
Setelah menjalani perawatan intensif selama 2 Minggu di rumah sakit, akhirnya Winda di perbolehkan pulang. Dimas dengan sabar merawat Winda di rumah dengan bantuan bibi.
Winda masih beruntung karena dia mengemudikan mobil dengan kecepatan rendah sehingga kecelakaan tunggal itu hanya membuatnya luka ringan. Dimas tidak terlalu khawatir karena kondisi Winda lebih baik dari yang Dimas bayangkan. Hanya kakinya masih agak sakit untuk berjalan sendiri.
Ketika sampai di rumah, Dimas mencoba membantu Winda berjalan. Winda berjalan satu dua langkah sambil meringis menahan sakit pada kakinya. Tidak tahan melihat hal itu, Dimas langsung mengangkat tubuh langsing Winda dan di bawanya masuk.
"Mas, turunkan aku. Nanti ada yang melihat," kata Winda cemas.
"Memang kenapa kalau ada yang melihat? Kita suami istri, hal ini wajar bukan hal yang aneh."
"Aku..."
"Diam sajalah. Nurut saja, supaya kamu bisa cepat istirahat. Pegangan," kata Dimas sambil tersenyum.
Winda akhirnya menyerah dan membiarkan Dimas menggendongnya hingga sampai sofa di ruang keluarga. Tangan Winda merangkul leher Dimas agar tidak terjatuh. Winda menatap wajah Dimas yang terlihat sangat tampan di lihat dari dekat.
"Sudah puas lihatnya?" tanya Dimas membuat Winda malu.
Winda hanya tersenyum malu lalu memalingkan wajahnya melihat kearah lain. Dalam hati, Dimas merasa senang melihat Winda mulai malu-malu. Itu menandakan jika Winda Mulai merasakan sesuatu pada dirinya.
"Nah, istirahatlah di sini dulu. Aku akan membantu bibi membawa barang-barang masuk," kata Dimas.
Winda hanya mengangguk pelan. Winda menatap langkah Dimas yang tampak gagah dan berwibawa.
Pikiran apa ini. Semua ini tidak boleh terjadi. Hanya akan melukai hatiku saja jika kami nanti berpisah.
Winda akhirnya melepaskan semua keinginan hatinya untuk menghindari kekecewaan di kemudian hari. Namun memang sulit menghapus perasaan yang mulai tumbuh di antara mereka sejak mereka mulai memahami dan menerima satu sama lain.
Selesai membereskan semua bawaan dari rumah sakit, Dimas kembali mendekati Winda yang mulai mengantuk.
"Kamu kelihatannya sudah mengantuk. Ayo aku bawa ke kamar, agar kamu bisa rebahan. Biar lebih rileks," kata Dimas seraya mengangkat tubuh Winda.
__ADS_1
Winda kembali mengalungkan kedua tangannya ke leher Dimas dan menikmati perlakuan manja Dimas. Perlakuan yang membuat Winda merasa ketagihan. Meskipun Winda menyadari bahwa suatu saat semua itu akan berakhir, akan tetapi setidaknya dia ingin menikmati apa yang ada saat ini.
Sedangkan Dimas merasakan hal yang sama. Apa yang dilakukan pada Winda, perlakuan manja dan perhatiannya menjadi hal yang ingin selalu dia berikan untuk Winda. Apalagi, melihat Winda juga menikmati perlakuan manjanya, membuat Dimas semakin bersemangat memanjakan Winda.
Sampai dikamar, Dimas menyandarkan tubuh Winda di headboard. Sandaran kasur yang tak terlalu tinggi itu cukup membuat Winda terlihat nyaman. Dimas duduk sebentar di tepi ranjang sambil menatap wajah Winda yang terlihat memerah karena malu.
Dimas ingin tersenyum namun berusaha ditahannya agar Winda tidak bertambah malu.
"Winda, kamu istirahat saja dengan nyaman di sini. Aku akan mandi dulu, nanti baru aku bantu kamu mandi," kata Winda.
"Tapi mas, mas mau bantu mandi? Aku bisa mandi sendiri," jawab Winda kaget.
"Maksudku, aku bantu kamu ke kamar mandi. Kamu bisa mandi sendiri atau kalau kamu tidak keberatan, aku bersedia membantumu mandi. Atau sekalian saja kita mandi bersama," goda Dimas sambil terkekeh.
Mendengar candaan Dimas membuat Winda juga ingin membalas menggodanya.
"Boleh, siapa takut?" jawab Winda sambil tertawa.
Tetapi Winda tidak menyangka jika perkataannya itu membuat Dimas benar-benar melakukannya. Dimas mengangkat kembali tubuh Winda dan dibawanya ke kamar mandi. Winda didudukan diatas bathtub. Dimas berdiri sambil tersenyum.
"Kenapa? Katanya tidak takut?" ledek Dimas.
"Kok dibawa ke kamar mandi beneran sih mas. Aku hanya bercanda," ucap Winda sambil menggerak-gerakkan kakinya manja.
"Bercanda, sejak kapan kamu suka bercanda. Aku kira itu beneran. Tapi sudah terlanjur, gimana. Sekalian aja ya?" tanya Dimas tersenyum geli melihat tingkah Winda.
Dimas lebih gemas melihat sikap Winda yang manja dan seperti anak kecil yang lagi ngambek ketika tidak di belikan mainan oleh ibunya.
Winda hanya bisa diam. Sementara Dimas mulai menyiapkan air hangat dan handuk kimono untuk Winda.
"Semua sudah siap. Silahkan tuan putri berendam dan menyegarkan diri. Tapi pelan-pelan saja jika ingin berjalan karena hamba tidak ada di dalam. Jika sudah selesai, bisa panggil hamba. Hamba siap menunggu di luar," ucap Dimas berlagak seorang hamba.
__ADS_1
"Aku keluar dulu. Santai saja, aku ada diluar," ucap Dimas serius.
Winda mengangguk pelan. Winda mulai membuka pakaiannya ketika Dimas sudah keluar dari kamar mandi. Dimas merebahkan diri di ranjangnya yang sudah hampir sebulan ini kembali ditidurinya.
Sebelumnya, Dimas masih enggan tidur satu ranjang dengan Winda dan dia sering tidur di sofa yang ada di kamarnya. Namun, sejak Dimas tahu jika Winda adalah sahabat dan hubungan mereka mulai membaik, Dimas dan Winda memutuskan tidur satu ranjang. Meskipun mereka tidak pernah saling berhubungan badan.
Bagi Dimas, memang sangat sulit untuk bisa menahan hasratnya pada Winda. Setiap hari bersama dan menghabiskan malam dalam satu ruangan bahkan satu ranjang. Siapa yang bisa tahan, menghadapi wanita cantik yang kini mulai masuk dalam hatinya.
"Mas Dimas, aku sudah selesai," ucap Winda membuyarkan lamunannya.
Dimas melihat Winda sudah berganti pakaian tidurnya yang panjang dan tebal. Meski dengan pakaian seperti itu, Winda masih terlihat sangat cantik alami tanpa polesan.
"Iya, aku akan segera mandi," jawab Dimas seraya bangkit dari tempat tidurnya.
Dimas mandi dengan cepat karena dia juga ingin tidur siang mumpung dia hari ini cuti. Selesai mandi, Dimas melihat Winda sudah tidur dengan pulas. Dimas tersenyum sambil berganti pakaian lalu merebahkan diri di samping Winda.
Tak berapa lama, terdengar bunyi pesan masuk di handphone milik Winda. Rasa penasaran Dimas membuat Dimas tidak tenang. Dimas segera mengambil handphone milik Winda dan membuka pesan yang baru saja masuk.
Tidak hanya satu pesan tetapi hampir sepuluh pesan masuk yang belum dibuka oleh Winda. Dan ternyata nama pengirimnya adalah Bayu. Jadi selama ini, Bayu masih saja terus menghubungi Winda.
Isi pesan Bayu banyak berisi ungkapan perhatian dan kasih sayang serta ajakan bertemu. Dimas mulai merasakan cemburu melihat perhatian Bayu pada Winda. Akan tetapi Dimas agak tenang ketika melihat panggilan masuk yang tidak pernah di terima Winda. Itu artinya, Bayu sudah tidak penting lagi bagi Winda.
Lalu apakah Dimas akan menyadari jika apa yang dia rasakan itu cinta, atau dia akan melepaskan perasaannya demi janji pada Bayu sahabatnya?
Bersambung
Haihai, otor bawa satu karya apik dari teman otor. Judulnya Nota Hutang di atas Pernikahan by Haryani
Silakan di Kepoin dan di-like serta koment mkasih ...a
__ADS_1
Ketika harga diri seorang wanita tidak lebih dari selembar materai, mampukah ia bertahan di dalam keluarga yang kaya raya dan terpandang.
Hidup di dalam garis kemiskinan membuat Virgo harus digadaikan demi membayar hutang kedua orang tuanya. Bertemu dengan Dylan seorang pemuda yang terkenal dingin dan ringan tangan membuatnya berjuang ekstra demi bisa bertahan hidup.