
Winda naik keatas ranjang dan duduk di samping Dimas yang ikut duduk bersandar. Dimas menunggu dengan sabar, apa yang akan di katakan Winda padanya meski dalam hatinya ingin segera mengetahui apa yang terjadi pada Winda.
Dimas mengokohkan bahunya, saat Winda menyandarkan kepalanya di bahunya. Berasa orang lagi pacaran. Dan itu yang Dimas rasakan setelah menikah dengan Winda. Sifat kekanak-kanakan dan ingin menggoda muncul saat bersama dengan Winda. Padahal usia sudah hampir kepala 3.
"Mas Dimas, saat aku tidak datang menemuimu di restoran 2 tahun lalu, apa yang ada dalam pikiranmu?" tanya Winda pelan.
"Saat itu, aku sangat khawatir terjadi hal buruk terhadapmu. Aku mencarimu ke rumah sakit karena mungkin kamu kecelakaan. Bahkan aku sampai melapor ke kantor polisi, karena takut kamu di culik," jawab Dimas mengingat masa itu.
"Sebenarnya, aku memang diculik mas."
"Apa?! siapa yang menculikmu?! Pasti Bayu, dasar laki-laki baj*ngan. Awas saja, aku akan melaporkannya ke polisi. Kali ini dia sudah keterlaluan. Harusnya sejak dulu aku sudah melaporkan dia, biar dia di penjara. Biar tahu rasa," ucap Dimas tanpa henti sambil memukul ranjang.
Winda tidak dapat menyela omongan Dimas yang sudah dirasuki rasa benci pada Bayu. Winda hanya tersenyum sambil menghela nafas dan menepuk bahu Dimas agar Dimas bisa lebih tenang.
"Lalu, bagaimana kamu bisa selamat?" tanya Dimas setelah agak tenang.
"Aku juga tidak tahu pasti. Aku dibius dan setelah aku sadar, aku sudah berada di rumah sakit. Rumah sakit itu, ada di luar negeri. Menurut cerita nenek, dia yang telah menyelamatkan aku.
Karena kondisiku saat itu sangat buruk, nenek membawaku ke luar negeri untuk dilakukan perawatan secara intensif dan harus dengan peralatan yang canggih. Karena saat itu aku koma dan dalam keadaan hamil."
"Ha...hamil?"
Dimas memegang kedua bahu Winda untuk memastikan bahwa pendengarannya tidak bermasalah.
"Benar, mas Dimas. Saat itu aku hamil 3 bulan."
"3 bulan. Berarti sekarang anakku sudah berumur 19 bulan. Pasti lagi lucu-lucunya. Dia pasti bersama nenek kan? Ayo kita ke sana!" ajak Dimas sambil menarik lengan Winda.
__ADS_1
"Kemana?"
"Kemana lagi. Keluar negeri lah."
"Bukannya mas Dimas sedang sakit?" tanya Winda sambil mengingatkan Dimas.
"Aku sudah sembuh. Bener. Lihat aku sudah tidak mengaduh lagi kan?"
"Mas Dimas pura-pura?
"Tidak sayang. Aku tadi benar-benar sakit perut. Dan setelah minum obat, aku langsung sembuh. Apa kamu tidak percaya padaku?" ucap Dimas manja agar Winda percaya padanya.
Winda hanya diam saja.
"Apa mas Dimas tidak ingin tahu, kenapa aku menyembunyikan diri dan tidak menemuimu?"
"Apakah selama 2 tahun ini, kamu sengaja menghindariku?" tanya Dimas sambil duduk kembali di samping Winda.
"Aku marah padamu mas Dimas. Sangat kesal dan kecewa."
"Kenapa?"
"Ketika aku sudah sadar dan kehamilanku semakin membesar. Dokter sudah mengizinkan aku untuk melakukan perjalanan jauh. Aku kembali, ingin memberi satu kejutan ini untukmu. Tapi ..."
"Tapi apa?"
"Kamu sedang bersama Maya. Kamu memperlakukannya dengan sangat baik. Bahkan dia dalam keadaan hamil. Aku pikir, kamu sudah rujuk dengan Maya dan hamil anak kalian. Aku pikir, kamu senang karena aku tidak ada. Wanita mandul yang tidak ada artinya. Jadi aku memutuskan untuk pergi dan menghilang dari hidupmu, mas Dimas."
__ADS_1
Dimas memeluk Winda yang mulai meneteskan airmatanya. Winda terisak dalam dekapan Dimas. Dimas sebenarnya ingin marah, karena Winda menganggapnya lelaki yang mudah berubah. Tetapi, Dimas menyadari, hubungannya dengan Maya membuat semua orang salah paham. Apalagi Winda, dia pasti sangat sakit hati dan cemburu.
Cemburu? Winda cemburu?
Dimas yang tadinya berwajah masam, kini tiba-tiba berubah manis. Semanis madu.
"Sayang, jujur saat itu dia memang meminta untuk rujuk. Tetapi aku menolaknya. Aku hanya ingin mengambil anak Maya menjadi anak kita. Maya tidak menginginkannya karena laki-laki yang menghamilinya tidak mau bertanggungjawab," kata Dimas berusaha memberi penjelasan.
"Aku tahu dan aku sangat menyesal telah meragukanmu mas Dimas."
"Aku selalu dan akan selalu mencintaimu, Winda."
"Aku juga mencintaimu mas Dimas."
"Jadi, apa kamu sudah siap untuk hidup bersamaku lagi?"
"Tentu saja aku siap mas."
"Kapan aku bisa bertemu anak kita?"
Winda menghela nafas berat.
"Aku sudah terlanjur bilang pada nenek, kalau aku akan tetap disini merawatmu. Jadi aku tidak bisa ke sana dalam waktu dekat."
Dimas menyesali tindakan pura-pura yang dilakukannya yang malah kini mengena di dirinya. Tapi semua sudah terjadi, Dimas hanya bisa menunggu keajaiban datang.
Bersambung
__ADS_1