
Pernikahan Lilis dan Zaki sudah ditentukan hari dan tanggalnya. Persiapan pernikahan juga sudah dilakukan terutama pesta pernikahan yang akan diadakan di sebuah gedung mewah.
Sebenarnya, Zaki dan Lilis ingin sebuah pernikahan yang sederhana saja. Tetapi karena pernikahan ini akan mengundang banyak relasi dari perusahaan ayah Dirga dan juga beberapa karyawan terpilih saja.
Dua Minggu sebelum hari pernikahan, Zaki dan Lilis melakukan fitting baju pengantin di butik milik nenek yang saat ini di pegang oleh Winda.
Winda sendiri yang membantu Lilis untuk fitting baju. Karena selain Lilis adalah pelanggannya, dia juga adik iparnya dan sekarang dia juga akan menjadi bagian dari keluarga besarnya.
"Mbak Winda, jika mbak Winda sibuk, suruh saja pegawai mbak Winda untuk membantuku," kata Lilis saat mencoba baju pengantinnya.
"Tidak sibuk. Aku ingin membuatmu menjadi pengantin yang paling cantik di hari pernikahanmu. Jadi aku ingin memeriksa sendiri apa-apa yang kurang dan mana yang harus di kurangi."
"Mbak Winda, Lilis tidak menyangka jika mbak Winda bisa menjalankan usaha butik ini dengan baik. Setahu Lilis, Mbak Winda hanya pandai berdagang dan membuat kue saja," kata Lilis sambil tersenyum.
"Waktu, yang telah merubah jalan hidupku. Mencoba hal-hal baru dan menarik. Termasuk menjadi model. Tapi, aku kurang sreg saja."
"Kenapa Mbak? Padahal tidak sembarang orang bis menjadi model. Aku yakin, seorang model seperti mbak Winda tidak akan terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Seperti istri kak Dimas sebelumnya," kata Lilis mengenang masa lalu.
"Tapi, tidak sembarang orang juga bisa menghindari pergaulan bebas dalam dunia model. Banyak banget godaannya. Terutama Masalah uang dan ketenaran. Ini kayaknya kurang pas, nanti aku jahit dikit di sebelah sini," kata Winda sambil menunjuk ke arah pinggang Lilis.
__ADS_1
"Orang yang mengejar uang dan ketenaran, akan melakukan segala cara untuk bisa memperolehnya. Balik lagi, siapa yang tidak ingin banyak uang dan terkenal?" ucap Lilis pelan.
"Semua itu adalah pilihan masing-masing individu. Banyak kok, yang bisa sukses, banyak uang dan terkenal sesuai jalur. Tapi perjuangannya memang dari nol sih."
"Lalu, kenapa Mbak Winda berhenti?"
"Sebenarnya bukan berhenti total. Kan aku masih bergelut di bidang itu. Cuman sekarang, aku dibelakang layar. Membantu perusahaan nenek mengembangkan usaha di sini. Ada kemungkinan nenek akan membangun pabrik di sini dan mengembangkan merk pakaian baru."
"Mbak Winda yang akan menanganinya?"
"Rencananya seperti itu. Tapi, aku tidak ingin terlalu sibuk dan mengabaikan tugas utamaku sebagai seorang istri. Aku tidak ingin mas Dimas dan Twins V merasa aku kurang perhatian pada mereka."
"Lalu bagaimana mbak mengatasinya?"
"Kerjasama dengan mas Bayu?"
"Sudah beres semua. Kemarin hanya kerjasama untuk peragaan busana. Dia yang menyediakan tempat sekaligus promosi hotelnya yang baru."
"Dua tahun ternyata sudah banyak perubahan pada diri mbak Winda."
__ADS_1
"Tapi tentu saja, ada yang tidak berubah."
"Apa itu Mbak?"
"Perasaan cinta."
Mereka tertawa seolah tidak peduli jika Zaki sedari tadi menunggu mereka di luar ruang ganti. Winda hampir melupakan Zaki, sampai Zaki yang sudah tidak sabar berteriak ketika mendengar suara tawa mereka.
"Hai-hai, jangan lupa, kalau disini masih ada yang menunggu!"
"Iya, sebentar lagi selesai," teriak Lilis.
"Udah cukup, Lis. Sana keluar, biar calon suamimu bisa melihat kecantikan calon istrinya. Yang biasanya berpakaian sesukanya, kini tampak anggun cantik mempesona," kata Winda memuji Lilis.
"Apaan sih Mbak Winda ini. Lilis jadi malu," ucap Lilis sambil tersenyum.
Winda melihat Lilis begitu bahagia, mengenakan gaun pernikahan yang sangat indah. Entah kenapa, hatinya merasa terharu. Terharu karena dia bisa membuat sebuah baju pengantin yang bisa di pakai Lilis sekarang ini.
Sementara, Zaki terpesona melihat Lilis tampak cantik dan anggun dengan gaun pengantin yang dikenakannya.
__ADS_1
"Cantik, istriku memang cantik, ditambah gaun yang cantik pula. Sempurna," ucap Zaki lirih.
Bersambung