Istri Titipan Talak 3

Istri Titipan Talak 3
Bab 51. Cari kesempatan atau modus?


__ADS_3

"Mas Dimas, apa dia bicara tentang anak-anak?" tanya Winda sambil menghela nafas.


"Benar. Tapi kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan terpengaruh dengan omongan Maya."


"Benarkah?"


"Hanya sedikit saja. Kamu jangan marah, sayang. Aku minta maaf. Hanya selintas saja aku terpancing," kata Dimas cemas.


Dimas begitu khawatir jika Winda marah. Bisa-bisa Winda akan pergi membawa twins V. Bagaimana dia akan bisa menjalani hidup tanpa mereka.


"Aku tidak marah mas, tetapi aku sedih. Ternyata ucapan Maya masih berpengaruh padamu."


"Sayang, aku minta maaf ya. Aku tidak akan lagi mendengarkan Maya, hanya perkataan istriku yang akan aku dengar. Aku tidak bermaksud mencurigaimu, terlebih saat melihat twins V, mereka sangat mirip denganku."


"Benarkah? Tidak ada yang mirip denganku?"


"Keduanya mirip dengan aku. Ada yang bilang, jika seorang anak mirip dengan ayahnya, berarti saat bercinta libido ayahnya lebih tinggi dari ibunya. Begitu juga sebaliknya."


"Mas Dimas tidak malu di bilang punya libido tinggi?"


"Untuk apa malu. Libido tinggi itu bagus untuk pasangan suami istri. Asal jangan sama orang lain saja. Sayang, kamu tidak kesal lagi kan?"


"Mas, jujur saja. Saat aku memutuskan untuk kembali padamu, aku sudah mempersiapkan diri jika ada yang meragukan keberadaan anak-anakku."


"Maksudnya?


"Aku sudah melakukan tes DNA dan memiliki bukti yang kuat untuk bisa terus di sampingmu."


Dimas terdiam.


Rupanya Winda sudah melakukan persiapan sebelum kembali padaku. Aku yang bodoh, pernah terbersit rasa tidak percaya meski hanya selintas saja.


Dimas memeluk tubuh seksi istrinya dan yakin bahwa semua usaha yang dilakukan Winda tidak akan sia-sia. Semua kini menjadi lebih jelas dan tidak ada lagi keraguan.

__ADS_1


"Kita keluar. Tidak baik berlama-lama meninggalkan mereka."


"Iya, mas Dimas."


Dimas dan Winda keluar untuk menjadi tuan rumah yang baik. Semua orang masih dalam suasana bahagia. Apalagi bagi Zaki dan Lilis yang sebentar lagi akan bertunangan.


Setelah acara hari ini selesai, semua orang pamit pulang. Ayah Dirga sekeluarga segera kembali pulang. Nenek kembali kerumahnya yang kemarin di tempati Lilis ketika belum kembali bersama Dimas.


Sementara ayah Darma dan ibu, pamit kembali ke rumah untuk memberi tahu keluarga Zaki dan melakukan persiapan lamaran dan pertunangan.


Semua merasa lelah. Dimas meminta Winda dan twins V untuk beristirahat saja. Dimas membereskan semua bersama bibi dan dua pengawal Winda.


Ternyata mereka berdua ada gunanya juga untukku, selain menjaga Winda. Mereka juga bisa membereskan tempat yang berantakan.


Dimas tersenyum sendiri. Satu jam cukup melelahkan bagi Dimas. Saatnya menyegarkan diri dengan mandi karena hari sudah menjelang malam.


Didalam kamar, twins V sudah menunggu dengan pakaian siap sembahyang. Mereka terlihat lucu dan imut.


"Mas, segeralah mandi. Kita sudah menunggu dari tadi lho," kata Winda yang juga sudah mengenakan mukena.


Mereka berkumpul dikamar Dimas hingga mereka mulai mengantuk. Twins V ternyata tidak mau tidur dikamar mereka sendiri. Dengan lugunya, mereka ingin tidur bersama mami dan papi.


Terus bagaimana Dimas dan Winda bisa memberi mereka adik baru?


Dimas tersenyum saja melihat twins V sudah terlelap diatas ranjang. Winda juga sebenarnya sudah mengantuk, tetapi kode dari sang suami tidak bisa Winda abaikan.


"Mas Dimas, ada apa? Kok ada kasur lantai segala?" tanya Winda sambil berbalik arah.


"Iya."


"Untuk apa?"


"Untuk tidur, mau untuk apa lagi."

__ADS_1


"Kenapa tidak tidur dikamar lain saja, mas? Nanti kalau tidur dibawah, kamu bisa kedinginan," kata Winda cemas.


"Kalau begitu, kamu bisa temani aku tidur disini," jawab Dimas pelan.


Dimas lalu merebahkan diri diatas kasur lantai yang ada dibawah tepat di samping Winda berbaring. Tangan Dimas menarik tangan Winda, berharap Winda segera ikut turun. Tidur di lantai menemaninya, menghangatkan tubuhnya.


Winda menahan tawa, melihat usaha Dimas mencari kesempatan meski ada twins V di kamar ini.


"Jangan tertawa, nanti twins V bangun," ucap Dimas pelan.


Winda menutup mulut dengan kedua tangannya. Dimas sudah tidak sabar dengan kelakuan istrinya yang seolah sedang mengujinya. Dia langsung menarik tubuh istrinya hingga jatuh diatas tubuh Dimas yang sudah siap.


Pandangan mata mereka beradu, dan Dimas mencoba mencium bibir merah yang tampak menggodanya.


"Mami... sedang apa?"


Tiba-tiba terdengar suara Vani bertanya. Sementara tubuh Winda masih berada diatas tubuh Dimas hingga membuat Winda bingung harus menjawab apa.


"Mami tadi terjatuh, untung ada papi tidur di bawah sini. Kalau tidak, mami kalian pasti sudah kesakitan sekarang," jawab Dimas.


"Papi, makacih. Udah bantuin mami," kata Vani imut.


"Vani, biar mami tidur di sini sama papi. Takutnya nanti mami jatuh lagi."


"Vani, mama tidak apa-apa," kata Winda.


"Mami tidul dibawah saja sama papi."


"Nah bener kata Vani, pinter anak papi. Udah, balik bobok lagi. Jangan cari mami, mami tidur dibawah, oke?"


"Oke papi. Vani bobok lagi."


Dimas tersenyum lega melihat Vani segera tidur lagi tanpa mencari Winda. Winda mencubit lengan Dimas, karena membuat hati Winda tadi sangat cemas.

__ADS_1


Malam semakin dingin, namun tubuh suami istri itu basah oleh keringat.


Bersambung


__ADS_2