Istri Titipan Talak 3

Istri Titipan Talak 3
Bab 64. Gadis itu bukan anakku


__ADS_3

"Apa yang telah kamu lakukan, kamu pasti sudah tahu konsekuensinya pada putrimu. Aku tidak menyangka kamu akan melakukan itu, Winda," ucap Maya sambil menarik tubuh gadis kecil itu ke tepi bangunan yang sudah tidak berpagar.


"Jangan lakukan, Maya. Aku sungguh tidak mengatakan kepada siapapun," Winda menoleh kearah Bayu. "Mas Bayu, aku tidak memberitahumu tentang apa-apa, bagaimana kamu tahu aku ada disini?"


"Winda, aku kebetulan saja melihatmu pergi dengan tergesa-gesa. Aku penasaran kamu akan pergi kemana. Jadi aku mengikutimu hingga kesini."


"Diam kalian berdua! Winda, lihatlah kematian putrimu dihadapanmu. Kamu pasti akan sangat menyesali semua ini seumur hidupmu."


"Tolong Maya, jangan lakukan itu. Putriku sama sekali tidak bersalah. Aku yang akan menggantikan posisi Vani," kata Winda panik.


"Jangan Winda. Jangan lakukan itu!" teriak Bayu.


Winda tidak mendengarkan teriakan Bayu. Dia terus melangkah maju mendekati Maya untuk menggantikan posisi Vani sebagai sandera Maya. Winda sudah tidak perduli dengan apapun selain keselamatan Vani.


"Winda tunggu dulu, jangan lakukan itu!" suara Dimas terdengar jelas ditelinga Winda.

__ADS_1


Namun belum sempat Winda menoleh, Maya sudah lebih dulu mendorong tubuh Vani kearah Dimas. Maya dengan cepat menarik tubuh Winda. Maya memegangi tubuh Winda dan mengancam Winda dengan sebuah pisau yang terlihat sangat tajam.


Dimas menangkap tubuh kecil yang mulutnya tertutup lakban. Namun Dimas sangat kaget karena gadis kecil itu bukan Vani. Lalu dimana Vani?


"Kurang ajar kamu, Maya! Dimana putriku. Kamu penipu!" teriak Dimas.


Winda menjadi emosi karena ternyata gadis kecil yang didandani mirip Vani ternyata bukan Vani. Dimas berusaha mendekati Maya untuk menarik Winda. Winda berusaha meronta, namun Maya menggoreskan pisau dilehernya yang membuat lehernya terluka ringan.


Dimas menghentikan langkahnya karena takut Maya akan berbuat yang lebih nekat lagi.


Suara salah satu anggota kepolisian menggema hingga keatas gedung. Maya bertambah panik. Ternyata polisi sudah sampai dan hendak menangkapnya.


Dalam kepanikannya, hanya ada satu jalan yang terpikir oleh Maya. Mati bersama Winda. Dimas melihat ada pergerakan dari Maya ke tepi gedung. Dimas tampak panik dan cemas akan keselamatan istrinya yang sedang hamil. Winda menatap sayu wajah Dimas yang tampak penuh kecemasan.


Setelah itu, Winda melihat kearah Bayu yang memberi isyarat pada Winda untuk menggigit tangan Maya. Namun apa yang akan terjadi selanjutnya hanya faktor keberuntungan yang akan Winda hadapi.

__ADS_1


Winda mencoba percaya pada Bayu dan menyerahkan akhir dari takdir hidupnya pada Allah. Winda sekuat tenaga menggigit tangan Maya yang membuat Maya kesakitan dan melepaskan pisau yang ada ditangannya. Bayu dengan cepat menarik Maya dan mereka jatuh kebawah gedung bersama.


Sesaat Winda tak percaya jika Bayu tanpa pikir panjang, memutuskan akhir hidupnya dan Maya.


Dimas berlari mendekati Winda dan memeluknya erat. Dimas bersyukur Winda baik-baik saja. Tapi tidak bagi Winda. Bayangan Bayu dan Maya terjatuh terus bermain di pikirannya.


Dimas mengajak Winda turun setelah Zaki dan 2 orang anggota polisi naik untuk membantu korban. Polisi memeriksa seluruh ruangan rumah, namun mereka tidak menemukan Vani. Polisi hanya menemukan Deni yang terikat di kursi dan mulutnya dilakban.


Kedua korban jatuh, Maya dan Bayu segera dibawa ke rumah sakit untuk dirawat. Mereka mengalami luka patah tulang dan gegar otak. Mereka masih beruntung karena mereka terjatuh diatas tumpukan sampah yang telah menumpuk.


Winda dan Dimas sedih karena untuk sementara, harus menunggu hingga Maya tersadar. Keberadaan Vani tidak akan bisa mereka ketahui hingga Maya bisa menjelaskan sendiri.


Deni dan gadis kecil yang mirip Vani dikembalikan pada keluarga masing-masing.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2