Istri Titipan Talak 3

Istri Titipan Talak 3
Bab 52. Maya kesal


__ADS_3

Suasana pagi diakhir pekan sangat cerah. Pertama yang dilakukan Dimas adalah mengajak anak-anak pergi ke tempat bermain, seperti janjinya kemarin. Winda sudah mendandani twins V dengan pakaian santai.


Tidak banyak yang mereka bawa, hanya pakaian ganti dan bekal beberapa makanan kesukaan twins V. Twins V sangat senang karena mereka akan diajak ke tempat bermain.


Mereka sengaja meliburkan pengasuhnya supaya dia bisa beristirahat. Terlebih lagi, mereka ingin menikmati hari ini hanya berempat.


Perjalanan yang menyenangkan bagi keluarga kecil mereka. Sepanjang jalan Twins V tidak mau diam. Ada saja yang mereka tanyakan pada maminya, sampai maminya kewalahan menjawab.


"Kita sudah sampai twins V, sayang."


Dimas membukakan pintu untuk ketiga orang paling berarti dalam hidupnya saat ini. Dimas menggendong Vano dan Winda menggendong Vani.


Mereka berjalan menuju tempat pembelian tiket masuk. Setelah itu mereka menuju wahana bermain. Begitu banyak pilihan. Namun Dimas hanya membolehkan permainan yang aman untuk anak seusia twins V.


Dimas dan Winda menemani twins V dengan sabar. Sambil sesekali Dimas menggoda Winda. Mereka tidak menyadari, jika kebahagiaan mereka membuat seseorang merasa sedih dan kecewa. Dia adalah Maya.

__ADS_1


Maya juga kebetulan membawa anaknya datang ke wahana bermain itu. Maya melihat kebahagiaan keluarga Dimas dan Winda dengan hati kesal. Ada rasa dendam yang kini muncul dihatinya.


Maya segera membawa pulang anaknya, karena tidak tahan melihat kemesraan keluarga Dimas. Sepanjang perjalanan, Maya tampak kesal.


"Ibu, kenapa kita pulang? Deni masih mau main, ibu?" tanya Deni.


"Bisa diam nggak?! Kamu tidak bisa membuat ayah kamu menerima ibu. Kamu tidak ada gunanya. Harusnya aku tidak melahirkan kamu ke dunia, jika hanya bikin susah saja," kata Maya marah.


Maya menghentikan mobilnya hingga membuat Deni ketakutan.


"Kenapa kamu tidak mati saja, Deni."


"Diam anak manja! Bisa diam tidak, atau mau aku cubit lagi?! Mau?!"


"Tidak, ibu," jawab Deni berusaha menahan yg tangisnya.

__ADS_1


Maya kini telah menjadi ibu yang buruk untuk Deni. Memang, kelahiran Deni menjadi harapan satu-satunya bagi Maya untuk mengikat Dimas. Setelah usahanya merayu Dimas dengan cinta dan tubuhnya tidak mampu membuat hati Dimas luluh.


Tetapi kini, keberadaan Deni telah tergantikan dengan kehadiran anak Dimas dan Winda sendiri. Jadi sekarang, Maya benar-benar merasa kalah.


Seorang Maya yang tidak pernah di tolak lelaki manapun, kini hanya tinggal kenangan. Maya sudah semakin tua untuk menjadi model ditambah badannya yang sudah tidak seseksi dulu lagi.


Maya tidak tahu, siapa ayah kandung Deni. Sehingga Maya bingung harus meminta pertanggungjawaban pada siapa. Mereka menolak mengakui keberadaan Deni karena Maya melakukan hubungan bukan hanya dengan satu pria saja.


Saat itu, Maya meminta Dimas untuk menikahinya, agar Maya bisa memiliki Dimas kembali dan anak yang dikandungnya memiliki ayah. Namun, tidak ada satupun yang berhasil, bahkan kini semuanya seolah semakin tidak berpihak padanya.


Kebahagiaan dan ketenaran yang pernah Maya miliki, kini bagai debu yang tertiup angin. Dia kini bukan siapa-siapa, dan tidak ada satupun keluarganya yang mengakui dia sebagai keluarga mereka lagi.


Apalagi orangtuanya, yang merasa malu saat mereka tahu, Maya menjadi model majalah pria dewasa. Mereka menolak mengakui Maya dan memutus hubungan dengan Maya, karena Maya tidak mau berhenti menjadi model majalah dewasa.


Maya merasa tertekan sekarang ini dan tidak ada siapapun yang bisa menjadi pelampiasan selain anaknya , Deni. Namun terkadang, Maya merasa kasihan pada Deni. Anak sekecil itu hanya bisa menangis dan menangis saja.

__ADS_1


Maya kini putus asa dan mulai terganggu jiwanya. Akankah dia melakukan hal bodoh untuk melampiaskan kekesalannya?


Bersambung


__ADS_2