
"Rahasia apa?" suara sang ayah membuat Dimas dan Lilis panik.
"Rahasia apa? Tidak ada ayah. Ayah salah dengar," ucap Lilis gagap.
"Dimas, mau jujur atau ayah yang bicara. Ayah sudah mendengar apa yang kalian bicarakan sejak tadi. Tapi ayah ingin mendengarnya langsung dari mulutmu," kata ayah Dirga memendam amarah.
Pak Dirga mengajak Dimas dan Lilis untuk berkumpul di ruang keluarga dengan yang lain. Disana sudah ada ibunya dan Winda yang sedang menunggunya. Dimas menjadi cemas, tetapi dia memang cepet atau lambat harus menghadapi semua ini.
"Semua sudah berkumpul. Mulanya ayah ingin hari ini menjadi hari dimana kita bisa berkumpul dan makan bersama keluarga," kata ayah Dirga memulai pembicaraan.
"Dimas, katakan yang sebenarnya. Kami mendengarkan apa yang akan kamu katakan," ucap ayah Dirga lagi.
Dimas menghela nafas sebelum mulai bicara. Dia melihat bergantian kearah ayah, ibu, adik dan Winda.
"Dimas telah melakukan hal yang tercela. Hal yang sangat di benci Allah. Dimas menjadi Muhallil atas keinginan sahabat Dimas, Bayu."
Dimas mulai bercerita dari awal pertemuannya kembali dengan Bayu dan alasan Dimas menerima permintaan Bayu agar dia menjadi Muhallil bagi Winda agar Bayu bisa rujuk kembali dengan Winda.
"Ayah, ibu. Dimas tahu Dimas salah. Dimas ingin memperbaiki semuanya," kata Dimas memohon.
Dimas sangat takut jika ayah dan ibunya akan memisahkan dia dari Winda karena marah dengan kelakuannya.
"Dimas, ayah tidak pernah mengajarkan pada anak-anak ayah agar melakukan perbuatan yang dilarang agama. Ayah sungguh sangat kecewa padamu," kata ayah Dirga berat.
"Ayah, biarkan Dimas memperbaiki niatnya menikah dan mempertahankan pernikahannya. Anggap saja ini adalah takdir yang mempertemukan Dimas dan Winda yang sebelumnya tidak saling mengenal," ucap bu Sapna lembut.
"Ayah, kakak sudah mengaku salah. Sekarang dia juga sudah berusaha memperbaiki diri. Maafkanlah dia, ayah," ucap Lilis memohon pada ayahnya.
"Kamu juga. Membantu menyembunyikan semua ini. Kamu juga salah, Lilis. Bertobatlah kalian dan memohon ampunan pada Allah. Jangan memohon pada ayah?!" ucap pak Dirga.
"Iya, ayah. Lilis tahu, Lilis juga salah," kata Lilis sambil menunduk.
"Iya, ayah. Dimas akan memohon ampun atas dosa Dimas. Dimas berharap bisa mempertahankan pernikahan Dimas. Dimas tidak ingin gagal lagi seperti dulu," ucap Dimas penuh keyakinan.
"Ayah, Winda juga tahu tentang itu. Winda juga salah, ikut terlibat dalam perbuatan dosa ini," kata Winda pelan.
"Kalian, benar-benar sudah membuat ayah kecewa. Tapi, karena semua sudah mengakui dan tahu kesalahan masing-masing, ayah tidak akan lagi mempermasalahkannya. Asalkan kalian konsisten dengan apa yang kalian putuskan," kata pak Dirga.
Hati pak Dirga mulai melunak setelah melihat ketulusan Dimas yang ingin terus mempertahankan pernikahannya dengan Winda.
__ADS_1
"Ingat Dimas, lain kali jujurlah pada kami. Kami ini bukan orang lain, kami orangtuamu. Jika salah, kami bisa mengingatkan kamu. Tidak hanya Dimas, Lilis juga dan nak Winda juga karena kami sudah menganggap kamu sebagai anak kami," ucap pak Dirga mengingatkan.
Mereka bertiga mengangguk bersamaan. Dimas merasa lega, orangtuanya tidak akan lagi mempermasalahkan pernikahannya.
Sebelum pulang, mereka makan bersama terlebih dahulu. Terlihat kebersamaan keluarga terutama Winda, sudah bisa membaur dalam keluarga Dimas. Winda tidak lagi sungkan seperti dulu. Selesai makan, Dimas dan Winda segera pamit pulang.
Selama perjalanan mereka hanya diam. Mereka tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Mereka baru mulai bicara ketika mereka berbaring dan hendak tidur.
"Mas, apakah yang mas Dimas katakan pada ayah Dirga itu benar?" tanya Winda sambil menatap Dimas tajam.
"Kamu serius sekali nanyanya, aku jadi takut," kata Dimas bergurau untuk membuat suasana tidak tegang.
"Apakah aku begitu menakutkan bagimu, mas?" tanya Winda.
"Mendekatlah, aku akan memberimu jawaban yang kamu inginkan," kata Dimas sambil menepuk ranjang didekatnya.
Winda bergerak mendekat kesamping Dimas. Winda terlihat agak malu saat mendekat, dan Dimas dengan lembut merengkuh Winda dalam pelukannya.
"Aku takut kamu meninggalkan aku," bisik Dimas lembut di telinga Winda.
Winda berkidik mendapatkan bisikan dari Dimas yang membuat tubuhnya bergetar sesaat.
"Mas Dimas..."
"Apa mas Dimas sudah memikirkannya baik-baik? Aku tidak akan bisa memberimu keturunan," ucap Winda sedih.
"Sayang, apa kamu percaya takdir dan keajaiban?" tanya Dimas sambil melepaskan pelukannya.
Dimas memegang kedua bahu Winda, dan menatap Winda dalam-dalam. Winda hanya mengangguk pelan membuat Dimas kembali memeluk tubuh Winda yang membuat Dimas kecanduan.
"Bila Allah berkehendak, siapa yang bisa menolaknya. Demikian juga tentang vonis mandul kamu. Kita bisa berobat, kita bisa berusaha. Siapa tahu kita diberi kesempatan untuk mendapatkan keajaiban itu," kata Dimas menghibur Winda.
"Aku juga ingin begitu," ucap Winda sambil meneteskan airmata.
"Tentu saja, sayang. Pernahkah kamu membayangkan bahwa kita akan bertemu? Takdir yang mempertemukan kita. Meskipun caranya sedikit berbeda, kita sekarang bisa menjadi suami isteri. Tidak ada yang tidak mungkin," kata Dimas kembali.
"Aku juga tidak mengira, bisa menjadi bagian dari hidupmu mas Dimas," ucap Winda.
"Sekarang, kita bisa berusaha. Berusaha yang terbaik untuk bisa memiliki keturunan," kata Dimas sambil tersenyum.
__ADS_1
"Maksud mas Dimas apa?" tanya Winda kurang paham dengan ucapan Dimas.
"Haruskah aku menjelaskan dengan perbuatan?" jawab Dimas tersenyum.
"Mas Dimas..."
Dimas kembali berusaha menjalankan kewajibannya sebagai suami. Sebagai istri, Winda juga berusaha menjadi istri yang baik dengan memberi apa yang suaminya minta.
Manusia hanya bisa berusaha tapi Allah-lah yang menentukan. Tapi mereka percaya keajaiban itu akan datang dalam hidup mereka. Seperti takdir yang sudah mempertemukan mereka dalam ikatan pernikahan. Seperti itulah, Dimas juga ingin takdir memiliki keturunan akan menghampiri mereka.
Bagi Dimas, kebahagiaan bisa mencintai kembali adalah anugerah. Dan hanya pada Winda cintanya ingin berlabuh untuk yang terakhir. Wanita yang kini mampu merubah hidupnya yang dulu penuh kecemasan, kegelisahan dan rasa tidak percaya pada pasangan.
Kini, saat bersama Winda, Dimas begitu tenang dan damai serta bisa percaya sepenuhnya pada Winda. Dan Winda juga bisa memberikan jaminan kepercayaan itu untuknya.
Kehidupan rumahtangga Dimas saat bersama Winda, sangat berbeda jauh bila dibandingkan saat bersama Maya. Dimas tidak bermaksud membandingkan, namun Dimas berhak menilai perasannya sendiri saat menjalaninya.
Dengan begitu, Dimas saat ini lebih bersyukur bisa menjalani hari-harinya bersama wanita yang bisa memberinya rasa damai dan rasa memiliki sepenuhnya.
Dimas berharap semua ini tidak akan pernah berakhir.
Bersambung
Hai readers
Otor bawa satu rekomendasi karya apik dari temen otor ya yang berjudul Pesona Sang Diva by Nesya Ageha silakan di Kepoin
jangan lupa like koment dan fav ya mkasih....l
Seorang bayi perempuan dibuang dan beruntung di adopsi oleh keluarga yang baik hati.
Nama gadis itu Kasih, dia tumbuh dengan baik dan menjadi gadis tercantik di desanya, namun naas saat berusia 17 tahun ada insiden penyiraman air keras yang mengakibatkan wajahnya rusak.
Entah ini berkat atau kesialan, tetapi secara tak terduga dia malah menemukan fakta yang membuatnya mengubah tujuan hidupnya.
Kasih bukanlah bayi yang sengaja di buang. insiden tragis di masa lalu menjadi penyebab meninggalnya orangtuanya juga terpisahnya dia dari saudara kandungnya.
Mampukah Kasih melawan para serigala dan rubah licik yang siap menerkam hidup dia juga saudaranya? Bagaimana caranya pulang? Apakah keluarganya masih mengenali dia dengan wajah baru?
__ADS_1
Salam Cinta,
Nezha Ageha