
Dimas memandangi kamarnya yang terasa sepi. Winda benar-benar tidak ada di sini, di rumah ini. Dimas melangkah keluar untuk menemui bibi. Karena biasanya jika ada sesuatu, Winda pasti akan berpesan pada bibi.
"Bibi, apa bibi tahu kemana nyonya pergi?" tanya Dimas saat bertemu bibi di dapur sedang membereskan dapur.
"Tidak, tuan. Tapi tadi memang bibi lihat, nyonya Winda berpakaian rapi sekali. Nyonya berkata untuk tidak mengunci pintu karena nyonya akan pulang agak malam. Itu saja tuan," jawab bibi.
"Itu saja?! Tidak ada yang lain?!"
"Maksud tuan apa? Bibi sama sekali tidak mengerti," tanya bibi bingung.
"Tidak bibi. Maafkan aku telah membuat bibi bingung. Silahkan lanjutkan kerja bibi dan segera istirahat," kata Dimas sambil menghela nafas.
"Baik, tuan. Terimakasih," jawab bibi.
Dimas tidak bisa berhenti mencari. Bahkan wajahnya semakin menampakkan rasa paniknya yang kian menyesakkan dadanya. Terpikir olehnya untuk mencari ke rumah Zaki. Mungkin saja Winda mengatakan pada Zaki kemana dia pergi.
Dengan perasaan gelisah, Dimas bergegas memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Dimas ingin segera mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan yang saat ini ada di kepalanya.
Sesampai di rumah kontrakan Zaki, Dimas langsung mengetuk pintu dengan keras.
"Siapa? Tunggu sebentar. Nggak sabaran banget sih. Ya...ya," teriak Zaki.
Dimas hanya diam mendengar teriakkan Zaki. Zaki dengan cepat membuka pintu dan kaget melihat Dimas yang datang.
"Mas Dimas, ada apa mas? oh masuk dulu."
"Zaki, apa Winda bilang sesuatu padamu? Misalnya dia sedang ada masalah atau dia ada keluhan?"
"Masuk dan duduklah dulu, mas. Tenang..."
Dimas duduk dengan wajah lesu. Matanya dipenuhi bayangan Winda.
"Katakan, sebenarnya ada apa dengan mbak Winda?"
"Dia tidak ada di manapun. Dia pergi meninggalkan aku," ucap Dimas parau.
__ADS_1
"Apa?! Mana mungkin mbak Winda pergi," kata Zaki tidak percaya.
"Padahal dia sudah berjanji kalau dia tidak akan pernah meninggalkan aku. Kau tahu Zaki, aku bahkan belum memberinya tanda cinta yang sudah lama aku siapkan untuknya," kata Dimas sedih.
"Mas Dimas, jangan putus asa dulu dan jangan berpikir macam-macam. Mari kita cari bersama," ucap Zaki memberikan semangat untuk Dimas yang sudah mulai putus asa.
"Aku sudah tidak bisa berpikir lagi. Aku pun tidak tahu harus mencarinya kemana lagi."
"Mas Dimas, kita bisa mencoba mencari ke rumah sakit terdekat. Aku tidak berharap hal buruk pada mbak Winda, tetapi hal terburuk itu mungkin saja terjadi."
"Baiklah, Zaki. Mari kita segera berangkat. Aku tidak ingin terlambat."
Zaki bergegas mengunci rumahnya dan pergi bersama Dimas menuju rumah sakit terdekat. Zaki segera bertanya pada petugas jaga unit gawat darurat.
"Apa ada wanita korban kecelakaan?"
"Maaf pak, tidak ada," jawab petugas jaga.
Zaki dan Dimas bernafas lega. Berarti Winda dalam keadaan baik-baik saja. Mereka beralih ke rumah sakit lain dan bertanya hal yang sama. Hingga ke beberapa rumah sakit, jawabannya tetap sama.
"Mas Dimas, bagaimana kalau kita menemui mas Bayu. Siapa tahu dia tahu keberadaan mbak Winda?" kata Zaki berasa ada harapan.
"Benar. Atau dia yang sudah melakukan hal yang buruk pada Winda karena dia sakit hati semua rencananya gagal?" gumam Dimas.
"Bisa jadi mas. Tapi sekarang sudah sangat larut malam. Mas Dimas sebaiknya pulang dulu saja. Siapa tahu mbak Winda tiba-tiba pulang, dia pasti bingung melihat mas Dimas tidak ada di rumah," ucap Zaki.
"Kamu benar Zaki. Mungkin dia hanya ingin bermain petak umpet denganku," ucap Dimas berusaha menenangkan hatinya yang mulai ragu.
Dimas mengantar Zaki pulang sebelum akhirnya dia pulang kembali ke rumahnya. Dimas kembali memeriksa setiap sudut rumahnya dan berharap dia bisa menemukan istrinya. Akan tetapi semua masih tetap sama. Dia tidak ada.
Mungkin, ini hukuman. Karena aku telah melakukan perbuatan dosa yang sangat dibenci Allah. Aku berjanji, jika aku bertemu denganmu lagi, aku akan mengejarmu sebagaimana seorang pria mengejar wanita impiannya. Aku akan melamarmu sebagaimana calon suami pada umumnya. Dan juga akan menikahimu dengan cinta dan niat yang benar.
Winda, Kamu sebenarnya ada dimana?
Dimas tidak bisa memejamkan mata. Diapun teringat Winda yang selalu tersenyum untuk menyemangatinya. Ternyata perasaan kehilangan seperti peristiwa saat Winda kecelakaan dulu, kini terulang kembali. Namun mengapa kali ini rasa itu lebih menyakitkan. Dimas merasa Winda tidak lagi percaya padanya sehingga kini memutuskan untuk meninggalkannya.
__ADS_1
Dimas teringat untuk meminta cuti esok hari untuk mencari keberadaan istrinya. Tubuh yang sudah lelah dan perut yang lapar, membuatnya tertidur di sofa ruang tamunya.
Paginya, Dimas sudah tidak sabar lagi untuk segera bertemu Bayu. Meskipun mungkin, Dimas akan menghadapi hal yang paling dia takutkan. Bahwa Winda telah memutuskan untuk kembali pada Bayu.
Sebelum kekantor Bayu, Dimas menjemput Zaki terlebih dulu. Sampai di kantor Bayu, Dimas bergegas menuju ruangan Bayu meski resepsionis berteriak menghalanginya. Ruangan Bayu tampak sepi.
Atau mungkin ini masih terlalu pagi?
"Pak dokter mencari siapa? Pak Bayu?" tanya asisten Bayu.
"Siapa lagi? Kemana bos kalian?" Dimas balik bertanya.
"Pak Bayu pergi ke luar negeri. Jadi untuk sementara dia tidak ada di sini."
"Luar negeri?! Kapan? Dengan siapa?" tanya Dimas panik.
Pikiran Dimas mulai tidak tenang.
Bayu pergi Keluar negeri bersama Winda?
"Saya tidak bisa memberitahu anda, pak dokter. Karena itu privasi bos saya. Jadi maafkan saya," jawab Dani sambil menghela nafas.
Mendengar jawaban Dani, Dimas menjadi emosi dan dia menarik kerah baju Dani.
"Heh, kamu menutupi kelakuan jahat bos kamu. Dia pasti menculik Winda dan membawanya pergi bersamanya keluar negeri kan?! Ayo, jawab?!" teriak Dimas.
"Saya tidak tahu dan jika saya tahu sekalipun, saya masih tidak akan bilang pada anda," jawab Dani.
Zaki yang melihat Dimas sudah mulai emosi, dia langsung menarik tangan Dimas dan berusaha melepaskan Dani dari Dimas.
"Mas Dimas, jangan membuat keributan di tempat orang. Kita di sini mau mencari mbak Winda, bukan mau berkelahi. Sebaiknya kita pergi saja dulu. Kita akan memikirkan lagi jalan lain," ucap Zaki sambil membawa Diana pergi.
Dimas melangkah dengan gontai. Pikirannya telah dipenuhi gambaran buruk Winda dan Bayu yang sedang berlibur berdua.
Tidak mungkin. Winda bukan wanita seperti itu. Meskipun aku baru mengenalnya, aku tahu dia wanita yang sangat setia. Winda aku kangen, aku mencintaimu. Kembalilah.
__ADS_1
Bersambung