
Dimas termenung seusai menangani pasien penyakit jantung yang akhirnya meninggal dunia. Semua tidak berjalan lancar seperti biasanya. Ternyata Tuhan berkehendak lain, pasien yang sedang Dimas tangani meninggal dunia tepat dihadapannya meski Dimas sudah berusaha sebaik mungkin.
Dimas pulang dengan wajah kusut dan tak bersemangat. Wajah pasien itu terus terbayang dimatanya. Dimas langsung terduduk lemah di sofa ruang tamu.
Winda yang membukakan pintu merasa heran dengan kondisi Dimas.
"Mas Dimas, ada apa? Kenapa mas Dimas tampak gelisah?" tanya Winda pelan.
"Tadi ada pasien yang meninggal saat aku tangani. Aku merasa sangat sedih dan terpukul karena tidak bisa menyelamatkan nyawanya," jawab Dimas dengan suara parau.
"Bukankah mas Dimas pernah berkata hidup dan mati sudah diatur oleh Tuhan. Kita hanya bisa berusaha tapi tetap Tuhan yang menentukan," kata Winda mengingat ucapan Dimas.
"Tapi, bayangan itu sulit aku hilangkan."
"Mas, butuh istirahat. Mandilah dan istirahatlah agar mas Dimas bisa semangat kembali untuk menolong pasien yang lain."
Dimas segera melangkah pergi menuju ke kamarnya. Dia memang harus segera bangkit kembali karena kedepannya masih banyak hal yang menunggu untuk di jalankan. Selalu menolong orang meski tetap Tuhan yang menentukan.
Sejak itu, Dimas semakin yakin jika Winda memang yang terbaik untuknya. Dia mampu memberi semangat saat Dimas merasa jatuh dan terpuruk. Namun, lagi-lagi dia harus mengingat bahwa Winda hanyalah titipan sahabatnya.
Dimas kembali lesu dan tidak ingin pulang ke rumah. Karena dia merasa malu pada dirinya sendiri karena tidak dapat memutuskan apa-apa tentang masa depannya. Setiap kali bertemu Winda, perasaan sayang itu selalu menekannya untuk memilih Winda.
Dimas pergi ke rumah orangtuanya untuk sekedar menghilangkan rasa galaunya. Dia duduk termenung di samping rumah sambil memandang bulan yang bersinar terang.
Lilis datang menghampiri Dimas sambil membawa secangkir kopi latte kesukaan kakaknya.
"Kak Dimas, Lilis lihat kakak sedang ada masalah. Benar kan?" tanya Lilis sambil duduk didekat kakaknya." Boleh Lilis tebak?"
"Boleh. Coba saja," ucap Dimas sambil tersenyum.
"Kak Dimas sedang jatuh cinta. Ya kan, ya kan?"
__ADS_1
"Tahu apa kamu tentang cinta. Kamu juga belum pernah jatuh cinta."
"Kakak, meskipun Lilis belum pernah jatuh cinta, tapi Lilis bisa melihat tanda-tanda orang yang sedang jatuh cinta. Ya kayak kakak ini, kacau," ucap Lilis sambil tertawa pelan.
"Menurutmu, apa yang harus kamu lakukan jika kamu mencintai orang yang salah?" tanya Dimas.
"Cinta itu tidak ada yang salah. Cinta ya cinta. Apalagi jatuh cinta dengan istri sendiri, itu lebih baik lagi. Keren kak dan memang harus mencintai istri jika mau hidup bahagia," jawab Lilis.
"Jatuh cinta dengan istri sendiri, maksud kamu siapa? Aku?" tanya Dimas sambil menunjuk dirinya.
"Siapa lagi, yang punya istri diantara kita kan hanya kakak," kata Lilis sambil tertawa lagi.
"Bercanda terus ya. Sini, aku mau acak-acak rambut kamu," ucap Dimas sambil berdiri.
"Ampun kakak," kata Lilis sambil berlari masuk kedalam rumah.
Dimas menghela nafas panjang. Mungkin benar kata Lilis, jatuh cinta dengan istri sendiri itu tidaklah salah. Dimas akhirnya memutuskan untuk pulang kembali ke rumah setelah yakin cinta yang dirasakannya bukanlah sebuah kesalahan.
Timbul hasrat dan gairah didalam hatinya ketika melihat Winda sedang menyisir rambut basahnya. Dimas segera pergi ke kamar mandi dan berdiri tepat dibawah air shower yang mengalir. Dia berusaha memadamkan api didalam hatinya.
Selesai mandi, Dimas keluar dengan hanya memakai handuk. Dimas tidak menyangka jika Winda masih duduk di depan meja riasnya dan juga belum berganti pakaian.
"Winda, kenapa belum berganti pakaian?" tanya Dimas kaget.
"Kakiku sakit mas. Tadi di kamar mandi aku hampir jatuh, karena kakiku terbentur pintu," jawab Winda.
"Coba aku lihat. Kaki yang terbentur kakimu yang retak kemaren?"
"Iya mas."
Dimas melihat kaki Winda memang agak merah akibat benturan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Minum obat pereda sakit saja."
Dimas mengambil obat pereda sakit untuk Winda. Setelah itu, Dimas meminta Winda untuk segera meminumnya. Agar sakitnya segera hilang.
"Aku bantu kamu pindah ke tempat tidur. Segeralah istirahat," kata Dimas.
Dimas lalu mengangkat tubuh Winda tanpa ingat bahwa saat itu dia sedang telanjang dada. Winda dengan wajah malu mengalungkan kedua tangannya di leher Dimas yang membuat hati Dimas berdesir. Kulit lembut Winda menyentuh dadanya membuat gairah itu muncul kembali dan menguasainya.
Dimas merebahkan Winda dan di atas tempat tidurnya dan tidak sengaja wajah mereka begitu dekat. Winda masih belum melepaskan tangannya dari leher Dimas. Suasana jadi tidak terkendali.
Dimas mendekatkan wajahnya dan mencium bibir merah Winda yang tanpa penolakan. Bahkan setelah beberapa saat Winda mulai membalas ciuman Dimas.
Merasa mendapat lampu hijau, Dimas mulai berani melangkah lebih jauh. Ciumannya mulai merambat ke leher Winda yang membuat Winda merasakan sensasi kenikmatan yang lama tidak dirasakannya.
Dimas benar-benar ingin melampiaskan keinginannya yang lama ingin dilakukannya sejak dulu. Winda telah membuatnya menjadi seorang suami yang sebenarnya bukan hanya sekedar status.
Dimas dan Winda menciptakan malam penuh gairah yang membuat mereka lupa semua yang mereka khawatirkan selama ini tentang pernikahan mereka.
Setelah mereka mencapai puncak kenikmatan, mereka terlelap tidur sambil berpelukan.
Esoknya, Dimas terbangun dan tidak mendapati Winda di sampingnya. Dimas sangat panik dan mengira jika Winda menyesal telah bercumbu dengannya semalam. Padahal, Dimas berharap, Winda akan merindukan suasana semalam untuk bisa diulang kembali.
Apakah benar Winda menyesal telah tidur dengan Dimas?
Hari readers
otor bawa rekomendasi novel yang apik karya temen otor berjudul Zafrina Mendadak Nikah karya Emmarisma jangan lupa like koment dan fav ya...
Terjebak dalam Friendzone membuat Zafrina dan Zico nyaman satu sama lain. keduanya sama-sama memiliki perasaan lebih namun mereka ragu untuk mengungkapkannya.
Rian papi Zafrina dan Zafa kakaknya berniat membuat kedua sahabat itu saling mengakui perasaannya, tapi suatu kejadian justru membuat Zafrina dan Zico dipaksa menikah.
__ADS_1