
Dimas merasa, harus melakukan sesuatu yang bisa membuat Winda berubah pikiran. Namun pikiran Dimas tidak bisa diajak berpikir lebih jauh lagi. Saat ini, yang ada dipikiran Dimas hanyalah hasratnya yang telah menguasai seluruh tubuhnya.
Sekuat apapun dia mencoba menahan, sekuat itu pula gairahnya semakin memuncak. Yang Dimas takutkan, jika Winda menolaknya. Bukankah itu akan menjadi sebuah pemaksaan kehendak dan akan menyakiti Winda.
Dengan pelan, Dimas mencoba membuat Winda terbuai dengan ciumannya yang lembut. Dimas ingin melihat reaksi Winda sebelum memutuskan untuk melakukan lebih jauh lagi.
"Sayang, bolehkah aku memilikimu malam ini?" bisik Dimas.
"Aku adalah istrimu. Kewajiban ku selama dua tahun ini yang tidak aku jalankan, tidak akan cukup hanya malam ini aku membayarnya," jawab Winda pelan.
Mendengar jawaban Winda, hati Dimas lega dan tidak akan sungkan lagi untuk memulai.
Diangkatnya tubuh Winda dan direbahkan tubuh seksi sang istri yang sudah 2 tahun tidak disentuhnya.
Dipandanginya wajah cantik istrinya yang membuatnya bertahan dari godaan wanita lain. Bukan itu saja yang membuat Dimas begitu mencintai istrinya. Tetapi juga karena Winda wanita yang sangat baik, dan penuh pengertian. Setiap ucapannya mampu menjadi semangat bagi Dimas.
Meski gelora hasratnya sudah tidak terbendung, Dimas masih sempatkan untuk berucap doa dalam hati. Dimas juga memberi kesempatan Winda untuk berdoa sebelum membuatnya tenggelam dalam belaiannya.
Dimas berharap, malam ini dia akan diberi kesempatan untuk membuat Winda membatalkan niatnya kembali keluar negeri. Terbersit suatu ide yang membuatnya tertawa dan bergumam sendiri.
Aku akan membuat Winda kelelahan dan memeluknya sampai pagi, hingga dia lupa jadwal penerbangannya. Atau setidaknya dia terlambat naik pesawat, itu sudah kabar yang baik.
"Mas Dimas, kenapa tertawa?" tanya Winda sambil cemberut karena merasa Dimas menertawakannya.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya teringat Lilis sama Zaki. Mereka bertengkar gara-gara kamu?"
"Benarkah?" tanya Winda sambil duduk.
"Sudahlah. Tidak perlu dipikirkan," jawab Dimas ikut duduk disisi ranjang.
"Aku mencintaimu, sayang."
Bisikan Dimas ditelinga Winda mengawali langkahnya. Ciumannya mulai merambah kebagian yang paling Dimas sukai. Bibir merah Winda yang tipis dan merah itu bagaikan candu baginya.
Malam ini, Dimas benar-benar membuat Winda kelelahan dan tertidur diperlukannya. Suara nafasnya lembut dan terdengar pelan karena Winda membenamkan kepala di dadanya.
Dimas merasa sangat bahagia, dan ingin semua ini tidak akan berakhir begitu saja. Meskipun Dimas kelelahan, Dimas tidak bisa tidur karena memikirkan kepergian Winda esok hari. Diciumnya rambut Winda yang masih berantakan karena ulahnya.
"Sudah bangun? Segeralah mandi. Aku menunggumu untuk menjalankan ibadah bersama," kata Dimas yang baru keluar dari kamar mandi.
Winda terkejut karena ternyata, Dimas tidak pergi tanpa pamit padanya. Dia masih disini bersamanya.
Jadi begini rasanya merasa ditinggalkan tanpa pamit. Pasti mas Dimas dulu sangat sedih dan kecewa padaku, karena pergi sekian lama tanpa kabar berita.
Maafkan aku mas Dimas, jika aku diberi kesempatan untuk memulai lagi dari awal, aku pastikan aku akan bersamamu tanpa syarat. Mempercayaimu dan tidak lagi hanya mengikuti rasa cemburu. Aku akan menjadi makmum yang baik untukmu sebaik kamu menjadi imamku.
"Sayang, masih belum mau bangun? Mau aku gendong ke kamar mandi? Sekalian aku mandiin," kata Dimas menggoda.
__ADS_1
"Siapa takut?" jawab Winda.
Mendengar jawaban Winda, Dimas segera mendekati Winda dan mengangkat tubuh seksi yang hanya terbalut selimut itu. Sampai dikamar mandi, Dimas menarik selimut dan memasukkan Winda kedalam bathtub.
Tidak seperti 2 tahun lalu, dimana Winda masih malu-malu. Kini dia terlihat menikmati perlakuan manis Dimas tanpa protes sedikitpun. Dimas membantu Winda keramas dan memakaikan sabun ditubuhnya.
"Seharusnya, aku ikut mandi bersamamu. Mungkin itu lebih menyenangkan," kata Dimas pelan.
"Apa mas?"
"Tidak. Segeralah mandi, nanti kamu terlambat," kata Dimas.
Selesai mandi dan Dimas membantu mengeringkan rambut Winda, mereka berganti pakaian untuk menjalankan ibadah.
Saat persiapan kepergian Winda, Dimas tiba-tiba berlari ke kamar mandi. Tidak satu kali, bahkan dia bolak balik hingga membuat Winda khawatir.
"Mas Dimas, kamu kenapa?" tanya Winda panik.
"Kayaknya aku masuk angin. Semalaman aku tidak bisa tidur, dan perutku tidak bisa diajak kompromi. Kamu pergilah saja, aku bisa mengurus diri aku sendiri. Maaf, aku tidak bisa mengantarmu ke bandara," kata Dimas sambil berlari kembali ke kamar mandi.
Apa yang akan dilakukan Winda?
Bersambung
__ADS_1