Istri Titipan Talak 3

Istri Titipan Talak 3
Bab 54. Mencari waktu yang tepat


__ADS_3

Dimas pergi ke rumah orangtuanya dengan perasaan campur aduk. Pikirannya kacau karena masalah Deni. Belum lagi permintaan Maya yang impossible, dan bagaimana cara menjelaskan semua masalah ini pada Winda.


Dimas mendekati Winda yang sedang bersama twins V duduk dan bercanda. Kebahagiaan yang mereka rasakan, mana mungkin Dimas tega merampasnya.


"Papi..."


Vano berlari pelan kearah Dimas yang kemudian menggendongnya. Sementara Vani memeluk ibunya erat. Vani memang tampak kecewa ketika Dimas pergi dengan Deni. Winda sebenarnya juga takut jika Vani berpikir, Papinya akan meninggalkannya.


"Vani, itu Papi. Vani tidak ingin di gendong api kayak Vano?"


"Vani mau sama Mami saja," kata Vani pelan.


"Apa Vani marah sama Papi?" tanya Dimas sambil duduk di sampingnya.


Vani semakin memeluk erat Winda. Dimas menghela nafas berat. Dia akhirnya menyadari, perbuatannya kali ini sangat membuat istri dan anak-anaknya terluka.


Dimas menatap wajah Winda yang datar, seolah tidak terjadi apapun. Winda diam seribu bahasa. Bahkan tidak menyapa Dimas sama sekali. Hal itu, semakin membuat hati Dimas sedih. Betapa dia sudah menjadi suami dan ayah yang tidak berperasaan.


Tetapi, tidak mungkin Dimas membicarakan semua masalahnya di sini. Hari ini adalah hari pertunangan Lilis dan Zaki, karena itu Dimas tidak ingin membuat kekacauan.


Acara pertunangan sudah selesai setengah jam yang lalu. Lilis dan Zaki baru menyadari jika kakaknya tidak ada disaat bahagianya itu. Hati Lilis sedih dan kecewa saat melihat Dimas datang.

__ADS_1


"Kakak, tega ya. Di hari spesial Lilis, Kak Dimas tidak ada. Memang urusan apa yang lebih penting dari pertunangan Lilis!"


"Lilis, sudahlah. Mas Dimas pasti ada alasan tersendiri. Jangan membuat keributan di hari bahagia ini. Oke?" kata Zaki mencoba menghibur Lilis yang sedang di bakar amarah.


"Lilis, maafkan Kak Dimas."


Dimas hanya bisa menghela nafas sambil melihat Lilis pergi bersama Zaki. Rupanya, tidak hanya istri dan anak-anaknya yang terluka tetapi adiknya juga. Lilis terlihat sangat marah padanya.


Dimas mulai menyesali apa yang telah dia lakukan hari ini. Dia telah mempertaruhkan kebahagiaan keluarganya yang baru saja didapatkannya.


Selesai acara, Winda meminta Ayah dan ibunya serta orangtua Zaki untuk menginap di rumahnya. Namun mereka memilih tinggal di rumah kontrakan Zaki untuk memberi nasehat pada Zaki tentang kehidupan berumahtangga.


Dimas dan keluarga akhirnya kembali ke rumah. Selama perjalanan tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut Winda. Hanya Vano yang masih mau bicara dengan Dimas.


"Mbak Novi, tolong bantu bawa Vani masuk ke dalam ya? Biar aku yang bawa Vano."


"Baik, Bu Winda."


"Biar aku saja yang bawa Vano," Kata Dimas sambil mengangkat tubuh Vano.


Winda masih tetap diam tidak menanggapi perkataan Dimas. Setelah Twins V tidur di kamar, Winda bergegas mandi dan menunggu Dimas untuk melakukan sembahyang berjamaah.

__ADS_1


Meski sedang marah dan tidak ingin bicara pada suaminya, Winda masih menjalankan kebersamaan dalam beribadah.


Jam dinding sudah menunjukan pukul 10 malam. Dimas berbaring di samping istrinya yang berbaring membelakanginya. Seharusnya ini saat yang tepat untuk bicara pada Winda tentang Deni dan Maya.


Dimas mencoba memeluk Winda dan mencari tahu apakah Winda sudah tertidur atau belum.


"Winda, sayang. Aku salah, aku ingin minta maaf padamu dan anak-anak," bisiknya lirih.


"Aku tidak tahan melihatmu tidak mau bicara padaku. Jika ingin marah, marahlah. Jika kamu kesal, pukul saja aku. Aku tidak akan membalas karena aku memang yang salah," ucapnya lagi.


Tiba-tiba, Winda berbalik dan mencubit perut Dimas dengan kekuatan penuh.


"Augh...!"


Dimas berteriak sambil menutup mulutnya. Sakit sekali cubitan Winda, tetapi itu lebih baik dari pada diacuhkan oleh orang yang sangat kita cintai.


Winda membenamkan kepalanya di dada Dimas yang kemudian memeluknya erat. Terdengar Isak tangis Winda yang membuat tubuh Winda berguncang.


Rasa bersalah itu semakin kuat mendorong hati Dimas untuk segera mengatakan semuanya pada Winda.


Semua masalah memang harus diputuskan bersama tanpa ada yang disembunyikan. Untuk menghindari keputusan yang salah dan menanggung segala konsekuensinya bersama. Meski hasilnya tidak sesuai harapan, tetap komunikasi jalan terbaik.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2