
Sepulang kerja Dimas mampir ke rumah orangtuanya. Kebiasaan itu memang sudah ada sejak dia menikah dengan Maya dan berlanjut hingga kini. Meski hanya seminggu dua kali ataupun jika dia sibuk, dia akan mampir satu kali seminggu.
"Assalamualaikum..." ucap salam Dimas saat membuka pintu.
"Wa'alaikum salam..."
Jawaban Lilis dan kedua orangtuanya hampir bersamaan. Dimas langsung meletakkan tasnya di samping dia duduk.
"Dimas, hari ini kamu tampak lelah. Banyak-banyaklah istirahat sehabis operasi. Biar besok kamu bisa fresh lagi," kata ibu Sapna cemas.
"Iya Dimas. Kau tidak perlu mampir kesini. Tunggu sampai kamu tidak sibuk, baru datang kemari," tambah ayah Dirga.
"Kak Dimas, kebetulan kakak datang. Lilis ingin mengatakan sesuatu. Tapi maaf jika nanti membuat kakak sakit hati," ucap Lilis kesal.
"Katakan saja, kakak tidak akan marah," kata Dimas sambil tersenyum.
"Lilis, jangan buat kakak kamu marah ya. Dia baru saja datang, harusnya biarkan kakak kamu istirahat," kata sang ibu.
"Ibu tenang saja, Lilis hanya bertanya kok. Tidak akan lebih jauh lagi," jawab Lilis lembut.
"Oke. Silakan bertanya atau berkomentar mengkritik kakak," goda Dimas.
"Kenapa kakak begitu dekat dekat dengan mbak Maya, wanita tukang selingkuh itu. Apa kak Dimas sudah melupakan mbak Winda?"
__ADS_1
"Tidak. Aku sama sekali tidak melupakan Winda. Bahkan mungkin tidak akan pernah. Dia adalah istriku. Dan selamanya hanya dia satu-satunya istri kakakmu ini."
"Tapi kak, semua orang akan berpikir lain."
"Jika kakak berniat rujuk dengan Maya, Lilis akan menentangnya. Lilis tidak akan pernah setuju.
"Adikku yang cantik, siapa yang bilang kakak mau rujuk dengan Maya. Kalau kakak mau rujuk, sudah dari dulu kakak lakukan," jawab Dimas sambil terus menggoda Lilis yang kesal.
"Nah, itu dengar sendiri jawaban kakak kamu. Kamu sekarang bisa tenang. Tidak perlu tiap hari ngedumel mulu, kesal sama kakakmu," kata bu Sapna tersenyum.
"Ayah malah pingin kamu menikah lagi. Kami menginginkan keturunanmu untuk kelangsungan penerus keluarga kita."
"Ayah, tidak perlu khawatir soal anak. Aku sudah melakukan perjanjian dengan Maya, jika anaknya akan menjadi anakku."
"Ayah. Jika ayah menginginkan cucu, nikahkan saja Lilis. Dia bisa segera memberi kalian keturunan."
"Kakak, kenapa larinya malah ke aku. Ayah maunya anak dari kak Dimas bukan aku. Iya kan ayah?" ucap Lilis merajuk.
"Kalau bisa dari kalian berdua," jawab pak Dirga agak kesal pada Dimas.
Dimas selalu mengelak jika membicarakan masalah keturunan. Karena dia dan Winda tidak akan pernah memiliki anak. Dan Dimas tidak ingin menikah lagi hanya untuk menyenangkan hati orangtuanya.
"Dimas pamit pulang dulu, Dimas capek mau istirahat. Kalian segera istirahat juga," kata Dimas sambil berdiri lalu mengambil tasnya.
__ADS_1
"Dimas, kau pikirkanlah lagi apa yang ayah katakan," kata ayah Dirga.
"Assalamualaikum," ucapan salam Dimas lalau melangkah pergi tanpa peduli ucapan ayahnya.
"Wa'alaikum salam."
Mereka bertiga menjawab salam Dimas hampir bersamaan.
"Ayah, jangan terlalu keras memaksa Dimas," kata bu Sapna.
"Iya, ayah. Kakak masih belum bisa melupakan mbak Winda," ucap Lilis membela kakaknya.
"Sejujurnya, ayah juga tidak ingin memaksa dia menikah lagi. Tapi, ini kedua kalinya Dimas mengalami hal itu. Ayah takut dia mengalami trauma dan dia tidak mau menikah lagi untuk selamanya. Bukankah kita juga akan ikut sedih?" kata pak Dirga.
"Bener juga kata ayah. Tapi kita harus lebih sabar saja. Ibu takut dia memilih Maya karena kita terus mendesaknya. Wanita itu licin sekali seperti belut. Dimas juga, bukan darah dagingnya tetapi dia selalu mementingkan anak itu," kat bu Sapna kesal.
"Ibu, kakak bukan mementingkan mbak Maya, tetapi anaknya," jawab Lilis.
"Sama saja, Lis," kata bu Sapna.
"Kita harus memastikan, Dimas tidak akan pernah menikah dengan Maya," kata sang ayah.
"Beres ayah. Lilis yang akan terus mengikuti perkembangan kakak untuk memastikan itu," kata Lilis senang karena dia akan menjadi seorang detektif. Detektif cinta.
__ADS_1
Bersambung