
Dimas tersenyum, semakin lebar dan tertawa. Dia mengatur nafasnya yang yang tadi penuh ketegangan. Winda hanya tersenyum karena tadi dia berusaha memberi kejutan pada Dimas.
"Sayang, kau bikin aku kaget. Kukira tadi, hasilnya negatif. Alhamdulillah, semua sesuai harapanku. Kalau begitu, kita harus segera periksa ke dokter. Untuk mengetahui lebih jelasnya dan agar kamu diberi obat supaya kondisi tubuh kamu dan calon anak kita bisa sehat."
"Sekarang?"
"Iya, aku sudah minta asistenku untuk mendaftarkan atas namamu. Jadi kita tinggal berangkat saja."
"Bagaimana dengan anak-anak, mas?"
"Kamu tenang saja. Twins sudah berangkat sekolah sama mbak Novi."
"Lho, Vano kan baru saja sembuh? Masak sudah berangkat sekolah," kaya Winda kaget.
"Vano memang rajin dan sakitnya kemarin tidak menghalangi semangatnya belajar. Biarkan saja, dia belajar memilih, kita hanya perlu mendukungnya."
"Bantu awasi dia ya mas. Aku mungkin tidak bisa mengawasinya untuk sementara."
"Tentu. Apa perlu aku minta ibu untuk datang membantumu?"
"Tidak perlu, mas. Jangan merepotkan ibu. Kita berangkat saja."
Inilah pertama kalinya Dimas menemani Winda memeriksakan kehamilannya. Ada perasaan bahagia yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata. Menikmati hari-hari sebagai calon ayah baru.
Setelah menjalani pemeriksaan dan mendapatkan vitamin untuk kesehatan ibu dan bayinya, Diana sudah tidak sabar ingin segera memberitahu seluruh keluarga besarnya. Namun, yang pertama harus tahu adalah Twins.
Mereka menunggu Twins pulang sekolah untuk memberitahu mereka tentang kehadiran sang adik.
__ADS_1
Ketika Twins sudah pulang sekolah dan selesai berganti pakaian, Dimas dan Winda secara perlahan memberitahu mereka.
"Anak-anak, pingin nggak kalian memiliki adik?" tanya Dimas.
"Vani pingin, Papi."
"Vano juga. Tapi Vano pinginnya cowok, biar bisa main bola Sam Vano."
"Keinginan kalian bakal terwujud. Mami bakal punya dedek bayi. Seneng nggak?" tanya Dimas.
"Beneran, papi. Mami mau punya dedek bayi?" tanya Vani.
"Bener. Jadi kalian tidak boleh buat Mami sedih apa lagi buat Mami kecapekan. Kalian sudah harus belajar mandiri. Okei?"
"Okei papi. Mami, dedek mau makan apa?" tanya Vani sambil mendekati Winda yang tersenyum mendengar pertanyaan Vani.
"Dedek mau makan mangga. Memang Vani mau ambilkan?" tanya Winda menggoda Vani.
"Tunggu, kalian mau kemana!?" teriak Dimas menghentikan Twins yang sudah hampir berlari.
"Papi, kita mau ambil mangga di samping rumah," kata Vano.
"Iya, Papi. Kita mau membantu Mami, biar dedek bayi dan Mami senang."
"Bukan cuma Klian yang pingin buat Mami seneng. Papi juga. Ayo, kita berangkat," ajak Dimas.
Twins V mengikuti Dimas menuju pohon mangga di samping rumah yang kebetulan sudah berbuah, jadi tidak perlu mencari ketempat yang jauh.
__ADS_1
"Siapa yang manjat?" tanya Dimas pada kedua anaknya.
"Papi," jawab Twins V bersamaan.
Dimas tertegun menatap pohon mangga yang sebenarnya tidak terlalu tinggi. Hanya saja, Dimas pernah mengalami trauma saat naik pohon mangga saat kelas 5 SD dulu. Dimas terjatuh hingga kakinya retak. Sampai sekarang, Dimas trauma dan tidak pernah berani memanjat pohon.
Melihat Twins penuh harap padanya dan wajah Winda yang saat ini sedang menatapnya penuh tanda tanya, Dimas mencoba naik perlahan sambil berdoa. Mengalahkan rasa trauma dihatinya yang sudah sekian lama. Akhirnya sampai juga dia diatas pohon mangga.
Dimas memejamkan mata sesaat sebelum akhirnya melihat buah mangga yang ranum yang diinginkan Winda. Dimas memetik 5 buah mangga lalu dimasukkan kedalam kantong plastik yang dibawanya.
Setelah selesai, Dimas turun perlahan sambil memegangi sekantong plastik buah mangga di tangannya. Sampai dibawah, dia menyerahkan kantong plastik itu kepada Vani lalu dia terduduk lemas di tanah.
"Mas Dimas kenapa?"
"Aku hanya lelah saja."
"Padahal tadi aku mau bilang, kalau metiknya pakai galah saja. Eh, mas Dimas udah naik duluan."
"Apa, kenapa tidak bilang lebih awal. Kamu tahu, aku sejak kecil trauma naik pohon mangga. Tapi demi kamu, aku melawan rasa trauma itu. Aku..."
"Mas Dimas hebat. Demi aku, bisa melakukan apa yang paling mas Dimas takutkan selama ini. Selamat menjadi calon ayah impian," ucap Winda menyemangati Dimas.
"Benar juga. Terimakasih, sayang."
"Anak-anak, kasih mangganya sama Mami. Kita hanya bisa melihat dan menemani Mami makan mangga saja."
Banyak perubahan ketika Winda sedang hamil. Winda yang mandiri, kini berubah manja dan selalu ingin ditemani. Apalagi kalau masalah makan, kalau dia sedang tidak mood dia tidak akan mau makan.
__ADS_1
Bersambung
jangan lupa like dan koment ya