Istri Titipan Talak 3

Istri Titipan Talak 3
Bab 70. Vani...


__ADS_3

Pak Hadi berjalan keluar ruangan tempat Vani dirawat untuk menjemput istrinya yang datang untuk melihat anak yang kata suaminya adalah putri mereka. Mereka bertemu di ruang tunggu pasien.


Pak Hadi melampiaskan kebahagiaannya dengan memeluk sang istri yang masih dalam mode bingung. Bingung karena sang suami seperti sedang mendapatkan lotere satu milyar.


"Pak, lepaskan pak. Malu dilihat orang-orang."


"Biar saja. Bapak sangat senang sekali, Bu. Masak aku harus memeluk istri orang."


"Bukan begitu, pak. Sudah-sudah, katanya mau mempertemukan ibu dengan anak kita. Mana, pak?"


"Ayo, ibu ikut bapak. Ibu pasti senang bertemu anak kita lagi."


"Yanti?"


"Iya, Yanti. Anak kita, ternyata masih hidup."


Bu Sari sangat penasaran dengan perkataan suaminya. Mana ada orang mati dan sudah di kubur bisa hidup kembali.


Sampailah mereka di ruang tempat Vani dirawat. Bu Sari masuk sambil memperhatikan seorang gadis kecil yang sedang terbaring dengan mata masih tertutup. Sesaat memang gadis itu mirip Yanti putrinya. Namun jelas jika gadis itu bukan putrinya. Bu Sari melihat kearah suaminya yang tersenyum padanya.


Dilihat semakin dekat, mulai tampak wajah Vani yang imut dan cantik. Meski Vani sedang sakit, dia masih terlihat seperti anak orang kaya dan anak kota bukan dari kampung mereka. Bu Sari tertuju pada sebuah kalung yang dikenakan Vani. Dilihatnya perlahan kalung emas bertuliskan nama 'Vani' yang terukir indah di bandul pemberatnya.


Vani, nama yang indah.


"Pak, gadis ini kamu temukan dimana?"


"Dia hampir tenggelam di sungai. Saat bapak bawa dia ke puskesmas, dia harus dirujuk ke rumah sakit ini untuk perawatan lebih lanjut."


"Pak, biayanya pasti sangat mahal. Bagaimana kita bisa membayar biaya perawatan gadis kecil ini pak?"

__ADS_1


"Ibu tenang saja, kita jual rumah dan tanah kita di kampung. Kita ngontrak saja di kota ini."


Bu Sari terkejut dengan ucapan suaminya soal menjual rumah dan tanah di kampung.


"Pak, apa maksud bapak? Kita akan tinggal di kota?"


"Ya. Kita pindah saj ke kota untuk memulai hidup baru bersama anak kita. Yanti pasti sangat senang tinggal di kota."


"Bapak, sadarlah. Dia bukan Yanti anak kita. Dia memiliki nama sendiri pemberian orangtuanya. Vani, namanya Vani, pak."


"Tidak, mulai sekarang, namanya Yanti. Putri kita. Jadi jangan sebut Vani dihadapanku."


Bu Sari tidak bisa lagi berdebat dengan sang suami yang sudah tertutup hatinya oleh keinginan memiliki kembali putrinya yang telah meninggal.


Suaminya mengalami tekanan batin karena Yanti meninggal saat pak Hadi mengajak Yanti memancing di sungai. Meski itu semua murni karena kecelakaan, tetapi pak Hadi merasa bersalah dan terus menyalahkan dirinya atas kematian putrinya.


Mungkin ini takdir mereka bertemu Vani, untuk bisa menjadi penyembuh hati pak Hadi. Bu Sari mulai berpikir tentang keluarga Vani. Bagaimana mungkin gadis sekecil ini sendirian berjalan tanpa pengawasan di lingkungan yang tidak dia kenal.


Mereka tidak pernah tahu kebenaran di balik hilangnya Vani. Akhirnya mereka memutuskan untuk menunggu hingga Vani sadar dan menentukan langkah selanjutnya.


Satu jam kemudian, Vani tersadar. Pak Hadi dan Bu Sari secara perlahan bertanya tentang keberadaan kedua orangtuanya.


"Gadis cantik, namamu siapa?" tanya bu Sari pelan dan lembut.


"Nama?"


Bu Sari menatap Vani dengan tatapan penasaran dengan keadaan Vani saat ini. Sementara pak Hadi tersenyum karena itu yang dia harapkan. Jika Vani lupa siapa namanya, tentunya dia juga akan melupakan semua keluarganya.


"Iya, nak. Namamu siapa? Keluargamu dimana?" tanya bu Sari lagi.

__ADS_1


"Aku tidak tahu," jawab Vani sambil menatap kosong ke sekeliling ruangan.


Bu Sari mendekati suaminya untuk memutuskan hal apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.


"Pak, bagaimana? Apa perlu tanya ke dokter tentang keadaan gadis kecil itu?"


"Aku akan bertanya pada dokter yang menanganinya. Aku pergi dulu."


Pak Hadi melangkah berat menuju ruangan dokter yang menangani Vani. Sebelum masuk dia mengetuk pintu dan dokter segera mempersilakan dia duduk.


"Dok, anak kami sudah sadar. Tetapi kenapa dia tidak ingat kejadian sebelumnya. Bahkan dia juga lupa orangtuanya sendiri."


"Begini, pak. Dalam kasus putri anda, memang ada kemungkinan dia akan melupakan beberapa ingatan. Tapi kalau dia melupakan semuanya, berarti ada kemungkinan, dia mengalami trauma. Sehingga di alam bawah sadarnya, dia tidak ingin mengingat masa yang sudah lewat termasuk mengingat keluarganya. Ada baiknya, biarkan dia hidup dalam masanya yang sekarang. Tidak perlu memaksanya mengingat karena akan menyakitinya. Suatu saat, mungkin di akan kembali mengingat hal-hal yang dilupakannya saat ini."


Mendengar penjelasan dokter, Pak Hadi lebih yakin untuk merawat Vani. Meskipun mungkin jika Vani adalah anak orang kaya, sedangkan kini Vani hanya akan hidup sederhana.


Pak Hadi mengutarakan maksud hatinya pada istrinya dan membuat kesepakatan untuk tetap mengasuh Vani dengan identitas sebagai Yanti, putri mereka sampai Vani mengingat keluarganya.


****


Kediaman Dimas dan Winda.


Winda masih belum menyerah untuk terus mencari keberadaan Vani. Dalam kondisi hamil tua, dan ditemani suami dan Vano, dia terus berkeliling di sekitar desa dekat Vani di culik Maya.


Informasi terakhir, ada seorang anak gadis kecil yang tenggelam di sungai dan dibawa ke puskesmas. Karena kondisinya memburuk, gadis itu dirujuk ke rumah sakit di kota.


Mereka kehilangan jejak Vani karena alamat yang didaftarkan adalah alamat pak Hadi dikampung.


Sekarang mereka fokus mencari keberadaan pak Hadi dan istrinya. Mereka berharap, jika mereka merawat Vani, mereka akan memperlakukan Vani dengan baik.

__ADS_1


Dengan berbagai tekanan, Winda akhirnya melahirkan secara prematur seorang bayi perempuan yang mereka beri nama Vina.


__ADS_2