Istri Titipan Talak 3

Istri Titipan Talak 3
Bab 9. Dimas selamat


__ADS_3

Dimas terbaring di rumah sakit dalam keadaan stabil. Meski tangan dan beberapa bagian tubuh lainnya terluka, dia masih bisa tersenyum. Mungkin karena dia ingin melihat reaksi Winda saat melihat kondisinya saat ini.


Tetapi malam sudah sangat larut? Akan sangat berbahaya jika Winda datang kesini sendirian, batin Dimas.


Pikiran Dimas menjadi kacau. Di satu sisi, Dimas ingin Winda ada di sisinya. Tetapi dilain sisi, Dimas tidak ingin terjadi sesuatu pada Winda karena hari sudah sangat larut malam.


Akhirnya, Dimas memutuskan untuk menelepon Winda agar tidak perlu datang menemaninya di rumah sakit. Namun sebelum dia sempat menelepon, Winda sudah keburu datang.


Winda membuka pintu perlahan-lahan dan sedih melihat Dimas terbaring di ranjang rumah sakit dengan beberapa perban ditubuhnya. Winda mendekatinya lalu berdiri di samping tempat tidurnya dengan mata berkaca-kaca.


"Mas, kok bisa begini?" gumam Winda pelan.


"Winda, seharusnya kamu tidak perlu datang. Ini sudah sangat malam sekali. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan kamu di jalan?" kata Dimas khawatir.


"Apa mas Dimas tidak suka aku ada di sini? Kalau begitu, aku pulang saja," jawab Winda kesal merasa kehadirannya tidak di harapkan.


"Bukan begitu Winda. Aku hanya khawatir denganmu," kata Dimas berusaha menjelaskan.


Winda sudah salah paham terhadap sikapku. Apakah dia akan memiliki kesan buruk terhadapku? batin Dimas.


"Kak Dimas tidak perlu khawatir dengan mbak Winda. Aku yang menemani dia kesini," kata Lilis sambil berjalan kearah kakaknya.


"Syukurlah. Aku kira dia tadi sendirian ke sini," kata Dimas sambil menarik nafas lega.


"Lalu, kenapa mbak Winda sedih? Ada apa mbak Winda? Apakah kak Dimas menyakitimu? Kak Dimas, bisa nggak sih jangan buat mbak Winda sedih?" ucap Lilis kecewa pada kakaknya.


"Aku hanya memintanya untuk tidak datang ke sini karena aku mengkhawatirkan dia," jawab Dimas.


"Mbak Winda jangan sedih. Kak Dimas tidak bermaksud mengusir mbak Winda. Dia hanya khawatir mbak Winda kenapa-kenapa," Lilis berusaha ikut membantu kakaknya menjelaskan.


"Aku mengerti. Mungkin tadi aku hanya terkejut saja," ucap Winda sambil tersenyum terpaksa.


"Kakak, aku keluar dulu," pamit Lilis sambil memberi isyarat pada kakaknya agar mereka bisa berbicara berdua.

__ADS_1


Setelah Lilis keluar, Winda duduk di kursi di samping tempat tidur Dimas.


"Bagaimana tangan mas Dimas? Apakah akan mempengaruhi pekerjaan mas Dimas, secara tangan mas Dimas sangat berharga untuk melakukan banyak operasi di kemudian hari," tanya Winda sedih.


"Kamu sedih karena tanganku terluka atau karena takut aku nggak bisa melakukan operasi lagi?" tanya Dimas penasaran.


Winda diam sejenak.


"Mungkin dua-duanya. Winda tahu, bagi seorang dokter, tangan adalah senjata utama untuk bisa menyelamatkan pasien. Jadi Winda ingin mas Dimas menjaga tangan mas Dimas dengan baik. Karena di tangan mas Dimas ada berpuluh-puluh nyawa yang menunggu di selamatkan," kata Winda.


"Walaupun semuanya kembali pada takdir. Karena hidup dan mati seseorang sudah ada yang mengatur," tambah Dimas sambil tersenyum melihat Winda sangat pengertian dan memahami profesinya.


"Iya, tetapi sebagai manusia tentu diharuskan tetap berusaha. Tidak boleh menyerah begitu saja. Mas, berapa lama mas Dimas akan menginap di rumah sakit?" tanya Winda sambil melihat ke arah suaminya.


"Sebenarnya aku tidak apa-apa. Tetapi karena aku nggak bisa nyetir, mending nginep di sini saja," jawab Dimas.


Dimas tersenyum. Dia tahu Winda pasti penasaran dengan kisahnya semalam. Diapun mulai bercerita bahwa semalam dia bisa selamat karena dia berpura-pura pingsan.


Saat itu Dimas menyadari jika tujuan orang-orang itu bukan hanya ingin uangnya tetapi juga dirinya. Karena sebelum dirinya terluka, Dimas mendengar salah satu dari perampok itu menerima telepon dan berkata akan melakukan tugasnya dengan baik tapi tidak sampai mati.


"Jadi mas Dimas berpura-pura pingsan? Ah kirain mas Dimas nggak bisa bohong," kata Winda tersenyum tipis.


"Terpaksa, ini juga demi menyelamatkan diri kan?" jawab Dimas.


Mereka tertawa bahagia membayangkan kejadian tadi malam. Meskipun ada peristiwa menyedihkan masih bisa membuat tertawa.


Esoknya, Dimas sudah di izinkan untuk pulang oleh dokter. Tentu saja dengan catatan Dimas harus banyak istirahat. Sampai di rumah, Winda merawat Dimas dengan baik selayaknya sebagai istri hingga Dimas sembuh. Hanya satu yang tidak Winda lakukan dan berikan, adalah memberinya hak sebagai suami.


Dimas juga menyadari jika hubungan mereka berawal dari sebuah tujuan dari Bayu. Jika bukan karena Bayu, mereka tidak akan pernah bertemu bahkan sampai menikah. Entah Dimas harus merasa bersyukur atau bersedih dengan semua ini.


Namun satu yang pasti, Winda adalah sahabat yang juga harus dia lindungi dari keinginan bejat Bayu. Sebenarnya Dimas tidak pernah mengerti dengan Bayu, ada begitu banyak wanita di dunia ini, mengapa dia begitu menginginkan Winda.


Sementara itu, Bayu tampak kesal karena ternyata Dimas dalam kondisi baik-baik saja. Peristiwa perampokan itu ternyata tidak berpengaruh apa-apa pada diri Dimas bahkan pada kariernya sebagai Dokter.

__ADS_1


Seharusnya kemarin aku menyuruh mereka untuk mematahkan kedua tangan Dimas agar tidak bisa lagi menjadi dokter. Enak saja, dia pasti sudah jatuh cinta pada Winda. Mereka seperti selayaknya pasangan suami istri yang sesungguhnya.


Cara mereka saling menatap dan dari bahasa tubuh mereka, mereka pasti sudah saling jatuh cinta tetapi mereka belum menyadarinya. batin Bayu.


Kini, Bayu mulai merencanakan lagi sesuatu yang lebih berbahaya dan hasilnya akan berakibat sangat fatal bagi korban. Walupun ini sudah termasuk percobaan pembunuhan, tetapi Bayu tidak peduli. Yang dia pedulikan hanyalah agar Dimas terpuruk dan Winda tidak akan lagi bersandar pada Dimas.


Bayu kembali membayar seseorang untuk melakukan apa yang dia mau.


Dimas, maafkan aku. Aku terpaksa berbuat begini. Jika kamu mati, semua akan lebih mudah, batin Bayu.


Bayu tersenyum lebar membayangkan dia akan bisa segera kembali menikah dengan Winda tanpa harus menunggu 6 bulan. Waktu yang begitu lama bagi Bayu untuk menunggu.


Sebenarnya Bayu sudah memiliki rencana awal jika suatu saat Dimas menghianatinya, akan tetapi Bayu tidak mau mengambil resiko lebih lama untuk bermain-main dengan Dimas. Jika rencananya kali ini berhasil, maka dia tidak perlu lagi menggunakan rencana awal yang terkesan berbaik hati pada Dimas dan Winda.


Suara dering ponsel Bayu berbunyi dan Bayu segera mengangkatnya.


"Hallo," ucap Bayu.


"Hallo bos. Semua sudah kami laksanakan. Kami akan memberi informasi selanjutnya ketika rencana sudah terlaksana," kata seseorang di dalam telepon.


"Oke, aku tunggu kabar baik dari kalian," jawaban Bayu mengakhiri percakapan mereka.


Apa sebenarnya rencana Bayu untuk Dimas?


Hai hai...otor bawa kisah baru dari temen otor ya judulnya story of Yulianika karya Dhevy Yuliana jika berkenan silakan mampir...


kisah Cinta dari pasangan muda yang berawal perjodohan, sepwrtinya berbuah manis.


namun, masalah justru datang dari orangtua Ika.


lebih tepatnya, sang mama yang mendadak menolak pernikahan mereka, hanya karena hasutan dari masalalu Ika.


akankah mereka menyerah atau mempertahankan,?

__ADS_1



__ADS_2