Istri Titipan Talak 3

Istri Titipan Talak 3
Bab 34. Aku tidak menyerah


__ADS_3

Dimas berdiri di samping tempat tidur pasien. Dimas menatap Winda yang masih tergolek lemah. Winda tidak berani menatap Dimas yang terus saja memperhatikannya tanpa berkedip.


"Winda, eh nona. Saya belum tahu siapa namamu," kata Dimas basa-basi.


Winda diam saja sambil memegangi perutnya yang masih terasa sakit.


"Apakah masih terasa sakit? Sebentar lagi obatnya datang. Bertahanlah. Sini," kata Dimas.


Dimas meraih tangan Winda dan memijat bagian telapak tangan antara jari telunjuk dan ibu jari untuk mengurangi rasa sakit di perut Winda.


"Tahan, ini agak sakit. Tapi nanti juga bisa agak berkurang sakitnya," kata Dimas sambil terus memijat tangan Winda.


Winda membiarkan saja apa yang dilakukan Dimas padanya. Winda kangen saat bersama Dimas. Kenangan-kenangan manis itu bermain di pikiran Winda dan tak terasa butiran airmata menetes diujung matanya.


Dimas berhenti memijit karena berpikir Winda kesakitan karena pijitannya.


"Apakah pijitanku terlalu kuat?" tanya Dimas.


"Tidak," jawab Winda pelan.


Winda mulai merasakan berkurangnya sakit diperutnya setelah mendapat pijitan dari Dimas.


Tok tok tok.

__ADS_1


"Masuk."


Asisten Dimas masuk untuk memberitahukan hal penting.


"Dokter, sebentar lagi akan ada operasi. Dokter harap segera bersiap-siap," kata asisten Dimas.


"Iya, maaf hampir lupa. Maaf, saya Haris pergi karena ada operasi. Istirahatlah disini dan minum obatnya setelah obatnya datang. Selesai operasi, saya akan langsung kemari," kata Dimas.


Dimas melangkah pergi untuk bersiap melakukan operasi. Hatinya senang bisa mendekati wanita yang mirip Winda. Suara itu memang suara Winda, tangan yang dipegangnya juga tangan Winda.


Namun saat ini dia harus konsentrasi melakukan operasi dan tidak lupa berdoa agar semua berjalan sesuai harapannya dan tidak ada kesalahan.


Sementara itu Winda merasa tidak nyaman jika terus berada didekat Dimas. Dia pasti tidak akan bisa menyimpan rahasia lebih lama, karena kini dia tahu jika Dimas dan Maya tidak ada hubungan apa-apa.


Maafkan aku mas Dimas. Aku belum bisa kembali sekarang. Terimakasih kamu telah setia menungguku. Aku pasti akan kembali padamu cepat atau lambat.


"Nona, ini obatnya," kata Raga sambil memberikan segelas air putih dan obat.


Winda meminum obatnya lalu meminta Raga untuk bersiap pergi.


"Raga, kita pergi sekarang."


"Tapi, kita belum mengucapakan terimakasih pada dokter Dimas, nona," kata Raga mengingatkan.

__ADS_1


"Tidak perlu sekarang. Lain kali aku sendiri yang akan berterimakasih pada dokter Dimas," kata Winda sambil beranjak dari tempat tidur.


"Baik, nona."


Winda dan Raga bergegas keluar dari ruangan Dimas. Asisten Dimas yang melihat mereka keluar dari ruang praktek Dimas, bergegas mengejar dan menghalangi Winda pergi.


"Nona, tadi dokter Dimas berpesan jika anda harus tetap berada di ruangannya sampai dokter Dimas selesai operasi," kata asisten Dimas sambil berusaha menghalangi Winda pergi.


"Maaf. Katakan saja pada dokter Dimas, jika saya ada keperluan penting yang harus segera saya selesaikan. Dia pasti akan mengerti posisi saya," jawab Winda.


Asisten Dimas yang bernama Mesa, hanya bisa mengiyakan perkataan Winda tanpa banyak membantah. Winda dan Raga segera berlalu dan menghilang di balik belokan ruang pemerikasaan rumah sakit.


Setelah hampir 2 jam diruang operasi, Dimas bisa bernapas dengan lega karena operasinya berjalan lancar sesuai harapan. Dia bergegas mandi dan berganti pakaian untuk segera menemui Winda dan mengajaknya pulang ke rumah.


Dengan senyum menghiasi wajahnya yang tampan, Dimas melangkah menuju ke ruangannya. Tapi seketika senyumnya hilang ketika dia tidak mendapati Winda di ruangannya.


Mesa dengan perasaan takut mendekati Dimas yang terlihat kecewa.


"Dokter Dimas, nona itu memaksa pergi. Katanya ada hal penting yang harus segera di selesaikan. Katanya juga, dokter akan mengerti dia," kata Mesa gugup karena tidak pernah melihat wajah kecewa dokter Dimas yang terkenal ramah itu.


Dimas lalu tersenyum pada Mesa dan menyuruhnya pergi. Dimas terduduk lesu. Nafasnya sedikit terasa sesak. Harapannya untuk membuatnya mengakui bahwa dia adalah Winda jadi sia-sia.


Tetapi, Dimas tidak patah semangat. Dua tahun saja dia sanggup menunggu, apalagi ini hanya masalah pengakuan saja. Masih banyak waktu dan kesempatan selama dia tidak menghilang lagi seperti dulu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2