
Setelah mendapat pesan tengah malam dari Bayu, Winda tidak bisa kembali tidur dengan tenang. Pikirannya penuh dengan berbagai macam praduga yang semakin membuatnya sedih. Tak terasa, buliran airmata menetes di sudut matanya yang kian deras saat melihat suaminya.
Tanpa aku sadari, ternyata keberadaanku di sisimu, membuatmu menemui banyak masalah yang seharusnya tidak kamu alami. Seandainya aku bisa membuatmu merasakan hidup damai dan tenang seperti sebelum ada aku di sisimu.
Tapi, aku sudah berjanji padamu aku tidak akan pergi meninggalkanmu apapun yang terjadi.
Aku akan berusaha menepati janjiku, selama aku bisa. Maafkan aku mas Dimas, jika aku sudah membuatmu memiliki masalah hidup yang datang bertubi-tubi. Selama kamu tidak mengusirku, aku tidak akan pergi darimu.
"Sayang, kenapa kamu tidak tidur lagi?" tanya Dimas yang tiba-tiba terbangun.
"Sebentar mas, tiba-tiba rasa kantukku hilang," jawab Winda sambil mengusap matanya yang basah.
"Tunggu, kamu menangis? Ada apa? Apakah saat tidur tadi, aku menyakitimu?" tanya Dimas cemas melihat Winda menangis.
"Mana ada, orang tidur dapat menyakiti orang lain," jawab Winda menahan senyum.
"Bisa, siapa bilang tidak bisa," jawab Dimas tersenyum tipis.
Winda tersenyum lebar ketika ingat, bahwa dia tadi terbangun bukan karena suara pesan masuk dari Bayu, tetapi karena tubuhnya terhimpit tubuh suaminya. Bahkan, terasa sesekali wajah suaminya bergerak disekitar telinganya yang membuat Winda merasa geli.
"Nah, tertawa juga akhirnya. Ingat apa? Kasih tahu dong," tanya Dimas penasaran.
"Nggak, aku nggak mau kasih tahu," jawab Winda manja.
"Beneran, nggak mau kasih tahu?"
Winda hanya mengangguk pelan. Jawaban Winda itu membuat Dimas bergerak pelan mendekatinya.
"Mas Dimas mau apa?" suara Winda agak gemetar.
"Mau apa? Nggak, aku juga nggak mau bilang," jawab Dimas membalas ucapan Winda.
Dengan gerakan pelan tapi pasti, Dimas mencium kening Winda yang membuat Winda bernafas lega. Tadinya, Winda sudah berpikir terlalu jauh. Winda tersenyum geli mengingat pikirannya yang sudah di penuhi bayangan mesra suaminya.
Dimas tersenyum lalu memeluk tubuh istrinya sembari berbisik mesra.
"Mari kita lakukan kewajiban kita dengan cinta."
__ADS_1
Winda hanya mengiyakan saja keinginan suaminya tanpa protes. Meskipun pesan dari Bayu sempat membuatnya khawatir. Namun seketika hilang saat melihat suaminya masih bisa tersenyum dan bercanda dengannya.
Esoknya, Winda masih belum bisa memutuskan, apakah dia akan memberitahu suaminya atau dia akan menemui Bayu sendiri. Atau pesan yang dikirimkan Bayu akan dianggapnya tidak pernah ada.
"Mas, ada rencana apa hari ini?" tanya Winda saat sarapan.
"Aku akan belajar di perusahaan ayah untuk sementara. Untuk mengalihkan rasa frustasiku, aku harus punya kegiatan lain," jawab Dimas.
"Winda salut dengan mas Dimas. Meski dalam keadaan terpuruk, masih bisa memikirkan hal yang bermanfaat," kata Winda bangga.
"Karena ada kamu, istriku. Kamu yang memberiku kekuatan untuk tetap kuat meski disaat terlemahku," ucap Dimas sambil melihat Winda.
Winda tersenyum malu yang membuat Dimas menghela nafas.
"Bisa nggak, pagi-pagi jangan mancing-mancing..."
"Mancing? Mancing apaan mas?" tanya Winda penasaran.
Dimas hanya tersenyum saja. Dimas juga tidak habis pikir dengan dirinya saat ini. Setiap kali Winda terlihat agak manja dan merajuk, Gairahnya akan muncul secara tiba-tiba tanpa permisi.
"Kamu sendiri ada rencana lain selain ke toko?" tanya Dimas kemudian.
Akhirnya, Winda memutuskan untuk tidak menganggap pesan dari Bayu sebagai hal yang penting.
Selesai sarapan, Dimas mengantar Winda terlebih dahulu sebelum dia pergi ke perusahaan ayahnya. Di sana, Dimas seperti pergi ke dunia asing. Dimas merasa sama sekali tidak mengenal siapapun, dia juga tidak tahu kegiatan apa yang harus dia kerjakan.
Haruskah semua akan seperti ini pada akhirnya. Aku yang biasanya memegang pisau operasi, kini harus memegang tumpukan laporan yang sama sekali belum pernah aku lihat sebelumnya. Apakah ini takdirku?
"Kakak, ada apa?" tanya Lilis membuyarkan lamunannya.
"Lilis, mengagetkan kakak saja. Kakak sebenarnya masih belum bisa melakukan ini. Kakak tiba-tiba pusing," jawab Dimas mengeluh.
"Kakak hanya belum terbiasa saja. Nanti juga bisa dengan sendirinya. Nanti Lilis bantu kakak untuk belajar membaca laporan," kata Lilis menyemangati kakaknya.
"Kakak mengandalkan kamu, Lis. Aku perhatikan, kamu sangat gembira ya , kakak kerja di sini?" tanya Dimas.
"Tentu saja. Dengan adanya kak Dimas, ayah tidak akan lagi memaksa Lilis untuk menjadi penerus ayah. Akhirnya Lilis bisa bernafas lega."
__ADS_1
Dimas agak kesal mendengar ucapan Lilis. Rupanya Lilis malah senang melihat dia sekarang bekerja di perusahaan ayah.
Memang, ayah Dimas dulu sebenarnya tidak pernah mengizinkan Dimas untuk bekerja sebagai dokter. Karena, Dimas adalah putra satu-satunya bagi mereka. Ayah Dirga bermaksud membuat Dimas menjadi penerus dari perusahaannya.
Sayangnya, Dimas lebih memilih menjadi dokter dan ayahnya tidak bisa memaksanya berubah.
Secara otomatis, semua harapan akhirnya tertuju pada Lilis. Lilis yang sejak awal juga menyukai dunia bisnis, menerima tanggung jawab dari ayahnya.
Lilis tidak lagi memiliki waktu untuk pacaran dan untungnya dia belum pernah jatuh cinta. Jadi dia tidak butuh waktu untuk pacaran. Akan tetapi sejak mengenal Zaki, Lilis ingin memiliki waktu untuk bisa mengejar cintanya.
"Lis, gimana kalau aku minta pada ayah agar kamu segera dinikahkan saja. Agar kamu tidak usah cari waktu untuk pacaran." kata Dimas.
"Jangan macam-macam kak, aku belum ingin menikah sekarang. Lagi pula ada laki-laki yang Lilis cintai. Jadi kalian tidak usah repot-repot mencarikan aku calon suami," ucap Lilis sambil tersenyum.
"Siapa laki-laki itu? Jadi penasaran?" tanya Dimas nggak percaya.
"Nanti Lilis beritahu kakak setelah kita resmi pacaran."
Lilis sengaja membuat kakaknya penasaran. Lalu dia memberi syarat agar kakaknya mau belajar mengelola perusahaan untuk menyenangkan ayah mereka.
Bersambung
Hai readers
otor bawa satu rekomendasi karya apik dan bagus karya dari temen otor yang berjudul
Obsesi Kakakku Kepadaku by Amandaferina06 silakan dibaca dan di-like koment dan fav ya semoga suka...
Obsesi yang tidak pantas seorang kakak terhadap adiknya sendiri. Viktor Alexander Aganta, itulah nama lengkap dari sosok abang yang begitu kejam dan sangat terobsesi dengan adiknya, Quenna Anezka Aganta.
Viktor selalu menggunakan penutup wajah setelah tragedi kelam beberapa tahun lalu hingga tidak sekalipun yang mengetahui rupa tampan dari sosok Viktor, bahkan Quenna sendiri.
Quenna tidak pernah melihat wajah sang Abang bertahun-tahun lamanya usai insiden yang menjadi kunci utama hancurnya hidup Quenna karena obsesi abangnya.
Kematian seluruh keluarganya dan obsesi abangnya telah membuat Quenna percaya bahwa ia berada dibawah kendali Viktor, ia menjadi budak Viktor abangnya sendiri.
"Hentikan perbuatan tidak pantas ini Kak, aku adik mu, adik kandung mu!!"
__ADS_1
"Kenapa aku harus mengehentikan? Aku bahkan bisa lebih dari ini, membuat mu mengandung anak ku, misalnya?"