
Matahari mulai menyembul di ufuk timur. Cahayanya masuk melalui jendela kamar yang di tengah dibuka oleh Winda yang baru saja selesai menjalankan ibadah bersama Dimas.
Mata Winda nampak merah dan sembab karena menangis. Dia begitu kuat diluar, dihadapan orang lain. Dia menyembunyikan rapat-rapat kesedihannya.
Dimas memeluk Winda dari belakang untuk memberinya kekuatan. Mereka hanya diam dalam pikiran mereka masing-masing. Suara isak tangis Winda mulai terdengar dan membuat Dimas semakin erat memeluknya.
"Sayang, menangis lah sesukamu. Aku akan ada disini menemanimu."
Winda membalikan badan dan menyembunyikan kepalanya di pelukan Dimas. Ada sebuah rasa damai yang Winda rasakan, ketika Dimas memeluknya.
"Sayang, aku memang bukan laki-laki yang sempurna. Tetapi aku memiliki cinta dan kesetiaan. Hanya itu yang bisa aku tawarkan padamu."
"Mas Dimas, kenapa kamu bicara seperti itu?"
"Entahlah, aku merasa tidak percaya diri. Aku kehilangan kepercayaan diriku sejak melihat pengorbanan Bayu untukmu. Aku merasa tidak sebanding dengannya."
"Mas Dimas, aku istrimu. Sejak aku menyadari, kesempurnaan seseorang tidak abadi. Ada saatnya pasti melakukan kesalahan, seperti mas Dimas. Ketika mas Dimas menerima aku yang mandul dulu, bagiku, kamu sudah menjadi pahlawanku."
"Sayang..."
"Jangan membandingkan diri dengan orang lain. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dan aku menerima mas Dimas apa adanya. Seorang suami yang mencintai keluarganya dan setia pada satu pasangan saja. Itu sudah cukup bagiku."
"Terimakasih, sayang."
"Mas, Besok aku dan Zaki ingin pergi mencari Vani di sekitar tempat kejadian kemarin. Aku mohon mas Dimas mengizinkan kami pergi."
"Sayang, besok aku ada operasi. Aku tidak bisa menemanimu."
"Tidak apa-apa, mas. Kalau nanti mas Dimas ada waktu bisa temani aku mencari Vani."
__ADS_1
"Aku akan meminta bantuan detektif untuk mencari Vani. Kita memang harus mencari alternatif lain selain mengandalkan pihak kepolisian," kata Dimas.
"Winda mengerti mas. Oh ya. Hari ini ayah dan ibu akan datang. Mereka ingin menginap disini beberapa hari."
"Iya, nanti aku akan pulang lebih cepat," kata Dimas.
Mereka masih berpelukan hingga mereka sama-sama merasa telah mendapatkan kembali kekuatan mereka untuk tetap bertahan. Dimas dan Winda mempersiapkan diri untuk kegiatan mereka masing-masing.
Hari sudah berganti siang, ketika orangtua Winda datang ke rumah mereka. Di rumah masih tampak sepi karena seisi rumah sedang tidak ada di rumah. Hanya terlihat bibi yang membukakan pintu dan menyambut kedatangan mereka.
Tiba-tiba mbak Novi berlari keluar sambil berteriak-teriak memanggil Vano. Bibi segera mencegat mbak Novi untuk mengetahui apa yang terjadi. Tiba-tiba raut wajah bibi berubah cemas.
"Ada apa, bibi?"
"Mas Vano hilang, Bu, Pak? Novi tidak bisa menghubungi Pak Dimas dan Bu Winda. Kita harus bagaimana?" ucap bibi panik.
"Apa?! Kita cari dulu disekitar rumah. Jangan panik dulu," kata ayah Darma.
"Baiklah. Ibu bantu cari Vano dan ayah akan menghubungi mereka. Semoga bisa segera tersambung."
Pak Darma berusaha menghubungi ponsel Winda dan Dimas. Namun hingga beberapa kali, panggilan tidak tersambung. Winda hari ini memang pergi ke pinggiran kota tempat Maya menyekap Vani.
Mungkin disana tidak ada sinyal.
Ponsel Dimas memang tersambung tetapi tidak ada jawaban.
Mungkin Dimas sedang melakukan operasi.
Pak Darma menarik nafas berat. Dia akhirnya hanya mengirimkan pesan. Jika mereka membacanya, mereka pasti akan segera pulang.
__ADS_1
Pencarian Vano masih terus dilakukan. Mereka sangat khawatir, peristiwa Vani akan terulang. Tetapi, bukannya Bayu maupun Maya masih koma di rumah sakit? Hanya mereka kandidat utama yang membenci keluarga Dimas dan Winda.
Selang satu jam, Dimas sudah sampai di rumah dengan wajah panik. Dimas menemui ayah Darma dan Bu Sari untuk menyalaminya.
"Apa Vano sudah ditemukan, Ayah?"
"Belum. Kami sudah mencarinya ke sekitar rumah, tapi Vano tetap belum ditemukan."
Wajah Vano tampak semakin cemas dan khawatir, kejadian Vani terulang lagi. Dimas dan Winda bisa kehilangan arah.
Dimas segera mengecek CCTV dan tidak mendapati Vano keluar dari rumah lagi setelah masuk ke dalam rumah seusai pulang sekolah. Ada rasa rasa lega tersirat dari wajah Dimas.
"Kita fokus cari Vano didalam rumah saja. Karena setelah mengecek CCTV, tidak ada tanda-tanda Vano keluar rumah ini," kata Dimas pada yang lain.
Diluar, mobil Zaki berhenti dan Winda turun dari mobil dan berlari masuk kedalam rumah sambil berteriak-teriak memanggil Vano. Hatinya bagai diiris-iris dan dia hampir melupakan jika saat ini dia sedang hamil.
Dimas melihat kepanikan Winda, dia langsung mendekati Winda dan menariknya kedalam pelukannya untuk menenangkannya.
"Sayang... tenanglah."
"Vano, Vano mas ..."
"Tenang dulu, kita cari dulu sama-sama. Dari aku ngecek CCTV, dia tidak keluar. Berarti dia masih ada di rumah ini."
"Ayo mas, kita cari Vano."
Mereka bergegas masuk ke kamar Vano. Winda mencoba melihat beberapa buku Vano yang mungkin bisa menjadi petunjuk keberadaan Vano saat ini.
Winda menemukan sebuah lukisan milik Vano.
__ADS_1
Bersambung