
Dimas tidak bisa mengantar Winda ke bandara. Dia sudah pasrah jika akhirnya Winda pergi. Awalnya dia mau berpura-pura sakit, eh kenapa dia malah benar-benar sakit. Bahkan sakit perut lagi.
Keluar dari kamar mandi Dimas langsung merebahkan diri diatas ranjang dikamar Winda. Dia meraih ponsel yang berada diatas meja untuk menghubungi asistennya.
"Hallo, Mesa. Hari ini aku tidak masuk kerja, tolong kamu urus semuanya. Termasuk meminta dokter Wiki untuk menggantikan saya sementara. Jangan sampai pasien saya terlantar."
"Baik, terimakasih."
Dimas menutup panggilan teleponnya. Dimas lega sudah meminta asistennya untuk mengurus semuanya. Kini dia harus bisa mengurus dirinya sendiri. Atau meminta salah satu pengawal Winda untuk membelikannya obat.
Namun belum sempat Dimas bangun, seseorang datang dengan membawa obat dan minuman di tangannya.
"Winda," gumamnya lirih nyaris tak terdengar.
Winda mendekat lalu duduk ditepi ranjang.
"Minumlah obat ini, mas. Ini air putihnya," kata Winda tanpa peduli wajah Dimas yang penuh pertanyaan.
Dimas segera meminum obat yang dibawa Winda tanpa bertanya apapun. Setelah selesai minum obat, Winda mengambil gelas ditangan Dimas dan meletakannya di atas meja.
"Mas Dimas, istirahat saja dulu disini," kata Winda lembut.
"Ini sudah jam berapa? Kamu tidak segera pergi, kamu akan terlambat naik pesawat," tanya Dimas cemas.
"Mas Dimas, kamu sedang sakit masih saja mencemaskan keberangkatan aku. Jika aku pergi, siapa yang akan merawatmu?" jawab Winda sambil menatap Dimas yang tersenyum senang setelah mendengar jawaban Winda.
"Apakah karena aku sakit di rumahmu? Lalu kamu merasa bertanggungjawab? hanya itu?"
"Salah satunya, iya."
"Lalu yang lainnya?"
"Mas, kamu sakit tapi pertanyaan kamu banyak sekali," kata Winda sambil menghela nafas.
__ADS_1
"Yang sakit kan perutnya, bukan mulutnya, hehehe," tawa Dimas terdengar menggemaskan.
Winda sudah lama tidak mendengar tawa lepas dari suaminya. Winda kangen dengan candaan dan godaan Dimas. Meski diluar sana, dihadapan orang lain, Dimas selalu bersikap biasa saja. Itulah yang disukai Winda dari Dimas.
Makanya ketika Dimas memperhatikan Maya, Winda sangat cemburu. Dan pergi hingga 2 tahun lamanya.
"Sudah, jangan bercanda lagi. Aku akan menyiapkan sarapan untuk mas Dimas," kata Winda sambil berdiri.
"Tunggu. Kamu belum menjawab pertanyaanku," kata Dimas sambil menarik tangan Winda.
Dimas masih menunggu jawaban Winda yang hanya terdiam menatapnya. Lalu dia tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke wajah Dimas. Jantung Dimas berdetak sangat cepat dan hatinya berdebar kencang. Tubuh Dimas terasa panas dingin.
"Aku tidak mau bilang," kata Winda berbisik di telinga Dimas lalu melangkah pergi.
Dimas tertawa sendiri menyadari kalau dirinya sudah terjebak dengan pemikirannya yang terlalu jauh.
Winda mulai memasak bubur dan telur mata sapi untuk Dimas. Winda berharap, Dimas akan menyukainya.
"Mas, makan dulu. Nanti baru dilanjutkan lagi membalas pesannya," kata Winda sambil menyerahkan satu mangkuk bubur dan telur mata sapi.
"Terimakasih, sayang."
Dimas mengambil bubur dari tangan Winda dan mulai memakannya perlahan. Terdengar dering suara ponsel Winda. Winda menatap Dimas sambil tersenyum.
"Mas, aku terima telepon dulu ya? Habiskan buburnya jangan disisakan," kata Winda sambil berdiri.
Dimas hanya mengangguk saja. Winda berjalan menuju balkon rumahnya yang pemandangannya terlihat cukup bagus. Dimas sangat penasaran dengan identitas sang penelepon itu. Sepertinya Winda sangat menunggu telepon darinya. Karena sejak tadi, ponselnya selalu dibawanya.
Dimas mulai menguping dari balik pintu yang terhalang korden.
"Nenek, Winda minta maaf karena Winda tidak bisa pulang."
"Nenek jangan bilang begitu. Mas Dimas orangnya sangat baik. Winda saja yang ingin menjaganya."
__ADS_1
"Entahlah, Winda tidak tahu kapan Winda bisa kembali. Sekarang mas Dimas masih sakit dan tinggal di rumah. Winda ingin merawatnya sampai dia sembuh."
"Terimakasih karena nenek bisa mengerti posisi Winda."
"Aku juga mencintai kalian."
Dimas tertegun mendengar perkataan Winda di kalimat terakhirnya. Kalian. Apakah sebenarnya Winda sudah menikah lagi disana? Lalu kenapa dia begitu mesra padaku semalam?
Dimas bergegas kembali berbaring di ranjangnya saat Winda sudah selesai menerima panggilan dan hendak kembali masuk ke kamar.
"Mas Dimas, buburnya sudah habis?" tanya Winda sambil melihat ke mangkok yang ada diatas meja.
"Sudah, cek aja."
Winda tersenyum manis pada Dimas yang sudah menghabiskan bubur yang dia buat.
"Mas Dimas kenapa? Kelihatan kalau mas Dimas lagi kesal, kesal sama siapa?" tanya Winda.
"Sayang, boleh tanya satu hal?"
"Boleh. Silahkan?"
"Apakah kamu mau pergi karena ada yang menunggumu disana? Ehm...kekasih misalnya."
"Apa?! Kekasih?! Kamu cemburu, mas Dimas?" kata Winda.
"Mungkin," jawab Dimas sambil tersenyum.
"Tidak, mas. Aku masih istri kamu. Baiklah, aku akan menceritakan kemana dan karena apa aku pergi selama 2 tahun ini."
"Iya sayang. Sebenarnya aku juga ingin tahu darimu secara langsung. Bukan dari orang lain," jawab Dimas lega, Winda sudah bersedia jujur padanya.
Bersambung
__ADS_1