
Seperti hari biasanya, Dimas melakukan aktivitas sebelum berangkat ke rumah sakit dengan berlari disekitar komplek rumahnya. Setelah cedera pada lengannya sembuh, Dimas memang langsung kembali bekerja.
Banyak pasiennya yang menunggu tangan ajaib-nya. Dimas dijuluki tangan ajaib karena selama ini dia sudah banyak menyelamatkan nyawa pasiennya.
"Selamat pagi pak dokter? Sendirian saja? Nyonya-nya nggak diajak?" tanya bu Sifa tetangga komplek yang sedang bergerombol berbelanja pada tukang sayur yang sudah menjadi langganan mereka.
"Nggak bu, lagi nggak enak badan?" jawab Dimas berbohong.
Semenjak menikah dengan Winda, Dimas memang lebih sering berbohong untuk menutupi kebohongan pertamanya. Semua orang menganggap Dimas dan Winda menikah karena saling mencintai.
"Permisi dulu ibu-ibu," ucap Dimas.
Dimas tersenyum lalu mengangguk pada orang-orang di sana dan melanjutkan larinya.
"Dokter Dimas ternyata sangat ramah. Dulu aku kira dia itu sombong, karena dia jarang tersenyum," kata ibu Sri.
"Selain itu dia juga sangat tampan dan gagah," tambah ibu yang lain.
"Benar, dan aku dengar istrinya juga cantik lho. Apa kalian pernah melihatnya?" tanya bu Sifa.
"Belum. Sejak menikah dan tinggal di rumah pak dokter, dia sama sekali tidak pernah bergaul dengan ibu-ibu di komplek sini," jawab Bu Sri.
"Kalau aku pernah lihat istrinya pak dokter. Waktu dia pertama pindah kemari. Cantik tapi jarang tersenyum," tambah ibu yang lain.
"Ya sudahlah, semoga keluarga baru pak dokter bakalan awet dan langgeng," kata Bu Sifa.
"Menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warrahmah," tambah yang lain.
Sementara Dimas sudah kembali kerumahnya, karena dia hanya berlari satu kali putaran saja. Dia segara mandi dan berganti pakaian yang sudah disiapkan Winda.
"Mas, sarapan dulu," kata Winda saat melihat Dimas sudah bersiap hendak pergi.
"Kayaknya, aku langsung pergi saja."
"Kenapa? Apa mas Dimas tidak suka dengan menu hari ini?" tanya Winda sedih dan agak kecewa dengan sikap Dimas.
Dimas berhenti sesaat dan melihat wajah Winda yang tampak kecewa.
"Baiklah, aku sarapan. Tapi dikit aja ya," kata Dimas disambut baik Winda yang segera menemani Dimas makan.
Dimas memang dulu tidak terbiasa sarapan di rumah, karena Maya tidak pernah bisa menemaninya sarapan. Sekarang setelah menikah dengan Winda, sarapan pagi bersama menjadi hal yang wajib baginya.
Tetapi kebiasaan baru ini membuat Dimas semakin takut jika membuatnya ketagihan. Jika suatu saat Winda pergi, apa yang akan dilakukannya di meja makan ini sendirian? Akan tetapi dia ingin menikmati apa yang bisa dia nikmati saat ini. Biarlah kedepannya berjalan sesuai takdir saja.
__ADS_1
"Mas, nanti aku mau pinjam mobil mas Dimas. Boleh?" tanya Winda.
"Tentu boleh. Jam berapa?" tanya Dimas.
"Jam 10 mas, tapi ini juga belum pasti," kata Winda.
"Gini aja. Kamu antar aku ke rumah sakit, setelah itu kamu bisa bawa pulang mobilnya."
"Tapi, aku harus menyiapkan banyak barang untuk toko. Lagi pula belum pasti juga jamnya. Mobilnya bawa saja dulu. Nanti aku naik ojek ke sana untuk mengambil mobilnya," kata Winda.
"Baiklah. Aku pergi dulu."
Dimas berjalan keluar diikuti Winda. Sebelum pergi, Dimas mengulurkan tangannya yang segera disambut Winda lalu menciumnya. Setelah itu Dimas pergi ke rumah sakit dengan hati senang.
Semoga semua tidak akan berubah. Aku akan melakukan apapun asal kebahagiaan ini bertahan untuk selamanya, batin Dimas.
Di rumah sakit, Dimas mulai bekerja dan melaksanakan tugasnya sebagai seorang dokter kembali setelah beberapa hari beristirahat di rumah. Namun dia belum berani mengambil resiko untuk melakukan operasi setelah lengannya terluka tempo hari.
Sebenarnya tangan Dimas tidak terlalu terpengaruh dengan luka itu, dan jari jemarinya pun masih bisa bergerak aktif seperti sebelumnya. Namun Dimas masih ingin hatinya benar-benar yakin untuk kembali melakukan operasi.
Siang ini, Dimas menunggu Winda yang akan datang untuk meminjam mobilnya. Tetapi hingga jam 10 sesuai perkataannya, Winda beli juga datang. Akhirnya Dimas merebahkan kepalanya di sofa sambil melepas penat.
"Mas Dimas," terdengar suara wanita yang sangat familiar baginya.
"Banyak yang harus aku persiapkan, jadi ya agak terlambat," kata Winda sambil menghela nafas.
"Mau istirahat dulu, atau langsung pergi?" tanya Dimas.
"Langsung saja deh mas. Takut nanti sampai malam belum kelar bebenahnya," jawab Winda.
"Ya udah. Aku ambil kuncinya dulu."
Dimas berdiri dan berjalan menuju rak pakaian gantinya. Dia mengambil kunci mobilnya lalu diberikannya pada Winda.
"Terimakasih mas. Winda pergi dulu," ucap Winda sambil berbalik arah.
"Winda," panggil Dimas pelan.
Winda menoleh mendengar panggilan suaminya itu.
"Hati-hati..."
Winda mengangguk sambil tersenyum mendengar Dimas mengkhawatirkannya. Dimas membalas senyum Winda dengan senyum tertampannya. Winda masih sempat melihat senyum Dimas yang menawan sebelum Winda melangkah pergi.
__ADS_1
Setelah kepergian Winda, Dimas kembali disibukkan dengan para pasiennya. Terutama yang sudah sering keluar masuk rumah sakit ini. Ada yang hampir stres karena penyakit jantung yang tidak kunjung sembuh. Dan ini juga membutuhkan sedikit hiburan dan semangat juga dari para dokter.
Menjelang sore, telepon Dimas berdering. Dimas segera mengangkatnya karena itu telepon dari istrinya, Winda.
"Hallo, apakah anda kenal dengan saudari Winda?"
Dimas kaget karena itu bukan suara Winda.
"Ya. Saya suaminya," jawab Dimas cemas.
"Saudari Winda mengalami kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit umum."
"Kecelakaan. Oke saya segera ke sana?"
Dimas menutup panggilan teleponnya dan tanpa pikir panjang lagi dia langsung pergi menuju rumah sakit umum dengan taksi.
Sesampainya disana, beberapa orang polisi tengah berada disana menunggu kedatangannya.
"Pak, bagaimana kondisi istri saya?" tanya Dimas khawatir.
"Kami juga belum tahu, nanti bisa ditanyakan pada dokter yang menangani istri anda," jawab salah satu polisi.
Dimas mondar-mandir penuh kecemasan dan kekhawatiran. Dimas teringat tadi siang Winda masih memberinya senyum terindahnya. Jika teringat itu, Dimas merasa sangat sakit didalam hatinya, seperti ada sesuatu yang hilang.
Pikiran macam apa ini. Winda akan baik-baik saja. Dia tidak akan kenapa-kenapa. Winda, aku tidak mengizinkan kamu meninggalkan aku. Kamu milikku. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa hidup tanpamu. Winda, bertahanlah dan hiduplah demi aku. Aku membutuhkan kamu.
Dimas meneteskan airmata. Ternyata rasa takut kehilangan ini mulai merayap dihatinya dan menghancurkan pertahanannya untuk tetap menjaga titipan sahabatnya ini.
Sekarang bukan karena ingin menjaga titipan sahabatnya tetapi karena Dimas benar-benar telah jatuh hati pada Winda dan bisa melupakan Maya sepenuhnya. Winda bukan pengganti Maya, namun kehadiran Winda bisa menggeser keberadaan Maya dihatinya.
Winda, bukalah matamu dan lihatlah aku, suamimu.
Hai hai otor bawa rekomendasi novel yang bagus ya karya temen otor bernama Nurma Azalia berjudul Rahasia Istri Culunku jika suka silakan dikepoin. oke...
"Aku apa? ngomong yang jelas !" bentak Ali karena Ara justru diam.
"Aku mencintai Kamu.!" jawab Ara dengan lantang.
"Ha-ha-ha, lelucon macam apa itu? Jelas saja banyak wanita yang mencintai aku. Aku tampan, gagah dan juga berkarisma," Ali menjawab serta menertawakan gadis culun yang mengaku mencintai nya.
"sedangkan, Kau? Aku yakin, tidak ada yang sudi dengan gadis culun sepertimu. Seharusnya kau berkaca dulu, Nona Gunawan !" lanjut Ali semakin menghina Ara. ucapannya sangat menusuk hati Ara.
"Sial, kenapa rasanya sakit sekali. Ketika kau dihina, oleh orang yang kau cintai Ara ! Luka ini bahkan lebih menyakitkan, dari pada Lukamu yang biasa kau dapatkan," batin Ara menahan sakit yang Ali berikan di hati nya.
__ADS_1