
Winda menemukan sebuah lukisan milik Vano. Lukisan yang sederhana, yang bisa di lukis oleh anak seusia Vano untuk mengungkapkan isi hatinya.
Sebuah lukisan, yang menggambarkan papi dan mami yang sedang membelakangi Vano yang tengah menjulurkan tangan. Seolah sedang mengharap mami dan papi menoleh kearahnya.
"Apa kalian memahami makna dari lukisan Vano?"
Suara sang ayah mengejutkan mereka berdua.
"Ayah sudah pernah mengatakan pada kalian. Tidak ada yang melarang kalian bersedih dan mencari Vani. Tapi ingat, masih ada anak yang lain yang juga membutuhkan kalian. Masih ada bayi yang ada dalam kandungan kamu, yang memerlukan suasana dan kondisi yang nyaman."
"Winda, Dimas. Kalian melupakan Vano. Vano juga butuh perhatian. Tapi kalian sibuk dengan urusan masing-masing. Hargailah yang masih tersisa agar kalian tidak kehilangan semuanya. Termasuk Vano dan Bayi dalam kandunganmu. Mereka juga anak kalian yang sama berharganya," tambah sang ibu.
Winda dan Dimas saling berpandangan dan mulai mengerti. Maksud lukisan Vano adalah sebuah protes yang ditujukan untuk mereka. Winda melihat sekali lagi lukisan itu dengan seksama.
Hatinya makin terenyuh dan bergetar. Ada rasa sakit, mengetahui Vano merasakan kesepian meski sedang berada diantara kedua orangtuanya.
Saat suasana sedang tegang, terdengar sebuah pintu almari terbuka. Semua mata menatap kearah almari yang pintunya bergerak.
Setelah pintu terbuka lebar, Winda berteriak histeris.
__ADS_1
"Vano..."
Winda berlari mendekati Vano yang bingung melihat maminya berteriak memanggil namanya. Winda langsung memeluk Vano dengan erat. Suara isak tangisnya terdengar cukup keras.
Dimas dan kedua mertuanya menarik nafas lega, melihat Vano baik-baik saja. Mereka mendekati Vano dan Winda yang masih enggan melepaskan pelukannya.
"Winda, kasihan Vano. Biarkan dia keluar dulu," kata sang ibu.
"Sayang, Vano pasti butuh udara segar. Didalam almari pasti udaranya sangat pengap. Bukan begitu, Vano sayang?" tanya Dimas.
Vano mengangguk pelan yang akhirnya membuat Winda melepaskan pelukannya. Dimas segera mengangkat tubuh Vano dan didudukkan diatas kasur.
"Kangen, kek. Kapan kakek dan nenek datang? Tinggal disini sama Vano saja ya?" tanya Vano senang.
"Kenapa? Vano kan sudah ada mami papi, kurang apa lagi?"
"Mereka..."
Vano menatap wajah mami dan papinya bergantian. Vano tidak bisa meneruskan kata-katanya sehingga membuat dugaan mereka benar, tentang Vano yang kesepian ditengah keluarganya sendiri.
__ADS_1
"Vano, tadi kenapa sembunyi di dalam almari? Apa kamu tidak tahu, betapa kami sangat takut kamu hilang?" tanya Dimas.
"Tadi Vano cuma sedih dan ingin menangis. Jadi Vano sembunyi di dalam almari. Sejak Vani hilang, Vano rasanya hidup sendirian. Mami dan Papi tidak pernah lagi menghiraukan Vano."
Ucapan Vano bagaikan tamparan keras di hati Dimas dan Winda. Mereka tidak pernah menyadari jika Vano sudah cukup untuk bisa merasakan ketidak pedulian orangtuanya.
"Vano, mami janji, mami akan selalu bersama Vano. Kita akan melakukan banyak hal bersama. Mencari Vani juga, nanti Vano akan kami ajak," kata Winda sambil duduk disamping Vano dan mengusap rambutnya.
Sejak hari itu, Winda tidak pernah lagi mengabaikan Vano. Dia sudah kehilangan Vani, dan dia tidak ingin kehilangan Vano juga karena keegoisannya.
Kemanapun Winda pergi, Vano akan selalu ada dan menjadi penyemangatnya tatkala hatinya mulai rapuh. Winda mulai merasa kemungkinan menemukan jejak Vani, sangatlah kecil. Meski begitu, Winda dan Dimas tidak pernah menyerah untuk terus mencari Vani.
Mereka membuat selebaran dan iklan di koran untuk mempermudah menemukan Vani. Harapan mereka tidak pernah pupus meski Maya sampai saat ini masih belum menunjukkan adanya tanda-tanda akan sadar dari koma.
Winda sangat menghormati ayah Deni, yang telah bersedia membiayai biaya perawatan Maya. Mulanya, Maya dan Dimas telah sepakat demi Vani, akan membiayai perawatan Mala hingga Maya sadar kembali dari komanya.
Sungguh beruntung bagi Maya, orang jahat yang masih bisa mendapatkan hal-hal baik dari orang-orang di sekitarnya. Seluruh keluarga Winda dan keluarga Dimas, setiap saat berdoa untuk kesembuhan Maya.
Demikian juga bagi Bayu. Mantan suami Winda, yang rela mempertaruhkan nyawanya untuk Winda. Semua orang berdoa untuknya, termasuk Dimas. Meski ada rasa cemburu tetapi rasa terimakasihnya juga sangatlah besar.
__ADS_1
Untuk membuat hatinya tenang, setiap kali Winda menjenguk Bayu, Dimas akan selalu menemaninya. Kebetulan Bayu berada di rumah sakit tempat Dimas bekerja.