
Rumah kediaman keluarga Herman.
Sebuah kamar yang cukup luas dan mewah bagi seorang anak seusia Deni. Sinar matahari mulai menyembul dari balik jendela yang baru saja dibuka oleh seorang ibu muda yang masih sangat cantik.
Sekar, istri Hendra yang juga kini menjadi ibu tiri Deni. Deni di asuh sejak 2 tahun lalu setelah Maya menikah siri dengan Hendra tanpa sepengetahuan Sekar. Sekar mengetahui pernikahan siri suaminya dengan Maya setelah Deni dibawa pergi oleh Maya kemarin. Hendra mengaku dan meminta maaf pada Sekar.
Sekar sangat marah pada Hendra karena telah membohonginya. Namun ketika Hendra mengatakan bahwa pernikahan itu adalah syarat jika ingin mengasuh Deni. Hati Sekar luluh juga.
Hendra tertawa dalam hati, karena dia sudah bisa membuat Sekar percaya bahwa pernikahan ya dengan Maya demi Sekar. Tidak bisa dia pungkiri, Maya memiliki daya tarik dan bisa memuaskannya diatas ranjang. Maya wanita yang penuh gairah liar yang tinggi dan penuh gaya menggoda yang mampu membangkitkan gairahnya.
Berbeda dengan Sekar, wanita lemah lembut dan anggun yang memang sangat cantik. Namun di dalam urusan ranjang, Sekar masih kalah jauh dari Maya. Hendra memang lelaki yang menyukai gairah liar Maya dan Maya-Maya lain di luar sana.
Namun sebenarnya bagi Deni, orang yang dianggap ayah kandungnya adalah Dimas, bukan Hendra. Hal itu tertanam sejak kecil dan tidak ada yang bisa menghapusnya sampai kini.
Sekar mendekati Deni yang mulai menggeliat dan membuka matanya.
"Anak Mama, sudah bangun?"
"Mama..."
"Deni, kenapa kamu terlihat sedih? Apa kamu ingin bertemu ibumu?"
"Tidak Ma. Deni teringat Vani, anak ayah Dimas. Apakah dia sudah ketemu?" tanya Deni sambil menatap mama Sekar.
"Belum, semua masih menunggu ibumu sadar dari komanya."
Sekar duduk di samping Deni, sambil memegang bahu Deni yang terlihat sedih.
Deni teringat hari itu, saat ibunya membawa Vani pergi ke rumah dipinggiran kota bersamanya.
Flashback on
Maya, Deni dan Vani berada disebuah taksi yang melaju kencang menuju pinggiran kota. Vani masih dalam kondisi belum tersadar dari obat bius yang sempat dihirupnya. Sementara Deni terus memandangi Vani, anak dari ayah Dimas yang pasti adalah saudaranya. Itulah yang ada dalam pikirannya saat itu.
Deni hanya diam saja, tidak berani membantah perkataan ibunya. Deni tahu betul, ibunya orang seperti apa. Perlakuan buruk ibu Maya pada dirinya sejak kecil, masih terus membekas hingga kini.
__ADS_1
Di rumah keluarga papa Herman dan mama Sekar, Deni barulah menemukan sebuah keluarga yang benar-benar menyayanginya. Walupun di hati Deni, belum bisa menganggap mereka sebagai keluarga kandung.
Setelah perjalanan cukup lama, sampailah mereka disebuah rumah tua yang sudah tidak terpakai. Maya menggendong tubuh Vani turun dari taksi diikuti Deni. Setelah Maya membayar biaya taksi, taksi segera pergi.
Maya meletakkan tubuh Vani diatas kursi kotor di dalam rumah kosong tersebut. Maya mencari seutas tali lalu tangan dan kaki Vani diikat di kursi tersebut. Deni ingin sekali mencegah perbuatan ibunya. Namun rasa takutnya sangatlah besar, seolah Deni mengalami trauma.
"Deni, ibu pergi sebentar untuk mencari makanan. Kamu pasti sudah lapar bukan? Ingat, jangan sekali-kali melepaskan ikatan gadis kecil itu."
Deni mengangguk pelan. Setelah mengancam Deni dan Maya sangat percaya kalau Deni tidak akan berani dengan ancamannya, Maya pergi mencari makanan di kampung seberang.
Tidak berapa lama, Vani terbangun dan dia terkejut mendapati dirinya yang terikat di kursi dan tidak bisa bergerak. Vani mulai menangis dan memanggil nama Mami dan Papinya.
"Mami, Papi. Vani takut. Kalian ada dimana?"
Deni mendengar tangisan Vani yang semakin kencang. Deni merasa kasihan pada Vani yang bagaimanapun merupakan anak ayah Dimas. Berarti juga saudaranya.
Deni perlahan mendekati Vani. Ada keinginan dihatinya untuk membantu Vani. Akan tetapi ancaman sang ibu jelas terdengar di telinganya.
"Kakak, kenapa hanya aku yang diikat? Tolong lepaskan tali ini kakak?" ucap Vani membuatnya sedih.
"Iya Kaka. Vani berjanji."
Deni membuka ikatan tangan dan kaki Vani dengan susah payah. Setelah berhasil, Deni meminta Vani segera pergi sebelum ibunya datang.
"Pergilah, sejauh-jauhnya dari tempat ini. Jika bertemu seorang wanita, kamu harus sembunyi."
"Lalu kakak bagaimana? Kakak tidak pergi bersamaku?"
"Tidak, kakak tetap disini."
Deni mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Gantungan tas yang pernah dibelinya saat Deni ulangtahun yang ke 5 kemarin. Sepasang gantungan tas yang akan menjadi simbol hubungan antara Vani dan Deni suatu saat nanti.
"Simpan ini. Satu untuk kamu dan satu lagi untuk aku. Jika kamu merasa sedih dan ketakutan, lihatlah gantungan ini. Anggaplah aku ada di dekatmu," ucap Deni kepada Vani yang masih belum berhenti menangis.
"Terimakasih, Kaka."
__ADS_1
"Jangan menangis lagi. Suaramu bisa di dengar oleh ibuku. Cepat pergi, sekarang!"
Vani melangkah keluar rumah kosong itu sambil menggenggam gantungan tas pemberian Deni. Sesekali Vani menoleh pad Deni dan Deni terus memberinya semangat untuk segera pergi.
Setelah Vani menghilang di balik rimbunnya pohon, Deni duduk di kursi bekas duduk Vani sambil menunggu sang ibu kembali. Selang setengah jam, Maya kembali. Maya terkejut ketika Maya melihat yang duduk di kursi bukan Vani melainkan Deni anaknya.
"Deni, mana Vani."
"Ibu, Deni..."
"Kamu tidak mendengarkan perkataan ibu. Kamu melepaskan Vani? Dasar anak tidak tahu diri."
Sebuah tamparan mengena tepat di wajah Deni. Deni tahu, ibunya pasti akan sangat marah dan dia sudah siap dengan segala resikonya.
Maya bingung karena dia sudah terlanjur menghubungi Winda untuk datang. Maya memutar otak dan mendapatkan suatu ide untuk mencari seorang anak gadis kecil yang mirip Vani.
Deni dikurung ibunya disebuah kamar kosong untuk menghindari jika Deni berani melepaskan gadis kecil yang disewanya untuk menggantikan Vani sementara. Sulit mencari anak gadis yang mau disewa, akhirnya dengan imbalan uang cukup besar, Maya berhasil mendapatkannya.
Flashback off
"Deni, kamu sedang memikirkan apa?" tanya mama Sekar.
"Tidak, mama. Deni hanya kasihan pada Vani."
"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Semoga gadis kecil itu baik-baik saja."
Deni tidak berpikir untuk mengatakan semua rahasia itu, Karena takut jika dia mengatakan semuanya, ibunya tidak akan ada lagi yang memperhatikan di rumah sakit.
Maafkan aku Vani. Lain kali, jika ibu sudah mulai sadar, aku akan berbicara pada mami mu.
Bersambung
jangan lupa beri dukungan ya like dan koment
mkasih
__ADS_1