
Vano dan Vani berlari di ikuti pengasuhnya dari belakang. Sepertinya pengasuhnya kewalahan menghadapi keduanya. Nenek memang sengaja hanya menyewa satu pengasuh, karena baik nenek maupun Winda berharap bisa ikut mengasuh mereka.
"Mami..."
Suara panggilan untuk Winda terdengar menyenangkan. Mereka mengikuti cara keluarga nenek yang memanggil ayah ibu mereka dengan mami dan papi. Ada rasa canggung dengan panggilan itu, namun itu salah satu cara Winda berterimakasih pada nenek.
Mungkin jika suatu saat diberi kesempatan lagi memiliki anak, akan Winda ajari memanggil ibu dan ayah seperti dia.
Ngarep pingin punya baby lagi. Karena saat di vonis mandul, Winda hampir tidak ada harapan memiliki anak. Kini, saat semua itu ternyata hanya siasat Bayu saja, Winda ingin memiliki banyak anak. Untuk mengobati rasa sedihnya selama ini.
"Ada apa sayang? Kalian sudah bangun?" tanya Winda.
Dimas dan Winda yang sedang berpelukan, menoleh kearah mereka.
"Mami, Vano mau ama papi. Boleh?" tanya Vano.
Nggemesin memang anak satu cowok ini, mau ikut papinya minta izin dulu sama maminya. Sepertinya Vano tidak ingin membuat maminya sedih. Jadi segala sesuatu harus ada izin dari maminya dulu.
"Vani juga mami. Vani mau sama papi," Vani minta izin juga.
"Iya, sayang," kata Winda berusaha melepas pelukan Dimas.
Sedangkan Dimas masih enggan melepas pelukannya.
"Tapi, papi lagi peluk mami. Gimana dong?" kata Dimas menggoda kedua buah hatinya.
Vano dan Vani saling berpandangan. Lalu mereka menatap maminya.
"Mami..."
__ADS_1
Hanya kata itu yang luar dari mulut kedua anak itu.
"Mas Dimas, jangan menggoda mereka lagi. Kasihan, mereka itu kalau sudah begitu bisa ngambek seharian," kata Winda.
"Itu kalau mereka diluar negeri. Tapi sekarang mereka disini, di rumah ayah dan ibunya. Tenang saja. Itu urusan aku untuk membuat mereka ceria," kata Dimas sambil melepaskan pelukannya.
"Vano, Vani. Siapa yang mau papi ajak ke taman bermain?" tanya Dimas.
"Vano."
"Vani juga."
"Semuanya juga boleh ikut, termasuk mami. Tapi perginya besok saja, sekarang siapa yang mau suapin papi. Entar dapat cium dari papi. Coba cari kue untuk papi, sekarang," kata Dimas sambil tersenyum.
"Vano."
"Vani."
"Mas Dimas, aku mau bantu Vano sama Vani cari kue," kata Winda berusaha berontak.
"Biar mereka berusaha sendiri, berlatih mandiri. Papi sama maminya cukup melihat saja. Kalau mereka menyerah, baru kita bantu twins V," kata Dimas.
Twins V masih mencari kue untuk menyuapi papinya. Mereka sampai di depan meja kakek Dirga dan bu Sapna. Di sana ada sepotong kue yang masih tersisa. Twins V buru-buru meminta izin pad kakek.
"Kakek, Vano mau minta kuenya, boleh?" dengan nada imut.
"Vani juga kakek. Mau minta kuenya untuk papi," kata Vani lebih imut lagi.
"Papi, kalian disuruh papi ambil kue?" tanya kakek Dirga agak kesal.
__ADS_1
Anak sekecil itu disuruh-suruh ambil makanan. Memang dia tidak ada tangan dan kaki apa.
"Minta papi ambil sendiri!" perintah kakek.
Tetapi kedua twins V itu diam saja. Mereka tidak akan beranjak pergi sampai mereka mendapatkan kue untuk papi.
"Sudahlah ayah, kasih saja kuenya. Biar mereka bisa kembali. Pasti ulah Dimas, siapapun bisa kena ulahnya. Termasuk anak-anaknya sendiri juga di kerjai," kata bu Sapna.
"Dasar, Dimas. Ini kue untuk cucu-cucu kakek. Adanya cuma satu, jadi potong jadi dua saja ya, biar adil," kata kakek.
Twins V tersenyum sambil mengambil kue dari tangan kakek. Setelah ambil kue mereka tidak lupa mencium kakek dan nenek, baru melangkah pergi. Kakek Dirga dan bu Sapna merasa sangat senang melihat kelucuan cucu mereka. Pantas saja, Dimas senang mengerjai twins V, rupanya agar twins V bisa mengakrabkan diri dengan kakek dan nenek dan juga yang lain.
Setelah masing-masing mendapatkan kue, mereka kembali menemui sang papi yang terus menempel pada mami mereka.
"Papi, Vano udah bawa kue untuk papi."
"Wah, hebat anak papi. Dua-duanya ya, semua hebat. Sini suapin papi, biar besok bisa pergi ke taman bermain."
Dimas membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dari Vano setelah itu dari Vani. Tiba-tiba Vano protes pada papi Dimas.
"Papi, mami juga besok ikut, kenapa mami tidak menyuapi papi?"
"Oh, bener juga. Ayolah maminya anak-anak, giliran kamu nyuapin papinya anak-anak. Jangan kalah sama twins V dong," ucap Dimas sambil tertawa senang.
Kalau tidak begitu, kapan lagi ada kesempatan disuapi di depan banyak orang.
Bersambung
Terimakasih yang udah kasih like, koment, bunga dan vote. Love untuk kalian semua.
__ADS_1
Eni pua