
Dimas mendekati Maya yang sudah mulai sadarkan diri. Matanya menatap Maya penuh tanda tanya. Namun dia tidak berani bertanya terlalu jauh.
"Mas Dimas, aku kenapa?" tanya Maya lirih.
"Apakah kamu tidak merasakan ada perubahan pada tubuhmu?" tanya Dimas balik.
"Sepertinya akhir-akhir nafsu makanku agak berkurang dan kalau mencium bau wangi yang menyengat, perutku rasanya mual."
"Pantes saja. Memang kadang ada yang seperti itu," kata Dimas sambil tersenyum.
"Maksud mas Dimas?" tanya Maya cemas.
"Kamu hamil 4 Minggu," jawab Dimas.
"Apa, aku hamil?! Tidak..."
Maya mulai terlihat panik dan frustasi. Dia memukul-mukul perutnya sambil berteriak-teriak. Dimas berusaha menghentikan ulah Maya yang bisa mengakibatkan keguguran.
"Maya, hentikan. Bayi ini tidak berdosa," kata Dimas berusaha menenangkan Maya.
Maya akhirnya bisa agak tenang tetapi dia berusaha mencari kesempatan untuk bisa memeluk tubuh Dimas. Dimas tidak bisa menolak pelukan Maya karena khawatir Maya akan bertindak nekad.
Setelah beberapa saat, Dimas berusaha melepaskan pelukan Maya.
"Maya, apa rencana kamu selanjutnya?" tanya Dimas.
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Kamu tahu kan, aku sama sekali tidak ingin memiliki anak," jawab Maya sedih.
"Tetapi, kamu seharusnya meminta pertanggungjawaban dari ayah bayimu. Kalian bisa membesarkan anak ini bersama-sama. Di luar sana, banyak wanita yang ingin memiliki anak tetapi mereka tidak bisa mengandung. Kamu masih beruntung Maya," kata Dimas teringat pada Winda.
"Baiklah, akan aku coba meminta pertanggungjawaban ayah bayiku. Terimakasih mas Dimas," ucap Maya sambil tersenyum.
Dimas teringat Winda. Bagaimana keadaan dia sekarang? dia ada dimana?Apakah dia baik-baik saja? Banyak pertanyaan yang tidak bisa terjawab untuk saat ini.
Beberapa hari telah berlalu sejak kejadian itu. Dimas mulai melupakan Maya dan bayinya. Akan tetapi, suatu malam Maya menghubungi Dimas. Dan dia mengatakan ingin menggugurkan kandungannya karena ayah bayi itu tidak mau bertanggungjawab. Dimas menjadi panik, bukan karena Maya tetapi karena bayi yang tidak berdosa itu akan menjadi korban dari keegoisan orangtuanya.
Dimas segera menemui Maya di rumah lamanya uang dia berikan pada Maya. Mengetahui Dimas sangat khawatir padanya, Maya merasa bayi dalam kandungannya bisa membuatnya dekat dengan Dimas kembali.
"Maya, jangan melakukan hal bodoh. Jika laki-laki itu tidak mau bertanggungjawab, kamu masih harus tetap melahirkan bayi itu," kata Dimas panik.
"Kamu pasti bisa Maya."
"Mas Dimas, maukah mas Dimas menikahiku demi anak ini? Aku hanya butuh status saja mas," pinta Maya.
"Tidak bisa, Maya. Aku pernah melakukan kesalahan besar dalam pernikahan. Aku tidak mau lagi terlibat dalam urusan yang tidak seharusnya."
"Mas Dimas..."
"Tapi kamu tidak perlu khawatir dengan masa depan anak dalam kandungan kamu. Setelah anak itu lahir, kamu bisa memberikannya kepadaku. Aku akan mengadopsinya. Dia akan menjadi anakku dan anak Winda. Bagaimana?" tanya Dimas.
"Apakah karena Winda tidak bisa memberimu keturunan? Makanya kamu sengaja ingin mengadopsi anakku?" tanya Maya kecewa.
__ADS_1
"Itu bukan urusan kamu. Itu adalah masalah keluargaku. Kamu tidak perlu tahu dan jangan ikut campur. Terserah kamu. Jika setuju, besok kamu tandatangani surat perjanjian. Jika tidak, aku hanya bisa membantumu sampai di sini. Terserah saja, lakukan saja apapun yang kamu inginkan."
Maya sangat kecewa mendengar perkataan Dimas yang ternyata lebih memikirkan Winda daripada dirinya. Wanita yang saat ini tidak tahu ada dimana tetap saja Maya tidak bisa menggantikan posisinya sebagai istri Dimas.
Maya mulai berpikir, jika saat ini dia nekad menggugurkan kandungannya, itu akan sangat mempengaruhi kesehatannya. Apalagi jika terjadi kesalahan maka nyawanya bisa melayang.
Akhirnya dia menyetujui untuk menerima tawaran Dimas untuk memberikan anaknya kepada Dimas dan Winda. Namun Maya juga memberikan syarat agar Dimas mengurus dirinya selama masa kehamilan.
Seperti mencarikan makanan yang ingin dia makan, menemaninya ke dokter, dan hal lainnya yang berhubungan dengan kehamilannya.
Demi bisa mendapatkan anak Maya, Dimas setuju permintaan Maya. Yang pada akhirnya membuat semua orang salah paham setelah berlangsung 2 tahun. Termasuk orangtua Winda.
Saat Dimas berkunjung ke rumah orangtua Winda, mereka dengan ikhlas meminta Dimas untuk menikah lagi. Atau rujuk dengan mantan istrinya, Maya.
Namun dengan tegas, Dimas menolak semua yang disarankan.
"Dimas, Winda sudah pergi 2 tahun lamanya. Otomatis talak telah jatuh padanya. Kamu berhak bahagia. Kamu bisa rujuk kembali dengan mantan istri kamu. Atau menikah dengan orang lain," kata ayah Darma sambil menghela nafas.
"Ayah, aku sudah menunggu selama 2 tahun ini. Aku masih ingin menunggu karena aku ingin tahu, berapa lama Winda bisa jauh dariku," jawab Dimas yakin pada cintanya.
"Dimas, Winda sangat beruntung memiliki suami sepertimu. Semoga dia juga sama sepertimu," kata ayah Darma.
Winda kamu harus segera kembali. Aku sudah menyiapkan kado spesial untuk kamu. Seorang anak laki-laki yang sangat manis.
Bersambung...
__ADS_1