
Dimas duduk sambil menopang kepalanya dengan kedua tangannya. Pikirannya kacau dan kepalanya pusing sekali. Ingin rasanya dia berteriak sekencang-kencangnya untuk melepaskan kegelisahan hatinya. Dadanya terasa sesak dan sulit untuk bernafas.
"Argkh...aaaargkh."
Akhirnya dia tidak tahan juga dan berteriak dengan pelan. Saat itulah ayah, ibu dan Lilis datang dan kasihan melihat Dimas dalam keadaan tertekan.
"Kak Dimas, kakak kenapa?" tanya Lilis kaget.
"Dimas, bagaimana kondisi istrimu. Apakah dia baik-baik saja?" tanya sang ayah.
"Dimas, kenapa Winda lama sekali di dalam sana?" tanya sang ibu.
"Kakak, kenapa diam saja?"
Mereka bertiga saling berpandangan melihat jawaban Dimas yang menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Namun tidak berapa lama keluarlah salah satu dokter yang menangani Winda.
"Apakah ada keluarga pasien?" pak dokter pada mereka berempat.
"Saya suaminya," jawab Dimas yang segera mendekati dokter tersebut.
"Bagaimana kondisi istri saya dok?" tanya Dimas lagi.
"Istri anda sudah stabil sekarang dan segera akan di pindahkan ke ruang rawat inap. Anda tidak perlu khawatir, istri masih beruntung hanya mengalami gegar otak ringan dan retak di kakinya. Jadi, silakan anda mengurus administrasi lebih dulu," kata pak dokter.
Mendengar penjelasan dokter, mereka bisa bernafas dengan lega sekarang.
"Kak Dimas, biar Lilis saja yang urus administrasinya," kata Lilis yang segera pergi ke bagian administrasi untuk mengurus administrasinya.
"Dok, saya juga seorang dokter. Jadi saya ingin memindahkan istri saya ke rumah sakit tempat saya bekerja, agar saya bisa bekerja sekaligus merawatnya," kata Dimas sambil menarik nafas panjang.
"Oh begitu. Baik, silakan anda urus sesuai prosedur rumah sakit. Kalau begitu saya permisi dulu," kata dokter dan langsung melangkah pergi meninggalkan Dimas dan kedua orangtuanya yang tampak mulai tenang.
"Ayah, ibu. Dimas akan pergi mengurus prosedur pemindahan Winda dari rumah sakit ini. Kalian temani Winda, jangan sampai dia merasa sendirian di sini," pinta Dimas disambut senyum ayah dan ibunya.
Dimas pergi dengan hati tenang setelah mendengar penjelasan dokter. Dalam hati dia selalu bersyukur tidak terjadi hal yang berbahaya pada Winda.
Setelah selesai mengurus prosedur pemindahan Winda, Dimas membawa Winda pindah ke rumah sakit Harapan tempat Dimas bekerja. Dengan begitu setiap saat Dimas bisa mengecek kondisi Winda.
Malam itu, Dimas menjaga Winda sendirian setelah Dimas meminta Lilis dan kedua orangtuanya untuk pulang. Dimas duduk dihadapan Winda yang masih terbaring lemah.
"Mas, bagaimana dengan persiapan pembukaan toko kue aku ?" tanya Winda membuat Dimas agak kesal.
"Winda, keadaan kamu saja masih seperti ini dan kamu malah memikirkan toko kue mu yang belum di buka."
"Toko itu sangat penting bagi aku mas," jawab Winda sedih.
"Baiklah, Besok aku akan menghubungi Zaki untuk datang ke sini mengurus toko mu."
__ADS_1
"Terimakasih mas Dimas."
"Asal kamu senang saja," jawab Dimas sedikit lega melihat senyum Winda.
Dimas juga bingung, kenapa Winda tidak terlihat sedikitpun ada ketertarikan dengannya? Ternyata dia sendiri yang telah terjebak dalam cinta yang tak seharusnya ini. Cinta yang tidak boleh ada.
Keesokan harinya, Zaki datang bersama orangtua Winda setelah menerima kabar dari Dimas jika Winda mengalami kecelakaan. Dimas meminta Zaki untuk mengurus pembukaan toko kue Winda dan mencarikannya seorang koki agar toko kue Winda bisa segera beroperasi. Setelah bertemu Winda, Zaki kemudian pergi mengurus toko Winda.
Sementara Dimas meminta maaf pada orangtua Winda karena Dimas tidak bisa menjaga Winda dengan baik.
"Ayah, ibu. Maafkan Dimas tidak bisa menjaga Winda dengan baik," kata Dimas sopan.
"Dimas, ini kecelakaan bukan salah nak Dimas. Ayah malah merasa, Winda sangat beruntung memiliki suami seperti nak Dimas. Penuh perhatian dan baik," jawab sang ayah mertua.
Perkataan ayah mertuanya membuat Dimas malu tetapi juga Dimas merasa senang.
"Tapi, kami tidak bisa berlama-lama disini, jadi kami titip Winda," tambah sang ayah mertua.
"Tentu ayah, ibu. Saya akan menjaga Winda dengan sebaik-baiknya."
"Maaf merepotkan nak Dimas. Merawat Winda sendirian," kata sang ibu mertua.
"Itu sudah tugas Dimas sebagai suami," jawab Dimas.
Setelah sore, ayah dan ibu mertuanya pulang kembali ke kotanya. Kini tinggallah Dimas sendirian menemani Winda. Dimas memang suami yang cekatan. Sebagai dokter, dia tidak malu membantu Winda membersihkan dan berganti pakaian ataupun saat ingin ke kamar mandi.
Selesai dari kamar mandi, Dimas dan Winda dipapah Dimas keluar. Mereka tidak menyangka jika disana sudah ada Bayu yang menunggu. Tentu saja hal itu membuat Dimas maupun Winda terkejut.
"Kalian? Dari kamar mandi berdua?" tanya Bayu sambil mempelototi Dimas dan Winda.
"Winda segera beristirahatlah?" kata Dimas sambil membantu Winda naik ketempat tidurnya.
"Dimas, kau belum menjawab pertanyaanku," kata Bayu.
"Aku ini seorang dokter yang merawatnya. Selain itu aku ini suaminya. Apa perlu ditanyakan lagi jika aku membantunya ke kamar mandi," jawab Dimas.
"Dimas, sepertinya kita perlu bicara berdua," kata Bayu sambil memberi isyarat pada Dimas unyu keluar.
Dimas mengikuti langkah Bayu yang berjalan cukup cepat. Sepertinya ada sesuatu yang sangat penting yang ingin dia katakan pada Dimas. Bayu berhenti disebuah tempat tunggu pasien. Dimas duduk mengikuti Bayu yang dengan tatapan mendikte dirinya.
"Dimas, masih ingat perjanjian kita?"
"Tentu saja masih. Memang kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Kali aja kamu lupa. Jangan jatuh cinta dengan Winda, dan aku tegaskan lagi, Winda itu milikku. Winda hanya titipan bagimu jadi jangan pernah merasa memilikinya," jelas Bayu berusaha menekan Dimas.
Dimas hanya mengangkat pojok bibirnya dan tersenyum agak sinis. Dimas tidak berani dan belum siap menghadapi kenyataan jika dia sudah mulai menyukai Winda.
__ADS_1
"Dimas, aku masuk menemui Winda dulu. Kamu tidak perlu ikut masuk," ucap Bayu lalu melangkah pergi menuju ruang rawat Winda.
Dimas terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa lagi selain hanya bisa menarik nafas panjang.
"Kak Dimas," suara Lilis mengagetkan Dimas.
"Lilis, muncul dulu kek baru manggil," ucap Dimas agak keras.
"Kakak membohongi kami?" tanya Lilis serius.
"Membohongi apa, Lis?" tanya Dimas pura-pura tidak tahu dan Dimas juga berharap jika Lilis juga tidak tahu
"Sudahlah kak, Lilis sudah dengar semua pembicaraan kak Dimas dan temen kakak itu. Tega ya kata Dimas sudah membohongi ayah dan ibu," kata Lilis sedih.
"Lilis, Kakak mohon jangan beritahukan ini pada mereka. Kakak bisa menjelaskan padamu," ucap Dimas memohon.
"Katakan dan ceritakan padaku agar aku bisa mengerti kakak," kata Lilis.
Dimas mulai bercerita dari awal pertemuannya dengan Bayu hingga akhirnya dia menerima permintaan sahabatnya itu. Lilis mendengarkan sambil sesekali melihat kakaknya yang terlihat sedih.
"Apa kak Dimas menyesal?"
"Menyesal tapi juga tidak," jawab Dimas.
"Maksud kak Dimas?!"
"Menyesal karena aku merasa berdosa tapi dengan melakukan ini aku bisa bertemu Winda."
Lilis hanya bisa menghela nafas mendengar jawaban kakaknya. Kayaknya ada yang sedang jatuh cinta.
Sementara Bayu menyesali perbuatannya yang ternyata malah membuat Winda harus menjalani perawatan di rumah sakit. Akan tetapi dia tidak berani berterus terang jika semua ini perbuatannya.
"Maafkan aku Winda," ucapnya lirih.
"Mas Bayu bicara apa?" tanya Winda.
"Aku minta atas perlakuanku padamu tempo hari. Aku tidak bisa menahan hasratku saat melihatmu. Aku..." ucapan Bayu terputus.
"Sudahlah mas Bayu. Aku tidak ingin mengingat hal itu lagi. Aku pasti akan sangat membencimu jika ingat perlakuanku padaku."
"Baik, aku akan memperbaiki diri. Aku akan sabar menunggumu," kata Bayu berusaha menarik simpati Winda.
Tapi aku tidak akan pernah melupakan semua nya mas Bayu. Semua perlakuanmu padaku sejak menikah denganmu. Sakit dan cara kamu merendahkan aku, akan selalu membekas dalam hatiku, batin Winda.
Akankah Winda menyimpan dendam pada Bayu atas perlakuan Bayu selama 3 tahun menikah dengannya?
Bersambung ya
__ADS_1
Haihai otor bawa rekomendasi novel yang apik karya temen otor ya judulnya Tiba-tiba Istriku Berubah by Kiss ayo yang mau mampir silahkan kasih like koment...