Istri Titipan Talak 3

Istri Titipan Talak 3
Bab 50. Ciuman depan umum


__ADS_3

Dimas tersenyum melihat anak-anaknya ikut dalam permainannya menggoda Winda. Setelah memberi suapan, Dimas akan memberi hadiah sebuah ciuman. Seperti yang dijanjikan dan diberikan pada twins V.


Dimas melihat Winda tampak tidak nyaman dengan permintaan twins V. Tetapi demi tidak mengecewakan twins V, Winda bersedia menyuapi Dimas.


Dimas berusaha menahan tawa karena dengan kehadiran twins V, malah semakin membuat Dimas lebih bisa dekat dengan Winda. Padahal awalnya, Dimas ada sedikit kekhawatiran jika twins V akan membuat jarak antara dia dan Winda.


Selesai disuapi Winda, Dimas berpura-pura lupa hadiah untuk Winda. Karena Dimas tahu, Winda tidak nyaman bermesraan di depan keluarga besar. Tetapi lagi-lagi twins V mengingatkan Dimas.


"Papi, hadiahnya mami mana?" tanya Vano.


"Papi, mami juga minta hadiah sekalang," kata Vani sambil menarik lengan papinya.


Dimas tersenyum sambil menatap Winda yang wajahnya mulai berubah kemerahan karena malu.


Dasar twins V.


"Baiklah, karena sudah janji, papi mau kasih hadiah pada mami. Tapi kalian tutup mata ya?" kata Dimas.


"Kenapa tutup mata, papi?" tanya Vani.


"Iya, tadi papi cium Vani, Vano tidak tutup mata," kata Vano.


Semua yang ada disitu tertawa mendengar twins V protes pada papinya. Sedangkan Dimas hanya bisa tersenyum sambil bergumam.


"Dasar memang anak-anak, masih polos."


Dimas mendekati Winda dan berniat menciumnya meski agak ragu.


Ciuman didepan umum, dihadapan twins V dan keluarga? Kenapa aku merasa, sekarang aku lagi dikerjai twins V?


Dimas mendaratkan sebuah ciuman di kening Winda, ciuman yang aman dan cukup pantas dilakukan. Dimas takut jika ciuman ditempat lain, libidonya bisa naik.


"Papi, kenapa nggak sama saat mencium Vani?"

__ADS_1


"Iya papi. Tadi papi cium Vano disini, sini, sini, sini, sini juga," kata Vano sambil menunjuk area wajah Vano.


"Sama kok. Kalau begitu, papi izin nanti saja ya?"


"Tidak boleh," kata Vano.


Tiba-tiba ponsel Dimas berdering. Awalnya, Dimas hanya melihat siapa yang menghubunginya lalu meletakkan ponselnya kembali.


"Kenapa tidak diangkat mas?" tanya Winda.


"Telepon tidak penting."


"Jika tidak diangkat, bagaimana kamu tahu itu tidak penting, mas?"


Dimas hanya menggelengkan kepalanya sambil bermain kembali dengan anak-anak. Ponsel Dimas berbunyi lagi dan Winda sangat penasaran. Akhirnya, Winda mengambil ponsel Dimas dan melihat siapa yang menelepon. Ternyata dari Maya, mantan istrinya.


Dimas, tidak menyadari jika Winda menerima panggilan telepon dari Maya. Dimas kaget saat Winda menyodorkan ponsel pada Dimas dalam keadaan kesal. Setelah memberikan ponsel pada Dimas, Winda langsung pergi sambil marah.


"Mas Dimas, kenapa diam saja? Deni sakit mas, mas Dimas bisa kemari? Aku bingung harus bagaimana?" suara Maya panik.


"Maya, kamu tenanglah. Kamu panggil taksi dan bawa Deni ke rumah sakit."


"Tapi mas Dimas, aku butuh kamu?"


"Maaf, aku tidak bisa. Sekarang aku sangat sibuk."


"Bukannya mas Dimas mau mengambil Deni sebagai anak mas Dimas? Sekarang dia sedang sakit mas?"


"Tidak lagi. Dia anakmu, aku tidak akan pernah mengambilnya darimu. Sekarang, aku dan Winda sudah memiliki anak sendiri. Jadi kami tidak akan mengambil anakmu lagi."


"Mas Dimas percaya kalau Winda bisa memiliki anak? Mas Dimas tidak curiga kalau Winda sedang membodohi kamu?"


"Apa maksud perkataannya, Maya?"

__ADS_1


"Siapa tahu, anak Winda bukan anak dia? Adopsi misalnya? Karena mas Dimas tidak melihat Winda hamil bukan?"


"Maya, jangan membuat aku meragukan Winda. Itu adalah urusan rumah tanggaku. Kamu tidak perlu ikut campur. Sekalipun seandainya Winda berbohong padaku, kamu tidak punya hak untuk ikut campur."


"Tapi mas, aku tidak ingin kamu dibohongi."


"Cukup. Urus saja urusanmu sendiri. Mulai sekarang, kamu tidak perlu menghubungi aku lagi."


Dimas menutup panggilan dari Maya. Apa yang dikatakan Maya, sempat membuat Dimas ragu, tetapi sebagai suami, dia harus percaya pada istrinya. Dimas harus yakin, jika Winda tidak akan pernah membohonginya.


Jika sampai Winda tahu, Dimas sempat meragukan keberadaan twins V, Winda pasti akan sangat kecewa padanya.


Dimas mencari keberadaan Winda yang tadi terlihat sangat marah dan kesal. Dimas bertanya pada Zaki dan Lilis, namun mereka juga tidak melihat keberadaan Winda.


Dimas akhirnya pergi ke kamar, dan mendapati Winda sedang menangis pelan karena pasti dia takut suara tangisnya terdengar sampai keluar. Dimas duduk di samping Winda yang masih terisak ditepi ranjang.


"Sayang, jangan marah lagi. Makanya tadi tidak aku angkat. Kamu sendiri kan tadi yang angkat. Kenapa kamu malah marah padaku?"


"Aku tidak marah, aku hanya kesal pada diri aku sendiri. Terlalu penasaran."


"Kamu cemburu?"


"Tidak."


"Iya. Kamu pasti cemburu?"


Dimas memeluk tubuh Winda, setelah itu dihapusnya airmata Winda yang masih menetes pelan di pipinya.


"Jangan marah lagi. Aku sudah mengatakan pada Maya untuk tidak menghubungi aku lagi. Sekarang, waktunya kita berdua. Mumpung anak-anak sedang bersama mereka."


"Mas Dimas..."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2