Istri Titipan Talak 3

Istri Titipan Talak 3
Bab 59. Harapan baru


__ADS_3

Menjelang tengah malam, Winda terbangun saat merasakan udara dingin mulai menyusup di pori-pori kulitnya. Rupanya dia ketiduran di kamar Vano. Winda kembali mengecek suhu badan Vano untuk kesekian kali. Dan hasilnya masih tetap sama, menunjukan angka 36.


Winda tersenyum lega karena suhu tubuh Vano sudah normal dan tidak naik-naik lagi. Sejak 3 tahun yang lalu, Winda dan Twins pindah ke rumah ini, Twins memang hampir tidak pernah sakit. Makanya, jika salah satu dari Twins ada yang sakit, Winda sangat panik.


Syukur pada Allah, Vano sudah diberi kesembuhan sehingga bisa tidur dengan nyaman tanpa ada rintihan ataupun igauan dari mulutnya. Untunglah Vano sangat penurut mau meminum obatnya tanpa protes sehingga cepat membantu proses penyembuhannya.


Winda melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul 12 malam.


Pasti mas Dimas sudah pulang.


Winda bergegas ke kamarnya untuk melihat apakah suaminya sudah pulang atau belum. Baru saja dia hendak masuk ke kamar, perutnya tiba-tiba terasa mual dan ingin muntah. Winda bergegas masuk ke kamar mandi.


Dimas yang sedang tertidur, terbangun saat mendengar suara Winda yang terdengar cukup keras. Dimas merasa khawatir dengan kondisi Winda yang tidak seperti biasanya.


"Sayang, apa kamu masuk angin?"


"Tidak tahu mas. Memang akhir-akhir ini badanku cepat lelah dan lemas. Mungkin aku kelelahan karena sibuk di butik dan hari ini aku merawat Vano."


Dimas memijat belakang leher Winda dengan pelan dan lembut untuk meredakan rasa mual yang dialaminya. Setelah Winda mulai tidak mual lagi, Dimas memapah Winda sampai ketempat tidur dan membantu Winda berbaring.


"Sayang, istirahatlah. Besok kita periksa ke dokter. Aku tidak mau, nanti kamu bisa jatuh sakit."

__ADS_1


"Mas, kasihan Vano sendirian di kamarnya. Meskipun badannya sudah tidak panas lagi, dia pasti sedih saat bangun, tidak ada siapa-siapa di sampingnya."


"Biar aku nanti yang jagain dia. Tetapi, kondisi kamu juga tidak baik, sebaiknya aku bawa saja Vano ke kamar ini."


"Terus nanti mas Dimas tidur dimana?"


"Tempat tidur ini cukup luas untuk kita bertiga, bukan begitu?" tanya Dimas.


"Terserah mas Dimas saja."


Dimas bergegas pergi untuk memindahkan Vano ke kamarnya. Tidak berapa lama, Dimas sudah kembali dengan membawa Vano dan dibaringkannya Vano diatas tempat tidurnya. Dimas segera berbaring diantara Vano dan Winda.


"Begini juga bagus, jika kalian membutuhkan aku, aku lebih siap," kata Dimas.


"Hamil, sungguh?! Tentu saja itu adalah kabar baik. Twins V juga sudah hampir 5 tahun, jadi memang seharusnya sudah memiliki adek. Sayang, kita sudah berusaha sejak 3 tahun lalu untuk memiliki adik baru buat Twins. Rumah ini akan semakin ramai dengan bertambahnya anggota baru."


"Tapi itu belum pasti mas, Dimas. Besok kita tes sendiri aja dulu, setelah yakin baru kita periksa ke dokter, ya mas?"


"Baiklah. Besok aku belikan kamu testpack. Kamu juga tidak usah masuk kerja, istirahat saja di rumah untuk sementara."


Harapan baru menyelimuti hati sepasang suami istri yang bahagia karena ada kemungkinan mereka akan memiliki seorang anak lagi. Dimas sudah tidak sabar menanti esok tiba.

__ADS_1


Keesokan harinya, Winda kembali mengalami mual dan ingin muntah. Dimas, sangat panik melihat Winda dalam kondisi kurang sehat. Setelah muntah, Winda terlihat lemas.


Walaupun kehamilan Winda bukan yang pertama kali, tetapi ini pertama bagi Dimas bisa secara langsung melihat istrinya hamil.


Saat hamil Twins, Dimas tidak berada disisinya. Seharusnya saat Winda mual dan pusing dia yang merawatnya. Karena itu saat ini, Dimas ingin benar-benar menikmati kehidupan sebagai seorang calon ayah siaga.


Dimas pergi membeli testpack untuk Winda dan segera pulang. Dimas sudah tidak sabar ingin melihat hasilnya.


"Mas Dimas tidak bekerja?"


"Udah izin. Aku ingin menemani kamu hari ini."


"Mas, jika nanti hasilnya negatif, percuma mas Dimas cuti hari ini."


"Apanya yang percuma. Meskipun hasilnya negatif, aku juga akan tetap membawamu periksa ke dokter. Karena kondisi badan kamu memang harus diperiksakan segera."


Winda tersenyum lalu pergi ke kamar mandi untuk melakukan tes kehamilan. Dimas menunggu dengan harap-harap cemas. Tidak lama kemudian, Winda keluar dari kamar mandi dengan wajah datar. Dimas menarik nafas panjang. Dia sudah siap dengan hasilnya, meski tidak sesuai harapannya.


"Sayang, bagaimana hasilnya?"


Winda menyerahkan hasil test yang dilakukan Winda pada Dimas. Dimas memejamkan matanya sesaat sambil berdoa dalam hati.

__ADS_1


Dimas membuka mata dan melihat tanda garis dua pada testpack yang di pegangnya.


Bersambung


__ADS_2