
Winda memulai membuat persiapan membuat toko kue baru. Toko kue yang diharapkannya kali ini bisa menghilangkan rasa sedih dan kecewanya pada perlakuan Bayu. Suami yang selalu memberinya tekanan batin selama 3 tahun mereka menikah.
Namun Winda juga tidak ingin hidupnya selalu dibayang-bayangi oleh Bayu. Winda meminta bantuan adik iparnya Lilis, untuk membantunya selama satu hari. Karena Winda juga menyadari jika Lis pasti sibuk sebagai manajer pemasaran di perusahaan ayahnya.
"Mbak Winda, semua sudah beres. Tinggal cari pegawai saja," kata Lilis dengan perasaan puas.
"Bagaimana kalau aku cari dari tempat lama aku. Paling juga butuh 2 orang saja," kata Winda.
"Terus siapa yang jadi kokinya?" tanya Lilis penasaran.
"Siapa lagi, ya akulah," jawab Winda sambil tersenyum
"Mbak Winda?"
"Kenapa? Tidak percaya padaku? Dulu, waktu buka toko kue pertamaku, aku juga awalnya buat sendiri. Karena orang-orang bilang kue yang aku buat spesial rasanya, tapi aku juga nggak tahu apa sekarang aku masih bisa membuat rasa spesial itu lagi," kata Winda sambil menghela nafas.
"Semangat mbak Winda. Pembukaannya kan masih beberapa hari lagi, jadi mbak Winda bisa mencoba membuat kue lagi dan cari resep baru biar ada yang spesial lagi," kata Lilis memberi semangat.
"Bener juga. Tapi, siapa nanti yang mencoba kue buatanku? Atau kamu datang aja ke rumah," ucap Winda sambil menatap Lilis penuh harap.
"Tidak bisa mbak. Aku lagi sibuk. Kenapa mbak Winda melupakan kak Dimas? Kak Dimas juga suka kue kok, jadi nanti dia bisa memberi masukan apa-apa yang kurang dari kue buatan mbak Winda," kata Lilis.
"Iya, mbak lupa. Baiklah, nanti aku minta bantuan kakakmu."
Winda dan Lilis tersenyum dan mereka memutuskan pulang.
Sementara Dimas baru saja selesai melakukan operasi pada salah satu pasiennya dan semua berjalan lancar sesuai harapan. Beberapa dokter dan perawat memberinya selamat karena dokter Dimas telah berhasil melakukan operasi yang seharusnya tadi dilakukan oleh dokter senior rumah sakit.
Karena keberhasilannya kali ini, namanya sebagai dokter jantung lebih disegani lagi. Dimas sangat puas dengan kemajuannya kali ini. Diapun teringat Winda istrinya. Entah kenapa, Dimas mulai merasa kehadiran Winda memberi aura positif untuk hidupnya.
Dirinya yang dulu merasa lebih senang berada di rumah sakit dan menghabiskan waktu dengan termenung dan sendirian di ruang kerjanya.
Kini, setiap jam kerjanya sudah tiba, dia lebih bersemangat untuk pulang. Melihat wajah Winda yang dingin dan cuek sudah menjadi kebiasaannya sekarang. Ah tidak, semenjak mereka mulai tahu jika mereka adalah sahabat, Winda dan Dimas mulai saling peduli satu sama lain.
Senyum Winda mulai terlihat dan Dimas juga mulai menikmati perubahan hidupnya. Senyum Winda bagaikan madu yang membuat manis hati Dimas yang hampa. Dan senyum itu selalu terbayang di mata Dimas.
Hari inipun dia segera pulang dan ingin segera menikmati senyum Winda. Sepanjang jalan, Dimas tersenyum-senyum sendiri seolah melihat Winda di hadapannya.
Sampai di rumah, hari sudah sore. Dimas turun dari mobilnya dan mencium aroma wangi masakan.
Apakah hari ini bibi membuat masakan spesial? Tumben masih sore sudah menghangatkan makanan. Biasanya nanti sehabis sholat magrib.
Dimas mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Terdengar dari dalam jawaban salam dari Winda. Winda membuka pintu dan terkejut melihat suaminya sudah pulang.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucap Dimas.
"Wa'alaikum salam," jawab Winda.
"Lho mas Dimas, kok tumben jam segini udah pulang?" tanya Winda heran.
Winda mengambil tas dari tangan Dimas sambil mengikuti langkah suaminya menuju sofa. Dimas duduk sambil merebahkan
kepalanya.
"Iya, tadi habis selesai operasi besar. Jadi aku perlu istirahat untuk memulihkan dan menyegarkan diri," jawab Dimas.
"Lalu, operasinya berhasil?" tanya Winda.
"Alhamdulillah, berhasil."
"Kebetulan sekali mas Dimas pulang cepat."
"Ada, apa?" tanya Dimas kaget.
Kenapa hatiku tiba-tiba berdebar-debar dan jantungku rasanya berdetak sangat cepat? Apakah dia akan mengatakan sesuatu? Gila, apa yang aku harapkan. Dia ingin mengatakan cinta? batin Dimas.
"Aku membuat contoh kue, dan aku ingin mas Dimas mencobanya. Bagaimana?" tanya Winda sambil tersenyum.
"Oh tentu saja. Aku mandi dan berganti pakaian dulu. Setelah itu baru ikuti mau kamu."
Dimas bergegas pergi ke kamarnya diikuti Winda yang mengekor dibelakangnya. Sementara suaminya mandi, Winda menyiapkan pakaian ganti untuk Dimas lalu setelah itu dia pergi keluar.
Didalam kamar mandi Dimas tersenyum sendiri mengingat dirinya yang seperti orang gila mengharapkan sesuatu yang lain dari Winda.
"Perasaan apa ini," gumamnya pelan.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Dimas turun menemui Winda yang sudah menyiapkan bermacam-macam kue. Dimas terdiam sesaat.
"Banyak sekali," ucap Dimas.
"Silahkan mas. Dicoba mana yang mas Dimas suka."
Dimas duduk lalu mencoba kue buatan Winda. Winda mengamati reaksi suaminya setelah mencicipi kue buatannya.
"Enak kok. Nanti toko kue kamu pasti laris."
"Terimakasih mas," jawab Winda bahagia.
__ADS_1
Mereka saling berpandangan dan saling menebar senyum membuat suasana rumah ini menjadi hangat.
Kebahagiaan rumahtangga Dimas mulai diuji. Malam itu ketika Dimas pulang dari rumah sakit, ditengah perjalanan mobil Dimas dihadang segerombolan perampok yang salah satunya berpura-pura pingsan ditengah jalan. Setelah mobil Dimas berhenti, mereka langsung keluar menampakan diri.
Mereka terlihat sangat ganas dan tangan mereka memegang senjata tajam dan benda tumpul lainnya.
"Keluar, atau nyawamu akan melayang?!" bentak salah satu perampok.
Dimas berusaha tenang dan berusaha mencari kesempatan untuk melawan. Dimas keluar dari mobil sambil mengangkat tangan.
"Apa yang kalian inginkan?" tanya Dimas agak panik.
"Tenang bos. Kami hanya butuh uangmu. Serahkan semua uangmu pada kami?!" teriak salah satu perampok sambil mengacungkan belatinya.
"Saya seorang dokter dan saya tidak bawa uang tunai. Hanya beberapa ribu saja," jawab Dimas.
Hal itu membuat para perampok itu sangat marah. Salah satu dari mereka langsung memukul tubuh Dimas dari belakang. Dimas terhuyung dan jatuh. Dimas tidak menyerah meski pertarungan tidak seimbang.
Dimas berdiri lalu menyerang para perampok. Dimas tidak ingin mati konyol dan jadi bahan tertawaan orang . Dia teringat Winda, istrinya. Semangat juangnya bangkit. Dia merasa harus tetap hidup demi Winda dan demi perasaannya.
Perkelahian berlangsung sengit, namun tetap saja Dimas tidak bisa melawan para perampok itu. Tangannya berlumuran darah dan wajahnya penuh luka. Tak lam diapun roboh tak bergerak lagi. Melihat Dimas sudah tidak berdaya, mereka pergi kearah sebuah mobil yang terparkir di pinggir sejak perkelahian terjadi.
"Bos, semua beres," lapor salah satu perampok.
"Kalian pergilah, biarkan tubuh itu disana," perintah seorang laki-laki dari dalam mobil.
Para perampok itu segera pergi meninggalkan tempat itu tanpa peduli keadaan korbannya.
Siapakah laki dalam mobil yang menjadi dalang penganiayaan terhadap Dimas?
Hai otor bawa satu karya teman otor bernama
Weny Hida berjudul Bed Friend semoga suka...
Blurb:
Kenzo awalnya selalu menolak Cleo, wanita bar-bar dan agresif yang sudah dijodohkan dengannya, tapi saat cinta itu sudah tumbuh kesalahpahaman pun terjadi yang membuat Cleo pergi meninggalkan Kenzo saat sedang mengandung anak dari Kenzo.
Dua tahun kemudian, Cleo kembali dan mereka pun bertemu, sayangnya Cleo sudah bertunangan dengan Nathan, anak dari orang tua angkat Kenzo yang pernah menyelamatkannya saat Kenzo dibuang di hutan oleh ayah kandungnya, Abimana.
Dapatkan Kenzo merebut kembali Cleo dari tangan Nathan? Ataukah dia harus terjebak dalam hutang budi? Lalu apakah Kenzo bisa menerima Abimana sebagai ayah kandungnya?
__ADS_1