Istri Titipan Talak 3

Istri Titipan Talak 3
Bab 58. Vano sakit


__ADS_3

Fitting baju pengantin antara Lilis dan Zaki baru saja selesai. Winda dengan dengan segera berniat untuk segera pulang bersama Lilis dan Zaki. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan tubuhnya terasa lemas.


Winda berpegangan pada lengan Lilis agar bisa tetap tegak berdiri. Hal itu membuat Lilis dan Zaki panik.


"Ada apa Mbak Winda?" tanya Lilis.


"Mbak Winda sakit, tadi baik-baik saja?"


"Nggak tahu Lis, Akhir-akhir ini aku sering pusing dan cepat lelah. Mungkin karena kemari aku terlalu sibuk mengurus acara peragaan busana. Yang bekerja sama dengan mas Bayu," kata Winda sambil menghela nafas pelan.


"Makanya mbak, sudah sibuk di rumah ngurus keluarga, ngurus suami, ngurus anak, masih harus ngurus usaha juga. Capeknya memang dobel ya Mbak. Gitu aja, kadang suami masih suka perintah-perintah nggak jelas," kata Lilis.


"Kok lihatnya ke aku? Memang aku begitu?" tanya Zaki sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Maksudku, jangan sampai kamu begitu. Kalau sampai kamu jadi suami yang kebanyakan protes, aku bisa nangis," Jawab Lilis.


"Kirain kamu bakal pukul aku."


"Zaki..."


"Lilis, kenapa manggil namanya langsung. Kelihatannya kurang sopan, dia akan jadi imam kamu kelak," kata Winda.


"Maaf, mbak. Lagi mode kesal. Mas Zaki, maaf ya..."


"Sayang, nggak papa. Mbak Winda, apa perlu kami bawa ke rumah sakit untuk periksa?"


"Tidak usah, nanti setelah istirahat, pasti sehat kembali. Sebaiknya, antar mbak pulang saja," kata Winda.


Lilis membantu Winda berjalan pelan menuju mobil Zaki. Winda berharap setelah tiduran sebentar di mobil, badannya akan kembali sehat. Namun, sampai di rumah, kepalanya masih terasa pusing.

__ADS_1


"Mbak, Lilis antar sampai dalam ya?"


"Tidak perlu Lis, aku udah agak baikan. Kalian segera urus persiapan kalian saja. Sudah merepotkan kalian."


"Mbak Winda, seperti orang lain saja. Jangan lupa nanti bilang sama mas Dimas, biar mas Dimas bisa memeriksa kondisi mbak Winda," kata Lilis.


"Kami pergi dulu, mbak," kata Zaki.


Winda melihat adik ipar dan sepupunya itu sampai mobilnya hilang di tikungan jalan. Winda masuk ke dalam rumah yang segera disambut oleh Vani.


"Mami, sudah pulang," kata Vani sambil berlari kearah Winda.


"Kak Vano dimana?"


"Kak Vano, sakit Mami. Badannya panas, tapi Mbak Novi udah kasih obat," kata Vani.


Winda panik mendengar Vano sakit. Winda tidak peduli dengan kondisinya yang juga sedang tidak enak badan. Winda merasa harus bisa menahan rasa sakitnya demi Vano.


"Mbak Novi, temani Vani main saja. Biar aku yang jaga Vano. Vani sayang, Vani main sama Mbak Novi ya? Mami jaga kak Vano."


"Iya, Mami."


Vani pergi bersama pengasuhnya, sementara Winda mengganti kool fever di kening Vano. Winda tampak sedih melihat buah hatinya tergolek lemah di tempat tidur. Sesekali terdengar suara batuk Vano yang terasa berat.


"Mami, Jangan menangis," kata Vano pelan.


"Tidak, sayang. Apa yang Vano rasakan?"


"Vano tidak apa-apa, Mami."

__ADS_1


"Ya sudah. Jangan banyak bicara lagi. Tidurlah, Mami akan di sini menemani Vano."


Setelah Vano tertidur, Winda meminta bibi untuk menemani Vano. Winda bergegas mandi dan berganti pakaian lalu melakukan sholat. Di dalam doanya, Winda memohon keselamatan untuk seluruh keluarganya dan menjauhkan mereka dari balak. Diampuni segala dosa-dosa yang telah mereka lakukan. Melindungi seluruh keluarganya di manapun mereka berada.


Tidak lupa, Winda memohon kesembuhan untuk buah hatinya, Vano.


Hari sudah mulai malam, Vani sudah tertidur sejak tadi. Winda mengecek suhu badan Vano dengan termometer dan suhunya menunjukan angka 36. Winda menarik nafas lega.


"Alhamdulillah, akhirnya suhu badannya turun juga."


Winda tersenyum melihat kondisi Vano sudah membaik. Winda memutuskan untuk tidur dikamar Vano sambil melihat perkembangan kesehatan Vano. Padahal kondisi Winda juga tidak dalam keadaan baik.


Jam sudah mulai menunjukan pukul 10 malam. Dimas berusaha sampai di rumah dengan kondisi yang sangat lelah. Berharap saat membuka pintu, Winda tersenyum menyambutnya. Tetapi harapannya tidak terkabul karena bibi yang membukakan pintu untuknya.


"Bibi, Nyonya dimana?"


"Nyonya sedang menjaga mas Vano. Mas Vano sakit, Pak Dimas."


"Vano sakit?! Sakit apa bik, kenapa aku tidak dihubungi?" tanya Dimas panik.


"Batuk dan demam Pak Dimas. Tapi tadi nyonya bilang Vano sudah turun panasnya. Apa perlu saya bangunkan Nyonya Winda?"


"Tidak perlu. Saya akan menemuinya sendiri," jawab Dimas lalu pergi.


Dimas menuju kamar Vano dan mendapati Winda tertidur di sampingnya. Dimas menyentuh wajah Vano untuk mengetahui suhu badan Vano yang kata bibik sudah turun. Terlihat wajah Dimas berubah santai saat mengetahui kondisi Vano baik-baik saja.


Setelah lega melihat Winda dan Vano sudah tertidur, Dimas bergegas mandi dan menyegarkan diri.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2