
Sebenarnya, ada keinginan Dimas untuk segera memberitahu keluarganya tentang keberadaan anaknya dan Winda pada keluarga besar Winda maupun keluarga Dimas sendiri. Namun Dimas takut jika mereka akan memaksa Winda untuk mempertemukan mereka dengan cucunya.
Karena itu, lebih baik untuk sementara, Dimas menahan diri untuk tidak mengungkapkan keberadaan anak mereka.
Saat Dimas dan Winda sedang santai menjelang tidur, Winda menerima panggilan dari sang nenek. Entah apa yang mereka bicarakan, Dimas tidak bisa mendengarnya dengan jelas karena Winda hanya membalas dengan 'ya' dan 'mengerti'.
Ingin sekali Dimas ikut bicara dan mendengar suara anaknya. Balik lagi, dia membutuhkan izin dari Winda.
Dimas menyadari, bagaimana sedihnya Winda saat hamil tanpa ada suami disampingnya. Saat Maya hamil, Dimas merasa Maya sangat manja dan sensitif. Apakah Winda juga seperti itu?
Jika mengingat semua itu, Dimas merasa sangat bersalah. Pasti sangat berat perjuangan Winda untuk bisa melahirkan anak seorang diri.
Sayang, maafkan aku. Aku tidak ada disaat kamu membutuhkan aku.
"Mas, ada apa? Matamu basah, lho," tanya Winda sambil duduk disampingnya.
"Masak sih," jawab Dimas sambil mengusap matanya yang berkaca-kaca dengan jarinya.
"Mas, tadi nenek memberitahu kalau dia akan datang kesini."
"Benarkah? Apakah dia akan membawa anak kita juga?" tanya Dimas sambil menatap Winda penuh harap.
"Tentu saja nenek akan membawa anak kita. Memang agak repot sih mas sebenarnya. Kasihan nenek juga, karena harus menghadapi anak-anak yang super aktif seperti anak kita."
"Aku akan mengucapkan banyak terimakasih pada nenek saat dia datang nanti."
"Itu harus mas. Karena dia yang menggantikan posisi mas Dimas menemani aku selama 2 tahun ini."
"Sayang, aku juga minta maaf padamu, karena aku tidak ada di sampingmu saat kamu hamil. Padahal sebenarnya aku ingin sekali menikmati masa-masa itu."
__ADS_1
"Iya. Aku juga minta maaf, karena saat aku hamil, aku malah memilih pergi."
"Sayang, semua sudah berlalu. Ingat, besok-besok kalau ada sesuatu, konfirmasi dulu benar dan tidaknya. Jangan langsung memutuskan untuk menyerah," kata Dimas sambil memeluk Winda.
"Iya, mas."
"Sayang, mau punya adik lagi? Kita buat saja sekarang," kata Dimas mesra.
"Apaan sih mas, anak kita baru berapa usianya? Bilang saja kamu pingin, aku nggak pelit kok mas," kata Winda sambil menatap wajah suaminya yang tersenyum karena sudah ketahuan niatnya.
"Ketahuan juga akhirnya. Aku cuma mau mengingatkan, besok kita ke rumah orangtuaku. Jangan sampai bangun kesiangan."
"Kalau begitu, kita segera tidur saja."
"Tunggu. Masih ada waktu. Sekali saja, sayang."
Dimas memulai dengan sentuhan lembut dan penuh sensasi. Hingga selimutnya berantakan. Dimas menunggu sampai Winda benar-benar siap menerima serangan adik kecilnya yang sudah siap bertempur dari tadi.
Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh mereka yang sudah tidak layak dilihat orang lain. Dan pertempuran itu berlangsung cukup lama sampai membuat mereka lelah dan terkulai lemas.
Esok harinya, mereka berdua bersiap pergi ke rumah orangtua Dimas.
"Kita sarapan di sana saja, sekalian mencicipi masakan ibu. Sudah lam kamu tidak makan masakan ibu kan?" kata Dimas sambil membuka pintu mobil.
"Iya, terakhir kali waktu mereka memarahi kita. Sudah lama sekali ya, mas."
"Ayo kita berangkat sekarang. Kita kasih kejutan ke mereka kabar kedatangan anak kita," kata Dimas senang.
Winda tersenyum lalu mengikuti kata suaminya. Dimas segera masuk dan tidak lupa memasang sabuk pengaman dan berdoa agar selamat sampai tujuan.
__ADS_1
Sesampainya di rumah orangtuanya, Dimas disambut oleh Lilis yang kebetulan akan pergi berolahraga.
"Kakak, mbak Winda. Lilis senang kalian datang. Ayo masuk. Ayah dan ibu pasti senang juga melihat kedatangan kalian."
"Benarkah," tanya Dimas.
"Mereka sudah menunggu kedatangan kalian. Masuklah."
Dimas dan Winda berjalan santai mengikuti Lilis. Saat sampai diambang pintu, keduanya mengucap salam.
"Assalamualaikum."
Suara salam Dimas dan Winda yang hampir bersamaan.
"Wa'alaikum salam.'
Jawab ayah, ibu dan Lilis bersamaan juga.
"Kebetulan kalian datang. Ayo kita sarapan dulu," ajak sang ibu sambil meraih tangan Winda." Winda, ibu senang kamu sudah kembali dan bersama Dimas lagi."
"Iya, Bu. Maafkan Winda karena telah membuat kalian kecewa."
"Tidak, Winda," kata ibu sambil tersenyum.
"Sudahlah, nanti kita dengar cerita Winda. Sekarang saatnya kita sarapan dulu," kata ayah.
Semua duduk dimeja makan, dan memulai sarapan.
Bersambung
__ADS_1