
Dimas bergegas pergi, setelah mendapatkan izin untuk pulang lebih awal. Dia pergi menuju ke rumah Winda. Untung saja waktu itu Dimas sempat mengikuti Winda saat pertama kali bertemu, sehingga dia bisa tahu alamat Winda.
Dimas menghentikan mobilnya didepan luar pintu gerbang rumah Winda. Dia bergegas keluar dari mobil dan memencet bel yang ada di pintu gerbang.
Tidak lama kemudian, datanglah salah satu pengawal Winda.
"Cari siapa?"
"Aku mencari nona Tera. Apakah dia ada?" tanya Dimas.
"Nama anda siapa? Saya akan katakan pada nona Tera terlebih dulu."
"Dimas. Bilang saja namaku Dimas."
Pengawal itu bergegas masuk kedalam rumah dan tidak lama kemudian dia sudah keluar kembali menemui Dimas. Pengawal itu membuka pintu gerbang dan mempersilakan Dimas masuk.
Dimas menarik nafas lega karena Winda bersedia menerima kedatangannya. Berarti masih ada harapan untuk bisa membuat Winda tetap tinggal.
"Tuan, nona menunggu diatas, di kamarnya. Kamar paling ujung."
Dimas segera menaiki tangga menuju kamar Winda. Kamar paling ujung. Dimas berhenti sesaat untuk mengumpulkan tenaga agar bisa membujuk Winda untuk tetap tinggal.
Tok tok tok.
Dimas mulai mengetuk pintu dan tidak lama kemudian terdengar suara dari dalam.
"Masuk."
__ADS_1
Dimas membuka pintu perlahan dan melihat ke sekeliling kamar Winda. Dimas melangkah perlahan dan mendapati Winda tengang berkemas.
"Winda, benarkah ini kamu?"
Winda berhenti berkemas, lalu melihat ke arah Dimas yang sudah berdiri di dekatnya.
"Apakah anda bisa mengenali saya, seandainya saya bilang tidak?" kata Winda menatap Dimas yang menunggu jawabannya.
"Tentu. Izinkan aku mendekati mu dan melihatmu lebih dekat."
"Silahkan."
Mendapat lampu hijau dari Winda, Dimas segera mendekati Winda yang duduk di samping tempat tidurnya sambil berkemas. Tanpa ragu, Dimas menyibakkan rambut Winda yang terurai untuk melihat tanda lahir di belakang leher Winda.
Dan, dia benar-benar Winda. Hati Dimas berdebar tak karuan apalagi detak jantung sudah melebihi batas normal. Dimas tidak tahan, dia segera memeluk tubuh. Dimas semakin erat memeluk Winda saat kemudian terdengar suara isak tangis Winda dalam pelukannya.
"Bisakah kamu tidak pergi lagi? Kita baru saja bertemu. Tidakkah kamu ingin bersamaku?" tanya Dimas sedih.
"Tapi aku harus pergi, mas Dimas," jawab Winda.
Mendengar jawaban Winda, Dimas sedikit terbawa emosi. Dimas melepas pelukannya dan menatap wajah cantik istrinya yang tampak menyimpan rahasia. Dimas tidak ingin tahu untuk saat ini.
"Maafkan aku mas Dimas. Suatu saat aku akan menceritakan semuanya padamu."
"Kapan kamu akan pergi?"
"Besok. Berarti aku masih ada waktu untuk berusaha membuatmu membatalkan niat kamu untuk pergi."
__ADS_1
"Mas, jangan lakukan itu. Jika aku tidak pergi, aku takut aku akan menyesali ini."
"Jadi, aku sudah tidak ada harapan lagi? Baiklah, lagipula aku juga tidak ingin melihatmu hidup dalam penyesalan. Tapi setidaknya, biarkan hari ini, malam ini aku menemanimu disini sebelum kamu pergi," kata Dimas memohon.
"Iya. Mas Dimas. Mas Dimas boleh tinggal di disini malam ini."
Dimas terlihat cemas. Sepertinya hasrat nya pada Winda mulai tak terkendali. Dia menahan sekuat tenaga untuk tidak menyentuh Winda. Dimas menelan saliva saat melihat Winda yang terlihat manja.
Winda seolah mengujinya.
Dimas melepaskan tangan Winda lalu dia duduk disampingnya. Entah apa yang ada dipikirannya. Dimas begitu takut tidak dapat menahan diri untuk menyentuh Winda.
Dia masih istriku. Meskipun kita sudah berpisah sekian lama. Dia masih milikku.
Tangan Dimas gemetar. Ada pertentangan dalam hatinya, antara tidak boleh menyentuh Winda tapi dalam hatinya ingin.
Winda tiba-tiba menyentuh tangan Dimas yang masih dalam keraguan. Winda tersenyum sambil memandang suaminya yang masih melihat kearah lain.
"Apakah wajahku terlalu buruk untuk bisa dilihat suamiku? Sejak tadi mas Dimas tak mau melihatku," ucap Winda manja.
Dimas memejamkan matanya mendengar suara manja Winda. Dalam hati dia berteriak.
Jangan goda aku. Atau aku tidak akan segan lagi?!
Tiba-tiba Winda mencium pipinya. Mata Dimas membelalak karena kaget. Aduh, Winda benar-benar membuatnya tidak bisa bertahan lagi.
bersambung
__ADS_1