Istri Titipan Talak 3

Istri Titipan Talak 3
Bab 63. Ditukar?


__ADS_3

Sambil menunggu kabar dari kepolisiaan Dimas pergi mencari Vani ditemani Zaki. Pengantin baru yang seharusnya menikmati masa-masa penuh romantis kini harus ikut merasakan cemasnya sebagai seorang paman.


Dimas sengaja tidak mengajak Winda karena dia tahu kondisi Winda sedang tidak stabil. Setiap saat hanya menangis sambil memegang boneka kesayangan Vani. Vano hanya bisa menemani maminya sambil sesekali ikut mengusap airmata maminya dengan tisu ditangannya.


Tidak berapa lama, suara ponsel Winda berdering. Winda bergegas mengangkat panggilan tersebut meski nomor itu tidak ada dalam buku kontaknya.


"Hallo, ini siapa?"


"Hallo Winda, apa kabar."


Sangat jelas itu suara Maya. Winda mulai emosi.


"Maya, kembalikan anakku."


"Hahaha, ternyata kalian sudah tahu kalau yang menculik anak kalian adalah aku. Bagaimana rasanya kehilangan orang yang kamu cintai?"


"Maya, aku mohon. Kembalikan anakku, aku akan memberimu uang yang banyak. Katakan saja berapa yang kamu butuhkan," suara Winda bergetar.


"Aku tidak ingin uang. Aku ingin menukarnya dengan dirimu."


"Apa?!"


Winda terdiam sejenak. Dia sudah tidak bisa berpikir lagi. Yang ada hanyalah menyelamatkan Vani, putrinya.


"Bagiamana, bersedia?"


"Baiklah. Katakan, dimana kamu sekarang," tanya Winda.


"Ada satu syarat lagi, jangan memberi tahu suamimu atau coba lapor polisi. Anakmu yang akan menanggung akibatnya."


"Baik, aku setuju."

__ADS_1


"Alamatnya akan aku kirimkan lewat chat."


Winda menutup panggilan dari Maya. Dia sesekali membuka chat yang masuk untuk mengetahui alamat Maya. Winda sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Vani.


Sebuah pesan dari Maya telah diterima Winda.


Kali ini Winda bersikap terlalu gegabah tanpa memberitahu suami atau keluarga yang lain, dia pergi menuju alamat yang dikirimkan Maya. Winda melancarkan tujuan Maya, yang sebenarnya memang menginginkan Winda bukan anaknya.


Winda segera memesan taksi untuk membawanya pergi.


"Mami mau pergi kemana? Bisakah Vano ikut?" tanya Vano sambil mengikuti Winda yang berganti pakaian panjang.


"Vano, Mami mau pergi mencari Vani. Vano jangan bilang pada Papi ya, kalau Mami pergi menemui Vani. Mami janji akan membawa pulang Vani dengan selamat."


"Mami, hati-hati dan bawa Vani pulang."


"Mami pergi sayang."


Winda tidak menyadari, sebuah mobil mengikutinya dari belakang. Dia adalah Bayu. Kebetulan saat itu, Bayu berencana datang ke rumah Winda untuk ikut menawarkan diri membantu mencari Vani. Bayu baru saja menghentikan mobilnya, ketika melihat Winda pergi dengan tergesa-gesa.


Alamat yang diberikan Maya, ternyata berada diluar kota. Tempat yang jarang di jamah manusia. Maya kembali menghubungi Winda dan memberikan arahan, agar Winda menuju tempat yang dimaksud Maya.


Bayu penasaran dengan siapa Winda berbicara di ponselnya. Sampai akhirnya dia mengetahui bahwa yang menghubungi Winda adalah Maya. Bayu merasa bahwa Winda ada dalam bahaya jika dibiarkan bertemu dengan Maya. Karena itu, Bayu segera menghubungi Dimas untuk segera menyusul Winda setelah Bayu memberitahukan keberadaan Winda saat ini.


Bayu meminta Dimas, untuk mengabaikan masalah diantara mereka terlebih dulu. Ini menyangkut keselamatan Winda dan Vani. Disaat seperti ini, Bayu tidak bisa mengabaikan begitu saja keselamatan Winda dan anaknya. Meskipun Winda selalu menolaknya. Bayu juga meminta Dimas untuk segera melapor ke kepolisian tentang keberadaan Maya.


Meski hatinya agak takut, Winda masuk kesebuah rumah kosong. Dia naik keatas atap seperti permintaan Maya. Disana, sudah menunggu Maya dengan seorang anak perempuan yang wajahnya tertutup rambutnya yang panjang. Anak itu tangannya terikat tali yang cukup kuat. Pasti sangat terasa sakit.


"Vani... Maya tolong lepaskan Vani, jangan sakiti dia. Dia tidak tahu apa-apa," ucap Winda.


"Winda, aku puas melihat kamu menangis dan memohon di hadapanku."

__ADS_1


"Apa sebenarnya yang kamu inginkan dariku, Maya?"


"Terjunlah dari atas sini."


"Apa maksudmu, Maya?"


"Ada dua pilihan untukmu. Kamu yang mati, atau anak ini yang mati."


"Maya."


"Aku pernah gagal membuatmu menghilang dari hidup Dimas. Kamu beruntung masih bisa hidup sampai saat ini. Tapi kali ini, aku tidak akan gagal lagi. Aku akan melihat secara langsung kematianmu dihadapanku."


"Jadi, orang yang dulu menculikku dan membuang aku adalah orang suruhanmu?"


"Benar sekali, Winda."


"Maya, sadarlah. Meskipun jika aku mati, kamu pasti akan dipenjara. Apa kamu tidak kasihan pada Deni?" ucap Winda berusaha membujuk Maya.


"Aku tidak takut dipenjara, asalkan kamu tidak bersama Dimas. Dimas adalah milikku."


"Maya, tenang."


"Diam. Cepat buat keputusan! Jangan sampai kesabaranku habis."


"Maya..."


Suara Bayu mengejutkan Maya dan Winda. Melihat kedatangan Bayu, Maya sangat marah.


"Winda, sudah aku bilang jangan memberitahu siapapun. Jangan-jangan, kamu juga sudah menghubungi polisi. Kalau begitu, aku tidak akan sungkan lagi untuk menjatuhkan Anak ini di hadapanmu."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2