Istri Titipan Talak 3

Istri Titipan Talak 3
Bab 20. Malpraktik?


__ADS_3

Kehidupan rumah tangga Dimas mulai normal kembali. Kebersamaan yang di berikan Winda, membuat Dimas merasa dirinya menjadi suami yang paling beruntung di dunia ini.


Memiliki pekerjaan yang stabil yang menjadi impian Dimas. Selain bisa membantu orang lain juga bisa mendapatkan rezeki yang melimpah. Dimas merasa hidupnya sudah sempurna. Walaupun dilain sisi, keinginannya untuk memiliki anak harus ditunda. Dimas dan Winda mulai membuat rencana untuk perawatan dan berobat demi memiliki keturunan.


Namun sebelum usahanya dilakukan, sebuah masalah menerpa rumahtangga mereka. Dimas di laporkan oleh salah seorang keluarga pasien bahwa Dimas sudah melakukan malpraktik.


Dimas tentu saja membantah semua tuduhan itu, namun pihak manajemen rumah sakit sangat bertindak tegas. Demi kebaikan bersama, Dimas diskors oleh manejemen rumah sakit untuk waktu yang tidak ditentukan.


Bagi Dimas, tuduhan itu sangat tidak masuk akal. Selama ini dia sudah berusaha menjalankan semua sesuai dengan SOP (Standar Operasional Prosedur) rumah sakit tempatnya bekerja. Akan tetapi, Dimas menghormati keputusan rumah sakit yang sudah menskorsnya untuk sementara waktu.


Di rumah, Dimas masih ragu untuk memberitahu Winda kalau dirinya diskors oleh pihak rumah sakit. Namun mengingat bahwa rumah tangga harus dibangun dengan saling jujur, saling percaya, maka Dimas berusaha mencari waktu dan kesempatan untuk mengatakannya pada Winda.


Pagi ini, saat sarapan, akan menjadi kesempatan bagi Dimas untuk bicara.


"Winda sayang, mulai hari ini aku sudah tidak bekerja lagi di rumah sakit," ucap Dimas sambil menghela nafas.


"Memang ada masalah apa, mas?" tanya Winda sambil menghentikan makannya.


"Aku dituduh melakukan malpraktik oleh salah satu keluarga pasien yang dulu meninggal saat aku tangani," jawab Dimas.


"Pasien yang dulu pernah membuat mas Dimas tidak bisa tidur?" tanya Winda lagi.


"Iya, sayang. Aku tidak pernah melakukan malpraktik. Aku sudah melakukan sesuai SOP rumah sakit. Kamu percaya padaku kan?" tanya Dimas sambil memegang tangan Winda.


Winda tersenyum, lalu membalas pegangan tangan Dimas untuk menenangkannya.


"Aku percaya padamu, mas Dimas. Mas Dimas adalah laki-laki terbaik yang pernah Winda kenal. Yakinlah semua ini kan segera berlalu," ucap Winda lembut.


"Kemungkinan terburuk, aku akan dipecat dan tidak bisa lagi menjadi dokter untuk selamanya," kata Dimas sambil menunduk sedih.


"Semua pasti sudah ditakdirkan, seperti yang mas Dimas pernah katakan padaku. Kemungkinan terburuk, aku yang akan menghidupi mas Dimas. Toko kueku cukup kok kalau hanya sekedar makan sehari 3 kali," ucap Winda sambil tersenyum.


"Apa aku akan mau menjadi benalu dalam hidup istriku?"tanya Dimas.


"Kalau begitu, mas Dimas tidak boleh putus asa. Mas Dimas harus kuat dan bertahan. Buktikan padaku kalau mas Dimas, bisa Winda andalkan," ucap Winda memberi semangat.

__ADS_1


Mendengar ucapan Winda, Dimas yang tadinya sudah drop, kini memiliki semangat untuk bangkit kembali. Dimas memiliki tanggungjawab untuk menjadi sandaran Winda bukan sebaliknya.


"Mas, apakah mas Dimas tidak pernah berpikir untuk menemui orang yang sudah melaporkan mas Dimas?" tanya Winda.


"Pernah. Tapi aku takut aku akan jadi emosi saat melihatnya sebelum bisa bicara baik-baik padanya," jawab Dimas.


"Bagaimana kalau Winda temani mas Dimas. Siapa tahu, Winda bisa bantu," kata Winda menawarkan diri.


Melihat ketulusan Winda, Dimas akhirnya menyetujui Winda untuk ikut menemui keluarga pasien yang sudah melaporkannya. Hari itu juga, Dimas dan Winda pergi mencari alamat yang sudah Dimas dapatkan setelah meminta pada salah satu dokter sahabatnya.


Sangat sulit untuk bisa mendapatkan alamat pasien itu, tetapi karena Dimas juga adalah salah satu bagian rumah sakit, dia bisa mendapatkannya.


Setelah mencari hampir 2 jam lamanya, mereka bisa menemukan alamat yang merek tuju. Namun sayang, rumah itu telah kosong. Dimas dan Winda bertanya pada tetangga disebelah rumahnya, akan tetapi mereka juga tidak tahu kemana pemilik rumah itu pergi.


Harapan satu-satunya kini sudah sirna, namun mereka mencoba saling menguatkan untuk tetap berdoa agar diberikan jalan yang mudah untuk bisa menyelesaikan ini semua.


Setelah lelah dan lapar, mereka mampir kesebuah rumah makan sederhana. Mereka makan sambil sesekali saling mencuri pandang.


"Sayang, aku merasa sangat beruntung memiliki istri sepertimu. Seandainya kita bertemu sejak awal..."


"Sayang, saat seperti ini, seharusnya kita memang harus lebih banyak saling memberi ucapan manis, bukan? Aku ingin menyenangkan kamu, bukan ingin membuat kamu muak mendengar omonganku," kata Dimas kecewa.


"Jangan marah mas, aku hanya asal ngomong saja. Aku senang kok mendengar ucapan mas Dimas," ucap Winda merajuk manja.


Dimas tersenyum melihat sikap manja Winda. Dimas menyukai Winda yang mandiri. Akan tetapi Dimas juga ingin, Winda sesekali bermanja padanya. Dengan begitu, Dimas merasa dibutuhkan oleh Winda baik sebagai suami maupun sebagai teman hidup.


"Senangnya melihat istriku manja. Winda, kenapa kamu begitu manis, aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpa ada kamu. Seperti dulu, hampa dan sunyi."


"Mas, mas ini sedang mimpi atau apa? Dari tadi ngegombal mulu. Tapi, aku senang mendengarnya."


"Aku lagi bingung mesti bagaimana. Bagaimana kalau tidak menemukan orang itu?"


"Mas, sabar saja. Nanti kita coba cari informasi lagi. Kalau tidak ketemu hari ini, mungkin esok hari," kata Winda menyemangati.


"Terimakasih, kamu ada disaat aku terpuruk. Setiap kali melihatmu, aku jadi bersemangat untuk tetap berusaha sebaik mungkin untuk menjadi lebih baik. Aku tidak mau terlihat buruk di matamu," kata Dimas sambil menghela nafas.

__ADS_1


"Aku ini istri mas Dimas, aku akan selalu ada dimana suamiku berada. Apalagi disaat terburuk itu, aku akan menjadi penyemangat mu mas. Aku janji, akan selalu di sampingmu," ucap Winda mengimbangi ucapan Dimas.


Selesai makan dan beristirahat, mereka memutuskan untuk pulang dan melanjutkan pencarian esok hari. Meski keberhasilan tidak sepenuhnya bisa mendapatkan jaminan, akan tetapi mereka akan tetap terus berusaha untuk menyelesaikan masalah ini.


Saat Winda terbangun pada tengah malam, sebuah pesan datang dari Bayu untuknya. Pesan yang membuat Winda kesal.


Di dalam pesannya, Bayu mengatakan bahwa Bayu ingin bertemu dengan Winda untuk membahas tentang masalah Dimas. Winda mulai curiga pada Bayu.


Mungkinkah semua ini ada hubungannya dengan Bayu?


Bersambung


Hai readers


otor bawa satu karya apik dari temen otor* yang bagus banget berjudul Call Me Yura by AG Sweetie, jangan lupa like komen dan fav ya


"Ada rapuh yang tersusun rapi. Sebelum menjadi indah, kupu-kupu hanyalah secuil ulat yang menempel rapuh di dedaunan."


~ Vlora Yukika ~


"Hanya karena dahaga sebentar, tak lantas membuatmu harus meminum racun bukan?"


~ Haedar Gibran ~


Dikhianati suami, diasingkan keluarga sendiri, tidak ada tempat tuk berbagi keluh, jua seolah tak ada rumah yang sungguh tuk berteduh. Adakah yang lebih sakit dari ini?


Pada titik terendahnya, Vlora bangkit menjadi sosok yang baru. Dendamkah ia pada mereka yang telah menyakitinya? Sementara ia sendiri memiliki rahasia besar yang dianggap sebuah pengkhianatan.


"Duri itu kau sendiri, lalu kau jua yang merasa tersakiti."


~ Tristan Pratama ~


Lantas apa yang Vlora lakukan? Bagaimana jika rahasia besar itu terungkap? Masih banggakah ia dengan kehidupan baru yang kini melambungkan namanya?


__ADS_1


__ADS_2