Istri Titipan Talak 3

Istri Titipan Talak 3
Bab 22. Kedatangan Bayu


__ADS_3

Toko kue Winda bisa di bilang cukup rame pembeli. Di sana di jual berbagai kreasi kue yang menarik. Rasanya juga bisa menarik pembeli penyuka kue. Pelayanannya juga ramah, karena di sini diharapkan semua pembeli merasa nyaman dan di hormati.


Walaupun, Winda juga tidak bisa mentolerir pembeli yang sengaja mencoba keramahan pelayanan di tokonya. Seperti slogan yang terpampang di depan tokonya.


Anda sopan, kami segan.


Winda duduk di ruangannya sambil memeriksa laporan keuangan bulan ini. Winda cukup senang dan semakin bersemangat karena bulan ini penghasilnya sesuai yang Winda harapkan. Banyak kemajuan dalam berbagai aspek.


Zaki memang bisa di andalkan.


Tok tok tok.


"Masuk."


Zaki masuk dengan senyum khasnya. Sepupu Winda yang satu ini, memang sangat dekat dengan Winda. Bahkan Winda sudah menganggapnya seperti adik kandungnya sendiri.


Banyak rahasia yang Zaki ketahui tentang Winda. Namun Winda tentu saja masih membatasi rahasia apa yang bisa dia bagi dengan Zaki. Karena tidak semua rahasia dalam keluarganya, bisa dia beritahu pada orang lain.


"Mbak Winda, bagaimana hasil laporan bulan ini. Apakah cukup membuat mbak Winda bisa tersenyum?" tanya Zaki sambil duduk di depan meja kerja Winda.


"Bagus. Sepupu aku ini memang hebat. Kelak semua ini, kamu saja yang urus," kata Winda.


"Memangnya, mbak Winda mau kemana?" tanya Zaki cemas.


"Aku tidak akan kemana-mana. Kamu ini berpikir terlalu jauh."


"Abis mbak Winda bilang seperti itu. Bukannya ini toko yang mbak Winda impikan? Dekat dengan tempat tinggal mas Dimas," kata Zaki masih belum sepenuhnya mengerti ucapan sepupunya.


"Memang. Agar aku juga bisa mengurus rumah dan mas Dimas sekaligus bekerja. Aku tidak ingin mas Dimas komplain, aku tidak bisa membagi waktu untuk dia dan pekerjaanku." Winda menghela nafas sejenak.


"Jadi aku akan jadi pemegang investasi saja, kamu yang menjalankan usaha. Aku kesini hanya melihat dan mengamati saja hasil kerja kamu. Setuju kan?" kata Winda lagi.


"Boleh. Meski aku pasti akan kerepotan tanpa mbak Winda," kata Zaki.


"Mau aku carikan partner baru?" tanya Winda sambil tersenyum.


"Siapa dulu orangnya," jawab Zaki.


Winda tersenyum sambil memainkan bolpoin yang ada di tangannya.


"Siapa mbak?" Zaki menjadi penasaran.


"Hmm, bagaimana kalau adiknya mas Dimas, Lilis," jawab Winda.


"Apa?! Lilis?!"


"Kenapa reaksi kamu seperti itu?" tanya Winda.


"Mbak Winda, aku nyerah aja deh kalau sama dia. Nggak bakalan cocok."


"Buat apa cari yang cocok. Bukan mau menikah juga."

__ADS_1


"Apalagi untuk menikah. Hi...ngeri ngebayanginnya, mbak," jawab Zaki geli.


"Hayo, kebayangin apa? Belum menikah, apa yang bisa kamu bayangkan. Jangan berburuk sangka dulu. Mungkin sekarang kamu tidak menyukainya. Tapi nanti, siapa tahu kamu malah bucin sama dia," kata Winda sambil tersenyum.


"Mana mungkin, mbak. Nggak, nggak."


"Kalau kamu yakin nggak akan jatuh cinta sama dia, kamu harus terima. Soalnya dia mulai Minggu depan, mau belajar bisnis di toko kita. Lilis menjadi salah satu investor toko kita yang modalnya cukup besar. Jadi, baik-baiklah sama dia," kata Winda serius.


Mendengar perkataan Winda, Zaki hanya bisa menghela nafas berat.


Bayangan Lilis mulai bermain di pikirannya. Bayangan seorang gadis yang sangat keras dan kuat. Tiba-tiba, Lilis berubah menjadi gadis lemah lembut dan manja. Tersenyum manis padanya, sambil menyibakkan rambut panjangnya yang terurai sebahu.


"Manis sekali," gumamnya.


"Apa? Siapa yang manis sepupu?" tanya Winda kaget.


"Itu, kemarin aku beli permen. Rasanya manis sekali," jawab Zaki gugup.


"Gitu aja gugup," kata Winda.


Zaki tersenyum dan mulai menyadari, jika akhir-akhir ini, bayangan Lilis selalu muncul di pikirannya. Setelah bertengkar dengannya waktu itu, terus saja membuatnya teringat pada gadis bar-bar itu.


"Mbak, aku keluar dulu. Masih ada yang harus aku kerjakan."


"Oke, pergilah. Zaki, Nanti kamu antar aku pulang ya. Sekalian mampir makan di rumah."


"Baik, nanti aku makan di rumah mbak Winda. Apa tidak masalah dengan mas Dimas?"


Setelah itu, Zaki melangkah keluar. Namun baru beberapa menit Zaki keluar, terdengar suara keras Zaki meneriaki seseorang.


"Jangan berani kamu menemui mbak Winda lagi. Sebaiknya kamu pergi sekarang atau..." teriak Zaki.


"Atau apa?! Kamu tidak punya hak untuk melarangku menemui Winda," suara lelaki yang sangat Winda kenal, mas Bayu.


Winda bingung harus bagaimana menghadapi Bayu, namun dia berusaha mengontrol dirinya agar tetap tenang meski dia tahu kehadiran Bayu bukan hal yang baik.


"Winda..."


Suara Bayu saat membuka pintu ruangan Winda, tanpa mengetuk pintu.


"Mbak Winda, aku sudah berusaha menghentikan dia. Tapi dia terus memaksa masuk," ucap Zaki sambil memegangi tangan Bayu.


"Zaki, lepaskan dia. Biarkan saja dia masuk," teriak Winda dengan nada agak lembut meski sedang kesal sekalipun, suaranya tidak bisa kasar.


"Nah, dengar sendiri kan? Lepaskan?!" kata Bayu sambil melepaskan pegangan Zaki.


"Mbak..."


Zaki hanya diam melihat Winda sudah memberi isyarat padanya untuk keluar. Padahal Zaki sangat khawatir jika kejadian dulu akan terulang lagi.


"Aku ada diluar, mbak. Teriak jika dia berani berbuat macam-macam padamu," ucap Zaki sebelum keluar.

__ADS_1


"Tutup pintunya," teriak Bayu.


"Silahkan duduk mas Bayu. Ada perlu apa sampai, mas Bayu menyempatkan diri menemuiku?" tanya Winda datar.


"Terimakasih, Winda sayang," kata Bayu sambil duduk.


Ucapan Bayu membuat Winda merasa jijik dan ingin sekali dia menyumpal mulutnya yang terus memanggilnya dengan tambahan sayang.


"Bukankah aku sudah mengirimi kamu pesan. Apa kamu anggap aku hanya main-main, sayang ?" tanya Bayu.


"Pesan, bukankah kamu memang hanya main-main saja? Mempermainkan kehidupan orang lain dengan semaumu. Kenapa kamu lakukan itu, mas Bayu?" tanya Winda mulai emosi.


"Kenapa kamu bilang? Kalian berdua sudah menghianati aku, terutama Dimas. Jadi aku tidak akan pernah membiarkan dia bahagia sedetikpun," ucap Bayu kesal.


"Mas, semua sudah berlalu. Tidakkah mas Bayu memaafkan dan menerima keputusan kami?"


"Tidak semudah itu Winda, sayang. Kamu tahu, aku sangat mencintai kamu sejak pertama bertemu. Kamu adalah cinta pertamaku," kata Bayu lembut.


"Mas, aku berterima kasih karena kamu begitu sangat mencintai aku. Tapi bukan cinta seperti itu yang aku inginkan. Bagiku itu bukan cinta, tapi keegoisanmu. Mas Bayu, jika kamu benar-benar mencintai aku, biarkan aku dan mas Dimas bahagia," kata Winda mencoba membujuk Bayu.


"Tidak bisa. Aku tidak akan membiarkan Dimas tersenyum diatas sakit hatiku. Aku akan terus menyakitinya dan membuatnya menyesal telah merebutmu dariku. Kecuali..."


"Kecuali apa mas?"


"Kamu tinggalkan Dimas, maka aku akan melepaskan dia," ucap Bayu sambil menghela nafas.


"Tapi itu tidak mungkin. Aku sekarang istrinya mas Dimas, dan tempatku adalah disisinya," ucap Winda tegas.


"Kalau begitu, aku tidak akan segan lagi untuk membuat hidup Dimas seperti neraka," ucap Bayu kecewa karena Winda tetap keras kepala.


Sementara Winda merasa bersalah pada suaminya karena Winda tahu Bayu orang yang bisa melakukan apapun untuk memenuhi keinginannya.


Winda menatap Bayu dalam-dalam dan mencoba menerka apa yang akan dilakukan Bayu pada suaminya.


Apakah semua yang terjadi selama ini adalah perbuatan Bayu? Jika iya, aku akan menjadi orang yang paling di salahkan oleh keluarga Dimas, jika terjadi sesuatu pada Dimas kedepannya. Haruskah aku menuruti keinginan mas Bayu?


Bersambung


Hai readers


otor bawa satu rekomendasi karya yang apik dan bagus karya dari temen otor yang berjudul Judul : Halaman Terakhir Kisah Shabira


Napen : Smiling27 Siapkan dibaca dan jangan lupa like komen dan fav juga semoga suka ya



Setelah menyelesaikan halaman terakhir novelnya, Livia langsung mendapatkan banyak sekali hujatan dari para pembacanya. Hujatan itu mengakibatkan dirinya terseret masuk ke dalam dunia novelnya sendiri. Beberapa waktu kemudian, Livia tersadar kini sudah masuk ke dalam raga Shabira Lawrence, tokoh utama yang telah ia buat menderita selama hidupnya.


Tantangan demi tantangan akan Livia hadapi kedepannya, jika tetap ingin melanjutkan kehidupan Shabira yang seharusnya mati di akhir ceritanya. Livia tahu betul bahwa semua orang selalu tidak berpihak pada Shabira, bahkan anggota keluarganya sendiri. Akankah Livia tetap melanjutkan hidupnya sebagai Shabira? Atau ia akan tetap mengakhiri halaman terakhir kisah Shabira dengan cara bunuh diri, sesuai alur cerita yang sudah ia tulis?


Ayo ikuti kisahnya!

__ADS_1


__ADS_2