
Pertemuan Winda dan Bayu berlangsung disebuah restoran biasa. Namun, Bayu tidak bisa protes karena kemarin dialah yang meminta Winda untuk menentukan tempatnya.
Bayu datang lebih awal karena saking senangnya akan makan siang bersama Winda. Saat Bayu sibuk membayangkan sosok Winda, Winda datang dengan penampilan yang sempurna dimatanya.
Bayu sedikitpun tidak berkedip melihat Winda. Semakin dekat, Winda tampak semakin cantik.
"Maaf, membiarkan Anda menunggu lama," kata Winda saat sampai di depan Bayu.
"Tidak lama kok. Aku yang datang lebih awal," kata Bayu sambil menarikan kursi duduk Winda.
"Bisakah sekarang kita mulai menandatangani surat kontraknya?" tanya Winda to the point.
"Sebentar, nona pasti belum makan. Kita makan siang dulu. Saya sudah memesankan makanan untuk kita. Pelayan," kata Bayu.
Beberapa makanan kesukaan Winda disuguhkan. Winda mulai menyadari jika Bayu sengaja memesan makanan itu untuk mengetahui jati dirinya. Winda tersenyum berpura-pura tidak tahu.
"Banyak sekali yang anda pesan pak Bayu. Apa tidak berlebihan untuk kita berdua?" tanya Winda.
"Tentu saja tidak. Ini makanan kesukaan kamu kan?"
"Pak Bayu jangan sok tahu. Saya tidak suka semua makanan ini. Tolong pesan yang lain saja. Tapi kalau pak Bayu tidak mau, silakan pak Bayu makan sendiri saja dan saya akan menunggu disini sampai pak Bayu selesai makan."
"Tidak bisa begitu, baiklah. Saya akan memesan yang lain. Nona ingin makan apa?" tanya Bayu.
"Tumis daging sayur saja," jawab Winda.
"Pelayan, tumis daging sayur 2 porsi ya. Cepat jangan pake lama," kata Bayu pada pelayan yang ada di dekat mereka.
Tidak lama kemudian, makanan telah datang. Winda berharap Bayu tidak akan mencurigainya lagi setelah ini.
__ADS_1
"Silahkan dinikmati nona cantik," kata Bayu merayu.
"Terimakasih pak Bayu."
Bayu dan Winda makan tanpa banyak bicara. Winda memang sengaja diam untuk menghemat suaranya yang sengaja dia samarkan.
Selesai makan, Bayu segera memanggil pelayan untuk membereskan meja makan mereka agar bisa leluasa menandatangani kontrak kerjasama mereka.
Winda mengeluarkan 2 buah dokumen dari dalam tasnya. Satu di berikan kepada Bayu untuk di tandatangani dan satunya untuknya sendiri. Setelah bergantian menandatangani dokumen tersebut, mereka masing-masing memegang satu sebagai bukti kerjasama.
"Karena sudah selesai, saya pamit kembali kekantor dulu pak Bayu," ucap Winda sopan.
"Tunggu, bukankah harus ada pesta untuk merayakan berhasilnya kerjasama ini?" tanya Bayu menghentikan langkah Winda.
"Kami sudah ada rencana sendiri bersama team," jawab Winda.
"Sekarang saya sudah masuk dalam team kalian? Harusnya saya juga berhak ikut merayakan bersama," kata Bayu.
"Oke, ditunggu."
"Selamat siang."
Winda melangkah pergi sambil memikirkan rencana membuat Bayu berterus terang padanya tanpa paksaan.
Aku akan membuatnya mabuk.
Winda meminta Raga untuk mengatur rencana nanti malam. Setelah acara makan malam akan dilanjutkan dengan pergi ke karaoke dan tugas Raga adalah membuat Bayu mabuk.
Setelahnya, Winda yang akan mengatur rencana kedua. Tetapi Raga mengingatkan bahwa Winda harus berhati-hati, karena orang mabuk tidak akan tahu apa yang bisa dia lakukan pada Winda. Namun Winda sudah menyiapkan kedua pengawalnya untuk terus bersamanya.
__ADS_1
Malam yang dinanti Winda telah tiba. Sesuai rencana, mereka makan malam terlebih dahulu sebelum pergi menuju ke tempat karaoke. Awalnya Bayu menolak, tetapi setelah mendengar Winda ikut ke tempat karaoke, Bayu akhirnya juga memutuskan untuk ikut.
Bayu makin ragu jika dia adlah Winda. Winda tidak pernah menyukai tempat-tempat seperti itu. Apalagi akan ada acara minum-minum. Winda semakin senang melihat keraguan Dimata Bayu. Semakin Bayu ragu, semakin Winda bisa dengan leluasa bergerak.
Winda memerintahkan anak buahnya untuk membuat suasana heboh dan meriah. Bernyanyi dan menari.
Sedangkan Raga dan Winda menemani Bayu sambil terus membuat Bayu minum. Winda sangat beruntung karena asisten Bayu tidak ikut serta dalam pesta ini. Jadi mereka hanya fokus pada Bayu saja.
Setelah Bayu mabuk berat, Raga dan kedua pengawal Winda membawa Bayu ke sebuah hotel. Disana, Winda mulai menyelidiki Bayu.
"Pak Bayu, apakah anda kenal saya?" tanya Winda sambil menatap dekat Bayu yang bersandar di ranjang.
"Winda, kamu Winda kan?!" kata Bayu sambil memegang bahu Winda.
Winda sebenarnya agak takut juga dengan Bayu, tetapi demi mengetahui rahasia penculikan dirinya 2 tahun lalu, dia harus lebih berani.
"Bukan, pak Bayu. Aku Tera."
"Tidak, kamu Winda. Winda maafkan aku. Selama ini aku sudah banyak membuatmu menderita," kata Bayu sambil menangis.
"Apakah kamu yang menyuruh orang menculik dan membunuhku?! Makanya kamu merasa bersalah padaku," tanya Winda sedikit emosi.
"Tidak, aku sangat mencintai kamu. Mana mungkin aku berniat membunuhmu. Aku hanya berbohong satu hal," kata Bayu sambil menunjukkan jari telunjuknya pada Winda.
"Apa itu?!"
"Sebenarnya kamu tidak mandul," kata Bayu sedih.
Apa yang dikatakan Bayu ternyata tidak membuat Winda kaget. Winda hanya tersenyum sambil meneteskan airmata.
__ADS_1
Apakah itu airmata bahagia atau airmata kesedihan?
Bersambung