dimana dia tinggal saat ini.
"Terimakasih pak," ucapnya setelah membayar ongkos taksinya.
Rahel membuka pagar lalu masuk ke pekarangan rumahnya, dia mengeluarkan kunci rumahnya dan masuk ke dalam rumah itu setelah memastikan mengunci dnegan benar.
Seketika itu air mata Rahel tumpah, hatinya begitu kacau, dia menangis sejadi jadinya, perasaan tertolak dan tidak dihiraukan menghantui hatinya.
Rahel masih belum sembuh sepenuhnya dari luka hatinya oleh karena itu dia benar benar sensitif dan mudah tersinggung, kondisi mentalnya adalah sesuatu yang harus di perhatikan dengan seksama.
Seseorang yang memiliki riwayat bunuh diri dan depresi di masa lalu cenderung lebih mudah tersinggung dan sakit hati, hal itu lah yang terjadi pada Rahel saat ini.
Hati dan pikirannya melayang kemana-mana, dia butuh sandaran, dia butuh teman hanya saja dirinya tak mau menyusahkan sahabat Jenny, dia tak mau mengganggu suaminya Satria apalagi mengganggu kedua mertuanya.
"Hiks hiks hiks. Mommyyyy, Daddyyyy Rahel kangen kenapa gak pulang pulang ke rumah, Rahel kangen, hiks hiks, kalian kemana? Kenapa ninggalin Rahel," dia menangis sejadi-jadinya menumpahkan rasa sedih di dalam hatinya.
Rahel berjalan dengan lemah, dia menatap kamarnya dan Bastian, dia malah memilih naik ke lantai dua dimana kamarnya terletak sebelum menikah dengan Satria.
Rahel menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, dia meringkuk dan menangis disana dengan hati yang benar benar hancur.
"Apa aku tidak berharga? Ahhh kenapa aku seperti ini? Ada apa denganku, aku lagi lagi merasa diabaikan, aku lagi lagi merasa tertekan hiks hiks hiks" tangis gadis itu.
"Apa aku memang tidak layak disayangi? Aku cuma mau membantu tapi kenapa ... Kenapa begitu? Hiks hiks hiks" dia menangis tersedu-sedu sambil memeluk kakinya.
"Aku ingin bangkit, baru saja aku menemukan alasan untuk hidup tetapi aku kembali jatuh, kenapa seperti ini, tak ada yang berjalan lancar bagiku hiks hiks hiks," dia menangis terus menerus.
Lama dia menangis sampai akhirnya dia terlelap karena lelah hati dan pikiran.
Sementara itu di kediaman keluarga Farenheit sedang terjadi keributan saat Satria tidak menemukan istrinya di dalam mansion besar itu, kali ini dia benar benar Panik karena Rahel terlihat murung sejak tadi namun kesalahannya membiarkan wanitanya pergi sendirian.
"Pak Giooo..." Teriak Satria yang sontak membuat Pak Gio berlari menghampiri tuan mudanya.
"Ada apa tuan?" Tanya Pak Gio yang tergopoh gopoh mendekati Satria sat mendengar suara pria itu memanggil manggil Rahel.
"Rahel dimana? Kenapa tidak ada di kamar?" Tanya Satria berusaha tetap tenang.
"Loh ada apa Satria? " Tanya Mom Ayu dan Dad Bram yang baru turun dari kamar Sabrina.
"Rahel gak ada Mom," ucap Satria panik, dia benar-benar takut ada apa apa dengan istrinya padahal dia sendiri yang membiarkan Rahel.
__ADS_1
"Bukannya nona muda sudah menghubungi tuan? Tadi katanya nona muda keluar, ada urusan penting," ucap Pak Gio memberitahukan pesan dari Rahel.
"Ya ampun, gak ada dia gak bilang apa apa selain itu Pak?" Tanya Satria yang kini berwajah pias, dia menyesalkan tindakannya yang kurang peka tadi saat melihat istrinya berwajah murung.
"Mom sebenarnya ada apa? kenapa setelah keluar dari kamar Sabrina tadi dia jadi murung? " Tanya Satria dengan wajah panik.
"Nggak terjadi apa apa... " Ucap Mom Ayu yang masih belum juga sadar dengan apa yang dia lakukan tadi.
Satria mengusap kasar wajahnya, dia benar benar kacau saat ini, istrinya pergi sendirian padahal sudah minta pulang beberapa saat tadi.
"Ahhhh ya sudah aku pulang dulu, Mom Dad besok aku kesini lagi, aku takut ada apa apa dengan Rahel, " ucap Satria.
" Iya kamu hati-hati ," ucap Mom sedang Dad Bram hanya diam saja tampan dia tau sesuatu hanya saja menunggu agar istrinya yang sadar dengan kesalahannya.
Satria melajukan mobilnya menuju ke rumah kecilnya di dekat perusahaan, dia berusaha menelepon ponsel Rahel tapi tidak juga diangkat membuat dirinya semakin panik.
"Ra ada apa? Maaf aku gak peka, seharusnya aku sadar kalau kamu gak nyaman sejak tadi," gumam Satria.
20 menit perjalanan, akhirnya Satria sampai di rumahnya.
Dengan terburu-buru dia membuka pintu dan masuk ke rumah, dia melihat kamarnya dia masuk kesana namun tak menemukan Rahel disana.
Matanya tertuju ke lantai dua, jantungnya berdegup kencang apalagi melihat kejadian saat Rahel hampir mati disana.
Dengan langkah cepat dia berlari ke lantai dua.
Deghh
Matanya tertuju pada wanita yang tidur dengan meringkuk di atas sofa dengan mata sembab dan air mata yang sudah mengering.
"Rahel!!" Pekik Satria.
Dia menghampiri istrinya dengan perasaan benar benar kacau.
" Ra... Rara maaf sayang aku melukaimu lagi," ucap Satria sambil memeluk Rahel dengan erat.
"Eghh.." Rahel melenguh saat merasakan seseorang memeluk tubuhnya, dia membuka matanya karena merasa tidurnya terganggu.
"Satria," ucapnya pelan, kembali lagi air matanya lolos dari kedua pelupuk matanya.
"Kamu bangun? Maafkan aku sayang, maaf kan aku ," ucap Satria yang benar-benar merasa bersalah terhadap Rahel.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 😉😉😊