Istri Titipan Talak 3

Istri Titipan Talak 3
Bab 16. Makan malam


__ADS_3

Sebelum pulang ke rumah, Dimas menyempatkan diri mampir ke rumah orangtuanya untuk menemui Lilis. Tentu saja, dia ingin mendengar penjelasan Lilis tentang permintaannya kemarin.


Dia sengaja mengajak Lilis duduk di samping rumah seperti biasanya agar kedua orangtuanya tidak akan mendengar pembicaraan mereka. Dimas tidak bisa menunggu lagi lebih lama.


Melihat sikap kakaknya yang sedikit tidak sabar itu membuat Lilis tersenyum geli.


"Lilis, bisa nggak sih nggak membuat kakakmu ini menunggu?" tanya Dimas kesal.


"Kakak, sabar dikit kenapa sih kak," ucap Lilis meledek.


"Lilis, kurang sabar apa aku coba. Dah ah, aku pulang saja," ucap Dimas sambil berdiri.


"Kakak, jangan marah dong. Oke, Lilis jujur sama kakak. Duduk dulu," ucap Lilis sambil menghela nafas.


"Buruan Lis. Bilang sama kakak, gimana hasilnya?" tanya Dimas penasaran.


"Gini kak, kemarin aku lihat mbak Winda pelukan dengan seorang laki-laki..."


"Apa?! Pelukan dengan laki-laki?!" tanya Dimas kaget.


"Iya. Tapi laki-laki itu Zaki, sepupunya," jawab Lilis.


"Lilis, bikin emosi kakak saja," kata Dimas menghembuskan nafas panjang agar hatinya tenang.


"Tapi Lilis tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi kelihatannya mbak Winda biasa saja sih kak. Nggak kayak lagi sedih atau marah," kata Lilis.


"Benarkah? Jadi dia tidak terlihat ada penyesalan, sama sekali?" ucap Dimas tersenyum malu.


"Memang, ada apa sih kak sampai segitunya?" tanya Lilis penasaran.


"Nggak, nggak ada apa-apa. Anak kecil tau apa, maksudku kamu belum menikah jadi kamu nggak tahu urusan keluarga," jawab Dimas tersenyum.


"Aish, lihat kakak seperti ini aku jadi agak gimana gitu. Kalau nanti aku menikah, apa seperti keluarga kakak. Minta orang lain lihat sikap istrinya. Emang kakak apain mbak Winda, sampai kakak takut gitu?" tanya Lilis sambil menggelengkan kepala.


"Kakak apain? Ya emang dia kan istri kakak. Mau kakak apa-apain aja, ya itu nggak perlu kamu tahu lah," kata Dimas agak gugup.


"Heh, tunggu. Lilis jadi curiga, jangan-jangan kakak sudah..."


"Diam aja bisa nggak sih. Nggak perlu di ucapkan," ucap Dimas sambil memberi isyarat untuk diam.

__ADS_1


Lilis diam sambil menahan tawa. Dia paham maksud kakaknya. Lilis ikut senang karena mereka akhirnya bisa bersatu sebagai pasangan yang sesungguhnya.


"Sudahlah, kakak pulang dulu. Tolong sampaikan pamitku pada ayah dan ibu. Katakan kalau kakak lagi terburu-buru," kata Dimas lalu beranjak pergi.


"Kakak, aku tunggu kehadiran ponakanku ya," ucap Lilis setengah berteriak.


Dimas tersenyum lebar mendengar perkataan Lilis. Mungkin sebenarnya, Dimas juga mengharapkan hal itu terjadi. Dia ingin memiliki seorang anak untuk bisa memperkuat hubungannya dengan Winda.


Tetapi apa itu mungkin. Karena aku baru sekali berhubungan badan dengan nya?


Sampai di rumah, Winda ternyata sudah tertidur sambil bersandar di sandaran kasur. Mungkin tadi dia sedang menunggu Dimas pulang. Dimas menyesal karena malam ini dia pulang terlambat gara-gara menemui Lilis.


Dimas merapikan tidur Winda dengan lembut dan pelan. Dimas tersenyum memandangi wajah cantik dihadapannya. Dengan lembut, Dimas mencium kening Winda sebagai ucapan selamat malam. Lalu Dimas bergegas mandi untuk menghilangkan penat setelah seharian bekerja.


Esoknya, Dimas merasakan semua kembali seperti biasanya. Winda sudah menyiapkan makanan kesukaan Dimas, nasi goreng pedas.


Dimas memperhatikan Winda sambil makan. Winda yang menyadari jika suaminya terus melihatnya, dia menjadi salah tingkah. Entah sejak kapan, Winda merasa agak malu jika Dimas menatapnya.


Peristiwa semalam, pasti akan terasa canggung jika dibicarakan saat ini. Karena itu Dimas diam saja dan hanya tersenyum.


"Winda, bisakah nanti malam kita makan malam berdua?" tanya Dimas ragu.


"Kalau begitu nanti aku akan kirimkan alamatnya," kata Dimas senang.


Winda mengangguk setuju. Mereka sarapan sambil terbawa pada perasaannya masing-masing.


Hari ini menjadi hari paling panjang dalam hidup Dimas dan Winda. Hari menanti kencan pertama mereka. Pagi berganti siang. Siang berganti sore. Dan akhirnya malam pun tiba.


Dimas sudah mengirimkan alamat restauran pada Winda sejak sore tadi. Dimas menunggu kedatangan Winda dengan harap-harap cemas.


Tidak berapa lama, Winda datang dengan penampilan yang sangat memukau meski dengan make up yang sederhana. Pasti Winda sengaja berdandan untuk kencan pertama mereka kali ini.


Dimas menyambut kedatangan Winda dengan ramah dan lembut. Dimas mempersilakan Winda duduk sambil menarikan kursi untuk Winda. Winda tersenyum agak malu.


Makanan yang di pesan Dimas pun segera datang. Mereka mulai menikmati makan malam romantis dengan hati berbunga.


Selesai makan malam, Dimas bermaksud mengungkapkan perasaanya pada Winda. Dia ingin melamar Winda untuk menjadi istrinya karena pada saat mereka akan menikah dulu, Dimas tidak pernah bertemu dengan Winda. Apalagi melamarnya.


Mereka dulu benar-benar tidak saling mengenal satu sama lain. Kali ini Dimas ingin memanfaatkan waktu untuk mengenal Winda lebih dekat.

__ADS_1


Namun, baru saja Dimas akan mengeluarkan sebuah kalung berlian sebagai ungkapan cinta, Bayu datang dengan penuh percaya diri.


"Hai, kalian sedang berkencan?" tanya Bayu sambil duduk diantara Winda dan Dimas.


"Bayu, untuk apa kamu kemari?!" tanya Dimas kesal sambil memasukkan kembali kotak perhiasan kedalam saku bajunya.


"Aku tadi ingin makan di tempat ini. Aku tidak menyangka aku akan bertemu kalian disini," ucap Bayu pura-pura tersenyum."Kalian sedang merayakan sesuatu? Kenapa tidak mengajakku?"


"Bayu, aku minta kamu pergi sekarang. Kehadiran kamu di sini tidak dibutuhkan?!" ucap Dimas.


"Aku memang sengaja ingin membuat kalian tidak nyaman. Winda, apa kabar? Kamu tambah cantik saja," ucap Bayu sambil menatap tajam wajah Winda dengan tatapan mesum.


"Bayu, jangan pandangi istriku dengan tatapan seperti itu?!" kata Dimas kesal.


"Kenapa, tidak rela? Mau marah, ayo kita selesaikan dengan cara laki-laki?!" ucap Bayu menantang.


"Bayu, kamu benar-benar menguji kesabaranku. Oke, ayo kita lakukan. Kau pikir aku takut padamu?!" kata Dimas emosi.


"Mas Dimas, sudahlah. Jangan kamu ladeni dia. Dia memang sengaja membuat kamu marah," kata Winda berusaha meredam emosi Dimas.


"Winda, sayang. Kamu masih ingat saat kita pertama kali berkencan? Suasananya lebih romantis dari pada malam ini. Saat itu kita berciuman dan kamu menerima lamaranku," ucap Bayu sengaja memancing Dimas marah.


"Mas, Bayu. Semua sudah berakhir sekarang. Mas Bayu tidak perlu mengingat semua itu lagi," kata Winda kesal karena Bayu terus mengungkit masa lalu.


"Tapi aku tidak bisa melupakan itu. Apa aku harus cerita malam pertama kita juga?" kata Bayu sambil tersenyum sinis.


Batas kesabaran Dimas telah mencapai puncak. Dengan penuh amarah, Dimas berdiri lalu menarik baju Bayu dan bugh. Sebuah pukulan mendarat di muka Bayu. Bayu juga tidak mau kalah. Maka terjadilah adu pukul yang membuat Winda ketakutan. Winda berlari meminta bantuan beberapa orang yang kebetulan ada di situ dan beberapa pelayan laki-laki.


Apa yang akan terjadi selanjutnya?


Hai readers otor baca juga karya teman otor yang sangat bagus judulnya Rumah Tangga by Minnami jangan lupa like koment dan fav ya semoga suka



Binar tak menyangka ujian cintanya bersama sang suami hadir setelah menikah, masalah bertubi-tubi silih berganti menghampiri rumah tangga mereka.


Mertua dan ipar yang selalu mengganggu kenyamanannya, masalah orang ketiga pun juga ikut mendekati biduk rumah tangganya. Mereka selalu mencari celah, agar bisa merusak hubungan yang selama ini ia bangun bersama sang suami.


Saat batas kesabaran mulai di ambang batas dan tidak satupun orang percaya padanya, pantaskah Binar bertahan dengan semua?

__ADS_1


__ADS_2