
Pagi yang cerah, secerah hati Lilis.Wajah yang manis dan penuh harapan. Hari ini untuk pertama kalinya, dia akan belajar membuat kue di toko kue milik Winda. Tujuan utamanya untuk mengenal Zaki lebih jauh, sekaligus belajar membuat kue untuk calon suaminya kelak.
Dengan pakaian agak berbeda dari biasanya, Lilis berangkat dengan penuh semangat. Kali ini dia tidak naik sepeda motornya melainkan naik mobil. Maklum, dia ingin terlihat feminin Dimata Zaki. Karena kesan pertama pertemuannya dengan Zaki sangat buruk. Pasti Zaki sangat infil padanya.
Sampai di toko kue, Lilis turun dengan elegan seperti seorang putri. Senyumnya mengembang bak sekuntum bunga mawar. Lilis berjalan santai menuju kantor Winda. Dia ingin meminta pendapatnya tentang penampilannya hari ini. Namun, Lilis terkejut ketika mendapati ruangan Winda kosong. Lilis segera bergegas keluar kembali dan bertanya pada salah satu pegawai disitu.
"Mbak, kok mbak Winda jam segini belum datang ya? Apa dia tidak datang hari ini?" tanya Lilis agak cemas.
"Saya juga tidak tahu, mbak Lilis. Pak Zaki juga belum datang," jawab mbak Sari.
"Lalu bagaimana kalian bekerja?"
"Yah, kita ikut perintah pak Zaki yang sudah di share ke kita mbak sejak kemaren."
"Hmm, kalau begitu aku tunggu mbak Winda atau Zaki datang saja. Kalian lanjutkan saja pekerjaan kalian.
Lilis mondar-mandir menunggu kedatangan Zaki. Sedangkan, Zaki baru datang ke toko setelah mengantar Dimas pulang. Zaki tampak lelah saat datang ke toko, karena dia kurang tidur dan kurang istirahat.
"Zaki, kenapa wajahmu tampak kusut?" tanya Lilis saat melihat Zaki datang.
"Kamu datang? Tolong biarkan aku istirahat sejenak. Jangan ganggu, oke?" kata Zaki lalu melangkah pergi meninggalkan Lilis yang penuh tanda tanya.
Tetapi, tidak mudah membuat Lilis menurut. Dia mengikuti langkah Zaki menuju meja kerjanya tanpa meninggalkan suara. Saat Zaki akan menutup pintu, Lilis dengan cepat masuk kedalam.
__ADS_1
"Lilis, keluar?!" teriak Zaki.
Lilis hanya tersenyum lalu duduk di kursi depan meja kerja Zaki.
"Keluar, Lilis. Sudah kubilang aku mau istirahat bentar." kata Zaki sambil menarik lengan Lilis.
Akan tetapi, meskipun Lilis seorang wanita, dia punya basic yang kuat. Lilis berbalik menarik tubuh Zaki yang tanpa sengaja membuat wajah mereka sangat dekat. Terdengar jantung mereka sama-sama berdetak lebih cepat. Hati keduanya pun bergetar.
Entah apa yang ada dalam pikiran Zaki, tiba-tiba dia mencium bibir Lilis yang hanya berjarak 1centi saja dari bibirnya. Mata Lilis membelalak lebar. Lilis sangat kaget dan tidak menyangka jika Zaki seberani itu.
Tetapi bukanya itu bagus buat Lilis. Itu tandanya Zaki juga memiliki perasaan yang sama seperti dirinya. Tanpa pikir panjang, Lilis membalas ciuman Zaki yang membuat Zaki kaget. Zaki tidak menyangka Lilis akan membalas ciumannya, karena dia sudah siap jika Lilis akan menamparnya.
Mereka terlihat malu-malu dan saling menunduk setelah berciuman walau hanya saling menempel saja beberapa detik.
"Aku, pergi dulu," kata Lilis yang segera berlari pergi.
Apakah itu berarti aku dan Lilis sudah pacaran?
Zaki merasa bersalah, karena tadi tidak segera mengkonfirmasi hubungannya dengan Lilis setelah berciuman.
Sementara Lilis merasa jika semua ini terlalu cepat untuk hubungannya dengan Zaki. Padahal dia baru saja ingin lebih dekat dengan Zaki, tetapi sekarang mereka bahkan sudah berciuman.
Dalam kegalauannya, Lilis teringat pada Winda. Diapun segera pergi ke rumah kakaknya untuk bertemu Winda. Dan betapa terkejutnya dia ketika mengetahui bahwa Winda telah pergi meninggalkan kakaknya.
__ADS_1
"Kakak, kenapa tidak mengatakannya pada kami? Kami pasti akan membantu kakak mencari mbak Winda," tanya Lilis panik.
"Karena aku masih belum percaya jika Winda pergi meninggalkan aku," jawab Dimas.
"Kak Dimas, apa kakak sudah bertanya pada mertua kakak? Siapa tahu mbak Winda pergi ke rumah orangtuanya dan lupa memberitahu kakak?" tanya Lilis.
"Rencananya sore nanti aku akan pergi ke rumah mereka. Semoga saja seperti yang kamu katakan," ucap Dimas penuh harap.
"Kak Dimas, aku akan pulang memberitahu ayah dan ibu. Kakak tenang saja, kami akan membantu mencari keberadaan mbak Winda," kata Lilis.
"Terimakasih, Lilis."
"Kakak beristirahatlah dulu sebelum pergi. Jangan sampai kakak mengantuk dijalan," ucap Lilis mengingatkan kakaknya." Lilis pulang dulu kak Dimas."
"Iya Lis. Kakak akan beristirahat dulu sebelum pergi," jawab Dimas.
Dimas melihat kepergian Lilis dengan hati yang sangat sedih. Dimas mungkin memang harus bisa menerima kenyataan jika Winda benar-benar telah pergi meninggalkan dirinya.
Dimas pergi ke kamarnya, mencoba lagi mencari sesuatu yang bisa menjawab pertanyaannya. Dimas tertarik membuka laci meja rias Winda. Disana, Dimas menemukan sebuah buku catatan kecil Winda. Dibukanya lembar demi lembar dan dibacanya perlahan.
Dimas tersenyum getir. Satu kalimat yang membuatnya tetap yakin jika Winda tidak berniat meninggalkannya.
Aku telah menemukan kebahagiaan bersama mas Dimas. Jika Allah mengizinkan, aku ingin selamanya berada disisi mas Dimas.
__ADS_1
Aku mencintai kamu mas Dimas.
Bersambung