
Adegan perkelahian itu menarik perhatian karyawan Winda. Mereka melihat bos mereka dalam keadaan panik dan gemetar. Mereka mendekati Winda dan membawanya keluar ruang kerjanya. Salah satu mengambilkan minum untuk Winda dan mereka berusaha menenangkan Winda.
Sementara di dalam, perkelahian berakhir imbang. Mereka sama-sama babak belur dan terkulai dilantai. Nafas mereka terengah-engah diikuti rasa sakit yang menjalar dari beberapa bagian wajah yang terluka.
"Kamu gila Dimas," kata Bayu kesal.
"Kalau aku gila, kamu apa? Seperti binatang," balas Dimas.
"Kamu seharusnya tidak menghalangiku. Dia adalah milikku yang aku titipkan padamu. Jadi jangan pernah menganggap dia milikmu."
"Aku hanya mengingatkan kamu saja Bayu. Dia sekarang istriku. Dia adalah tanggungjawab ku sekarang. Meskipun aku tidak bisa membuatnya tersenyum, setidaknya aku tidak boleh membiarkannya menangis," bela Dimas.
"Apa kalian sudah pernah berhubungan?" tanya Bayu penasaran karena Dimas mulai melindungi Winda.
"Kamu benar-benar keterlaluan Bayu. Bagaimana mungkin aku melakukan hal itu, aku bukan kamu," jawab Dimas kesal.
"Tapi kamu sudah lama menduda, pasti kamu juga ingin belaian seorang wanita seperti aku. Kita laki-laki normal Dimas," ucap Bayu.
"Tapi aku masih tahu norma dan aturan, tidak seperti kamu. Apa yang kamu lakukan pada Winda, membuat aku sebagai suami tidak ada harganya. Jangan pernah lakukan itu lagi selama Winda masih menjadi istriku," kata Bayu sedikit mengancam.
Bayu tertawa melepaskan kekecewaan hatinya karena dia tidak dapat melampiaskan hasratnya pada Winda. Juga rasa kecewanya karena sahabatnya benar-benar berusaha menjadi suami yang baik.
Mereka duduk dan saling memandang satu sama lain. Tiba-tiba Zaki masuk dengan marah.
"Mas Bayu, apa yang kamu lakukan pada mbak Winda?!" teriak Zaki sambil menarik kerah baju Baju dan siap memukul.
"Zaki, sabar. Aku sudah menghajarnya. Lepaskan dia, Zaki?!" teriak Dimas sambil berusaha melepaskan tangan Zaki dari leher Bayu.
Zaki melepaskan kerah baju Bayu dan berusaha menahan amarahnya.
"Mas Dimas, kenapa kamu membelanya? Aku hampir lupa. Kalian adalah sahabat dan kalian pasti bersekongkol membuat mbak Winda menderita," teriak Zaki marah.
"Bayu pergilah sebelum aku berubah pikiran," kata Dimas pada Bayu.
Bayu melangkah pergi dengan rasa kesal dan kecewa. Dia tidak menyangka bahwa semua akan berakhir begini. Sudah gagal, dia diusir seperti penjahat.
"Zaki, aku bisa menjelaskan semuanya. Bagiamana keadaan Winda?" tanya Dimas.
"Dia terlihat sangat syok dak ketakutan," jawab Zaki sambil menghela nafas.
Dimas melangkah keluar untuk melihat kondisi Winda. Dimas melihat Winda tidak menangis hanya saja airmata menetes diujung matanya yang sayu.
Kenapa aku jadi kasihan melihat wanita ini?
__ADS_1
"Zaki, aku akan membawa Winda kembali ke rumahku. Jika orangtuanya melihat kondisinya seperti ini, mereka pasti akan sangat khawatir."
"Benar juga mas Dimas. Lagi pula, wajah mas Dimas juga lebam-lebam, pasti paman akan curiga," sambung Zaki.
"Iya Zaki, kamu benar. Tolong kamu sampaikan pada ayah dan ibu, bahwa kami ada urusan penting dan buatlah alasan yang masuk akal," pinta Dimas.
"Baiklah mas Dimas, nanti saya akan menyampaikan pada paman dan bibi," kaya Zaki sambil mengangguk.
"Aku pergi. Ayo Winda, kita kembali ke rumah kita," ajak Dimas sambil memapah tubuh Winda masuk ke dalam mobil.
"Terimakasih, mas. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika mas Dimas tidak datang," kata Winda pelan.
"Itu adalah tanggungjawab aku sebagai suamimu. Lagipula kenapa kamu pergi tidak bilang dulu padaku, aku bisa mengantarmu."
"Maaf, aku hanya ingin menyendiri untuk sementara," jawab Winda.
"Apa kamu marah padaku?" tanya Dimas.
"Tidak mas," jawab Winda.
"Syukurlah. Mulai sekarang, jika kamu ingin pergi, bilanglah padaku. Setidaknya jik aku bisa mengantar, aku pasti akan mengantarmu."
Pembicaraan mereka mulai terlihat santai. Winda juga sudah mulai tenang dan terlihat sudah tidak menangis lagi.
"Kamu mandilah dulu dan segera istirahat," kata Dimas.
Winda hanya mengangguk pelan lalu melangkah masuk. Sementara Dimas mengambil pakaian ganti dan mandi di kamar lain. Selesai mandi Dimas kembali ke kamarnya untuk melihat kondisi Winda.
Kenapa aku jadi sangat mengkhawatirkan kondisi Winda?
Dimas mengetuk pintu, takut jika Winda sedang berganti pakaian. Setelah Winda mempersilakan masuk, barulah Dimas masuk. Saat itu Winda sedang menyisir rambutnya yang panjang dan dia merasa kesulitan karena tangannya sakit kejadian tadi.
Dimas mendekati Winda sambil menwarkan bantuan.
"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Dimas sambil berdiri di samping Winda.
"Bisa bantu sisir rambut Winda, mas?" tanya Winda balik.
"Boleh, mana sisirnya?" tanya Dimas.
Winda menyerahkan sisir yang ada ditangannya kepada Dimas. Dimas mulai pelan-pelan menyisir rambut Winda. Akan tetapi Dimas sangat terkejut melihat tanda lahir di belakang leher Winda.
Tanda lahir yang dimiliki sahabat masa kecil Dimas. Dimas berhenti menyisir hingga membuat Winda bertanya-tanya.
__ADS_1
"Mas, ada apa?" tanya Winda.
"Gendut," gumam Dimas.
"Bagaimana mas Dimas tahu sebutan namaku waktu kecil?" tanya Winda penasaran.
Dimas tersenyum.
Ternyata Winda adalah sahabat masa kecilku dulu. Gadis gendut yang selalu membantuku ketika aku dibully di sekolah.
Ternyata si gendut itu sekarang sudah banyak berubah. Dia tidak segendut dulu lagi. Bahkan terlihat sangat cantik. Gadis gendut yang pernah mendapatkan ciuman pertamaku sekarang ada dihadapan ku. Rasanya aku ingin memeluknya, batin Dimas.
"Mas, kenapa diam saja?" tanya Winda membuyarkan lamunannya.
"Apa kamu masih ingat aku?" tanya Dimas.
"Siapa?" tanya Winda.
"Aku, rempeyek kecil. Kamu ingat saat SD dulu kita satu kelas," kata Dimas.
Winda tiba-tiba tersenyum dan berbalik arah.
"Rempeyek kecil? Itu kamu?!"
Dimas tersenyum sambil mengangguk membuat Winda bergerak cepat memeluk Dimas yang dengan ragu membalas pelukan Winda. Dimas sangat senang bisa bertemu si gendut lagi dan sekarang dia malah sudah menjadi istrinya.
Apakah ini takdir? batin Dimas.
Sejak itu, kehidupan mereka berubah total. Mereka tidak lagi saling diam dan suasana rumah yang dulu sepi kini sudah mulai ada tawa. Sekarang mereka hidup selayaknya sahabat yang saling memperhatikan. Walaupun untuk sepenuhnya menjadi pasangan suami istri, mereka belum bisa.
"Winda, hari ini aku akan ada operasi. Jadi mungkin aku pulangnya agak malam. Kamu istirahat dulu saja tidak usah menungguku," kata Dimas.
"Iya mas. Aku doakan semoga operasinya berjalan lancar," kata Winda sambil Salim pada suaminya.
"Aku pergi dulu."
Suasana seperti inilah yang membuat Dimas bahagia. Meskipun hanya hal kecil. Karena dulu, saat menikah dengan Maya, tidak pernah Maya mengantar Dimas karena dia pasti masih tidur.
Apakah Dimas sudah mulai jatuh cinta pada Winda?
Hai, otor bawa novel yang apik karya temen otor yang bernama Susi Similikity berjudul Istri kecil Dosen Muda semoga suka yaa
__ADS_1