
Sudah seminggu Lilis tidak bertemu Zaki. Yang sekarang sudah berstatus sebagai kekasihnya. Kangen tentu sudah merasuki hati Lilis yang sedang kasmaran.
Karena Zaki masih belum resmi dikenalkan pada kedua orangtuanya, Lilis tidak mengizinkan Zaki bertamu ke rumahnya untuk sekedar menyapa orangtuanya. Jadi jika kangen, Lilis yang datang pada Zaki.
"Mbak, Zaki nya ada?" tanya Lilis pada salah satu karyawan di toko.
"Ada, mbak Lilis. Tapi sekarang sedang ada tamu."
"Tamu? laki apa perempuan?" tanya Lilis penasaran.
"Kayaknya perempuan. Tapi dia pake masker, takut ketahuan kali mbak. Mungkin kita mengenal dia. Atau mungkin, dia artis," jawabnya sambil tersenyum.
"Mana mungkin ada artis nyasar ke toko ini. Benar-benar bikin penasaran. Lanjutkan saja pekerjaan kalian, aku temui ayang dulu," ucap Lilis sambil berlalu pergi.
Saat di depan pintu ruang kerja Zaki, Lilis berhenti. Terdengar suara yang tidak asing baginya.
"Mbak Winda," gumam Lilis.
Dia menguping pembicaraan Zaki dan wanita yang suaranya mirip Winda dengan hati berdebar-debar. Saat Lilis tahu bahwa wanita itu memang benar Winda, ingin rasanya Lilis masuk dan melihat dengan jelas kebenarannya.
Namun ketika Zaki ternyata telah mengetahui keberadaan Winda dan menyembunyikannya dari keluarganya terutama menyembunyikan dari kakaknya, Lilis merasa sakit hati. Dia merasa sebagai kekasih, tidak ada rasa saling percaya diantara mereka.
Lilis bersembunyi di samping ruangan Zaki saat Winda keluar. Lilis sudah tidak sabar untuk mengintrogasi Zaki. Tanpa mengetuk pintu, Lilis langsung membuka pintu dengan keras.
"Ada apa lagi mbak Winda?" tanya Zaki tanpa melihat siapa yang datang.
"Mbak Winda? Jadi yang datang tadi itu mbak Winda? Jadi selama ini kamu tahu keberadaan mbak Winda tapi tidak mau memberitahu kami? Kak Dimas adalah suaminya, tapi kamu tega membuat kak Dimas menderita selama 2 tahun," ucap Lilis tanpa henti.
"Lilis, dengarkan dulu penjelasan aku. Aku..."
__ADS_1
"Tidak, Zaki. Ternyata selama ini kamu tidak pernah menganggap aku sebagai bagian dari hidupmu? Jika tidak ada kejujuran diantara kita, kenapa harus terus bersama?" ucap Lilis penuh amarah.
"Lilis, aku tidak seperti yang kamu pikirkan. Semua ini atas keinginan mbak Winda. Aku, aku hanya demi dia," ucap Zaki gagap.
Zaki sangat cemas karena Lilis marah. Jika Lilis sudah marah, penjelasan seperti apapun tidak mampu masuk dalam hatinya. Butuh waktu untuk dia mencerna kembali semua saat dia sudah tenang.
"Lilis..."
Lilis keluar tanpa permisi. Panggilan Zaki tidak cukup mampu membuat Lilis kembali atau sekedar menoleh kearah Zaki. Zaki berusaha mengejar dan menghalangi Lilis dengan memegang kedua tangan Lilis.
Dengan sekali hentak saja, pegangan Zaki terlepas.
"Jangan mencariku," ucap Lilis lalu melangkah pergi dengan rasa sakit hati dan kesal.
Zaki benar-benar tidak mengejarnya lagi.
Lilis pergi dengan sepeda motornya menuju rumah sakit untuk memberitahu kakaknya tentang Winda. Semoga semua belum terlambat.
Lilis melangkah menyusuri koridor rumah sakit menuju ruangan Dimas.
"Kakak ada?" tanya Lilis pada asisten Dimas.
"Ada mbak. Kebetulan yang didalam pasien terakhir."
"Baiklah. Aku akan menunggu sebentar di sini."
"Silahkan, mbak."
Belum sempat Lilis duduk, pasien terakhir kakaknya sudah keluar. Lilis bergegas masuk dan segera mendekati kakaknya.
__ADS_1
"Kak Dimas, Lilis ada berita baik untuk kak Dimas," ucap Lilis duduk di kursi pasien.
"Kabar baik apa? Kamu sudah memutuskan untuk menikah?" tanya Dimas tersenyum.
"Menikah? Jangan ungkit masalah itu lagi kakak. Lilis lagi kesal sama dia," jawab Lilis kesal.
"Kakak mau istirahat sebentar. Cepat katakan," kata Dimas sambil duduk dengan tenang menunggu apa yang akan dikatakan Lilis.
"Kakak. Mbak Winda sudah kembali. Dia tadi menemui Zaki," kata Lilis berharap kakaknya senang mendengar kabar yang dia bawa.
"Oh..."
"Kok oh. Harusnya kakak senang dan segera membawanya pulang," ucap Lilis kesal.
"Kakak sudah bertemu dia. Tapi dia masih saja tidak mengaku jika dia adalah Winda. Kakak masih harus memastikan jika dia itu memang Winda."
"Kakak, dia pasti mbak Winda. Tadi dia bilang, akan pergi lagi keluar negeri dan mungkin tidak akan kembali kesini lagi. Kakak harus cepat bertindak sebelum terlambat. Bawa dia kembali kakak, aku mendukungmu," ucap Lilis penuh harap.
"Benarkah? Jadi dia memang Winda. Dia akan pergi lagi tanpa pamit padaku lagi?"
"Kakak, kak Dimas bisa menanyakan semua itu pad mbak Winda nanti. Sekarang bukan saatnya meratapi nasib. Ayo kak pergi dan bawa mbak Winda kembali."
"Kamu benar Lilis. Aku akan minta izin pulang cepat hari ini dan akan langsung mencari Winda. Doakan kakak berhasil."
"Aamiin. Lilis pergi dulu kak. Lilis harus kembali ke kantor," ucap Lilis yang segera bergegas pergi.
Tunggu aku sayang, aku akan membawamu kembali. Kamu istriku dan tempatmu adalah di sisiku.
Bersambung
__ADS_1