Istri Titipan Talak 3

Istri Titipan Talak 3
Bab 65. Cemburu


__ADS_3

Suasana ruang perawatan untuk pasien Maya terasa lengang. Tidak ada satupun keluarga yang datang menjenguknya. Mungkin mereka malu memiliki keluarga seperti Maya. Hanya ada beberapa perawat yang sesekali memeriksa kondisinya.


Winda dan Dimas datang berkunjung, bukan karena simpati tetapi karena mereka menaruh harapan besar pada Maya. Kesembuhan Maya menjadi hal yang mereka harapkan. Sesungguhnya, siapa yang mau mendoakan kesembuhan untuk orang yang telah menculik anak mereka.


Keberadaan Vani, hanya Maya yang tahu. Beribu pertanyaan muncul dalam benak Winda.


Mungkinkah Maya sengaja menyembunyikan Vani untuk membuat hidup keluarga Winda tidak bahagia bersama Dimas?


Ataukah Maya sudah membunuh Vani, seperti yang pernah dia lakukan padanya dulu?


Segala kemungkinan bisa saja terjadi.


Setelah menjenguk Maya, Dimas dan Winda juga menjenguk Bayu. Meski ada sedikit rasa cemburu pada hati Dimas, karena melihat pengorbanan Bayu yang sangat besar. Sebagai seorang suami, rasanya dirinya merasa tertampar karena bukan dia yang menyelamatkan istrinya melainkan mantan suaminya.


Entah apa arti dirinya sekarang didepan Winda. Masihkah dia menghargainya sebagai suami, sedang disaat bahaya malah orang lain yang bisa menyelamatkannya?


"Mas Dimas, ada apa? Dari tadi aku perhatikan mas Dimas sering melamun sendiri? Bukankah mas Dimas mengajarkan aku untuk selalu bersyukur karena aku masih diberi kesempatan untuk hidup lagi. Hidup untuk yang ketiga kalinya."


"Dan lagi-lagi, bukan aku pahlawanmu, tapi orang lain."


"Mas, apa maksud ucapanmu?"


"Semua yang terjadi padamu juga pada Vani, semua karena aku. Aku awal dari semua ini," kata Dimas sedih.

__ADS_1


"Mas, masih ingat saat mas Bayu melakukan banyak hal buruk juga pernah mengancam hidupmu? Kamu selalu membuatku untuk tidak menyerah dan mundur. Tidak menyesali pertemuan kita yang penuh kontroversi."


"Tapi akibatnya sampai sekarang Vani masih belum juga ketemu. Aku merasa bersalah pada kalian."


"Mas, bukan hanya kamu yang bersedih. Akulah yang paling menderita. Sembilan bulan aku mengandungnya, aku melahirkan dan aku merawatnya tanpa seorang suami di sampingku. Aku yang paling merasa kehilangan, seorang anak yang selalu menemaniku disaat putus asa jauh darimu."


"Sayang, maafkan aku."


"Jadi, jangan merasa semua ini salah mas Dimas. Jangan menambah sedih dan menoreh luka baru di hidupku. Aku mampu bertahan karena ada dirimu, mas Dimas."


" Maafkan aku sekali lagi, Sayang. Aku berjanji akan mampu menjadi penopang hidupmu kedepannya. Kita tidak akan menyerah begitu saja untuk menemukan Vani. Sekalipun Maya tidak akan sadar untuk selamanya."


Dimas memeluk Winda untuk saling menguatkan. Di ruangan yang sepi ini, hanya Bayu yang sedang terbaring koma tanpa ekspresi. Hanya terlihat ada setitik air mengalir dari sudut matanya. Saat melihat hal itu, Winda merasa terpanggil untuk membantu sang mantan yang kini menjadi penolongnya.


"Bagaimana caranya?"


"Orang yang sedang koma, adalah orang yang berada diantara hidup dan mati. Mungkin, kita bisa memberi mereka semangat untuk tetap hidup. Mereka harus ada niat untuk tetap hidup dulu. Dan selanjutnya adalah takdir."


"Kamu saat ini sedang hamil. Tidak baik bagimu untuk berlama-lama di rumah sakit. Lagipula aku tidak akan membiarkan kamu sendirian berada di ruangan seperti ini sendirian."


"Mas, aku hanya akan datang seminggu sekali. Tapi kali ini aku akan mencoba mengajak mas Bayu berbicara. Aku ingin membuat mas Bayu sembuh sebagai rasa terimakasihku. Boleh mas?"


"Baiklah, jika itu akan membuat hatimu tenang. Kamu boleh membantu Bayu. Tapi ingat, kamu adalah istriku dan dia hanyalah mantan."

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan selalu mengingat kata-kata mas Dimas."


Disaat seperti ini, masih menunjukkan rasa cemburu, gumam Winda.


"Apa yang kau katakan?"


Winda hanya menggelengkan kepalanya dan menarik nafas berat. Rasa cemburu inilah yang kadang Winda harapkan dari suaminya karena cemburu itu bisa menunjukan rasa cinta. Asalkan cemburu yang tidak berlebihan.


Mulut Dimas memang berkata boleh, tetapi sebenarnya Dimas sangat cemburu membayangkan Winda akan menjadi semakin dekat dengan Bayu. Tetapi mengingat jasa Bayu, Dimas berusaha menekan perasaanya.


Setelah mendapat izin dari sang suami, Winda mendekati Bayu. Winda duduk di kursi yang disiapkan Dimas agar Winda tidak kecapekan berdiri.


Winda mengusap airmata Bayu yang tadi terlihat olehnya jatuh dari sudut matanya. Lalu dia menyentuh jari-jari Bayu yang membuat Dimas langsung bereaksi.


Dimas menarik tangan Winda yang membuat Winda kaget.


"Aku mengizinkan kamu membantu Bayu agar cepat sembuh, bukan untuk menyentuhnya!" ucap Dimas marah.


"Mas, aku hanya menyentuhnya untuk melihat reaksinya. Kenapa kamu marah?"


"Winda, jangan uji kesabaran aku."


Aku sangat cemburu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2