Istri Titipan Talak 3

Istri Titipan Talak 3
Bab 39. Menginap di rumah Winda


__ADS_3

Ciuman Winda bagaikan mata air di musim kemarau. Hati dan jiwa Dimas yang terasa gersang semenjak Winda pergi, hari ini ada harapan baru. Haruskah Dimas mereguknya?


"Mas Dimas, maafkan aku karena belum bisa berterus terang padamu," kata Winda sambil tetap memegang tangan Dimas.


"Tidak apa-apa. Aku bisa menunggu sampai kamu siap untuk mengatakannya padaku. Hanya saja, kamu pasti akan kembali bukan?" tanya Dimas.


Airmata Winda menetes perlahan di pipinya yang halus. Dimas merasa, ada yang tidak beres dengan Winda. Kenapa jawabannya hanya sebuah tangisan.


"Winda, ada apa? Kamu membuat aku penasaran dengan tangisanmu," kata Dimas lagi.


Dimas melihat, Winda sangat tertekan. Tapi kenapa dia tidak mau bercerita padanya?


"Mas, aku tidak tahu. Setelah aku pergi, aku masih bisa kembali kesini atau tidak. Karena itu aku tidak mau memberitahu masalahku padamu. Aku tidak bisa memberimu harapan palsu."


"Winda, kenapa? ada apa?" tanya Dimas panik.


Dimas menatap Winda yang berlinang airmata. Dimas mengusap perlahan airmata Winda dengan saputangannya. Diana masih menunggu jawaban Winda.


Namun Winda masih tidak mau bicara. Hingga membuat Dimas mulai memikirkan cara untuk menghentikan kepergian Winda. Mungkin itu lebih baik daripada membiarkan Winda pergi dengan konsekuensi Winda tidak akan kembali lagi.


"Kamu besok pergi jam berapa?" tanya Dimas sambil menghela nafas.

__ADS_1


"Pesawatnya sekitar jam 6 pagi. Kenapa mas?" tanya Winda.


"Tidak apa-apa. Besok kamu harus bangun pagi agar tidak terlambat."


"Iya. Terimakasih sudah mengingatkan aku mas Dimas."


Dimas kembali memeluk Winda sambil terus berpikir. Apa yang akan bisa membuat Winda membatalkan kepergiannya. Apakah dia bisa?


Malam ini, Dimas menginap di rumah Winda, sesuai keinginannya. Winda mencoba membuat masakan sendiri karena dia tahu kapan lagi dia bisa melakukan itu.


Dimas berusaha membantu sebisanya. Mengupas wortel, mencuci sayur dan memotong bawang. Mereka seperti pasangan pengantin baru yang baru pindah rumah.


"Bagaimana, mas Dimas?" tanya Winda sambil tersenyum.


"Masakanmu enak juga. Semoga kedepannya, masih bisa merasakan suasana seperti ini," jawab Dimas.


Winda hanya tersenyum mendengar perkataan Dimas yang di sengaja. Mereka makan sambil saling curi pandang.


Selesai makan, mereka menjalankan kewajiban mereka sholat Isyak terlebih dahulu, sebelum pergi beristirahat.


Dimas merebahkan diri diatas ranjang dikamar Winda. Lembut juga, tidak berbeda seperti ranjang di rumahnya. Semoga malam ini dia bisa tidur dengan nyenyak.

__ADS_1


Winda keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Dimas tidak menyangka Winda akan mandi dahulu sebelum tidur. Winda menghidupkan pengering rambut untuk mengeringkan rambutnya.


Winda terlihat kerepotan menggunakan pengering rambut hingga membuat Dimas berinisiatif untuk membantunya. Diraihnya pengering rambut dari tangan Winda dan Dimas mulai mengeringkan rambut Winda dengan sabar.


Winda terlihat tersenyum dengan perlakuan Dimas. Wajahnya tampak memerah karena malu. Sudah sekian lama dia tidak merasakan perlakuan manis Dimas. Winda serasa hidup kembali dimasa masih bersama Dimas.


Akankah dia sanggup melepaskan semuanya dan meninggalkan suaminya begitu saja? Matanya mulai berkaca-kaca, dan tak ayal butiran itupun jatuh juga di pipinya.


Dimas mematikan pengering rambut ditangannya ketika melihat Winda mulai menangis kembali. Diletakan pengering rambut itu ditempatnya.


Dimas mendekati Winda dan mengelus rambutnya yang terurai lembut. Diciumnya wangi aroma shampo kesukaannya. Untuk sesaat Dimas terbuai dengan pesona rambut Winda.


"Jangan menangis lagi sayang. Aku tidak tahan melihatnya. Aku ingin kamu melupakan semua masalahmu. Malam ini, adalah milik kita. Hanya kita berdua," suara Dimas lirih ditelinga Winda.


"Mas Dimas, maafkan aku. Jika saat ini aku terlalu terbawa perasaan. Aku sangat takut jika aku akan benar-benar kehilangan semua kebahagiaan ini," kata Winda sambil memejamkan mata.


"Kamu tidak akan kehilangan apapun. Kebahagiaan ini akan selamanya milikmu. Aku ada disini, kebahagiaan apalagi yang kau khawatirkan?" ucap Dimas sambil mencium tanda lahir di belakang leher Winda.


Perlakuan Dimas itu membuat Winda merinding.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2