
Dimas bergegas mandi dan menjalankan kewajibannya sebelum bersiap pergi ke rumah sakit. Dimas merasa ada yang kurang dan sangat mengganggu pikirannya. Winda tidak ada dan tidak menemaninya sarapan.
Dimas tidak berselera makan. Kenapa harus seperti ini? Suasananya sangat berbeda dengan yang semalam. Winda seolah tidak terpaksa melakukannya, lalu kenapa dia pergi tanpa berkata apapun padaku?
"Tuan, nyonya tadi berpesan kalau nyonya ada hal penting di toko, jadi nyonya pergi pagi-pagi sekali sehabis subuh," kata bibi setelah Dimas selesai sarapan.
"Apa nyonya bilang hal penting apa itu?" tanya Dimas agak lega karena ternyata Winda masih sempat berpesan pada bibi.
"Tidak tuan. Kata nyonya lagi, pulangnya agak malam, jadi tuan diminta makan malam sendiri," tambah bibi.
Jawaban bibi tidak bisa membuat hatinya tenang. Pikirannya kembali kacau.
Pulang malam, sepertinya dia mau menghindari aku.
Tanpa malu, Dimas menelepon Lilis dan memintanya untuk pergi ke toko kue Winda dan melihat keadaan Winda. Lilis tidak berani berjanji pada kakaknya karena dia juga banyak pekerjaan di kantornya.
Di rumah sakit, Dimas tidak bisa berkonsentrasi bekerja. Meskipun dia berusaha menganggap bahwa Winda tidak akan pernah menyalahkan dia atas kejadian semalam.
Namun seandainya Winda menyesalpun sudah terlambat. Semua sudah terjadi dan Dimas tentu saja harus bertanggungjawab pada Winda. Dengan kejadian semalam, Dimas sudah merasa menghianati kepercayaan Bayu, sahabatnya.
Akan tetapi dia juga tidak bisa membohongi dirinya jika dia sudah jatuh cinta pada Winda. Untuk itu, Dimas memutuskan bahwa dia harus menyelesaikan urusannya dengan Bayu terlebih dulu.
Dimas izin pulang lebih awal untuk menemui Bayu di perusahaan Bayu. Kedatangan Dimas disambut baik oleh Bayu yang sedikit merasa khawatir jika Dimas mengetahui semua perbuatannya pada Dimas dan Winda.
"Hei Dimas, tumben datang ke sini. Ada perlu apa? Apa kangen dengan aku?" sapa Bayu akrab.
"Emang ada perlu. Kalau enggak, buat apa jauh-jauh datang kemari," jawab Dimas.
Mereka duduk berhadapan di sofa didalam kantor Bayu. Tampak Bayu tersenyum sambil mengira-ngira apa yang ingin dikatakan Dimas padanya.
"Oke, katakan Dimas jangan bikin aku penasaran," kata Bayu penuh antusias.
"Begini Bayu. Kedatangan aku kesini, ingin mengakhiri perjanjian kita," ucap Dimas sambil menghela nafas.
"Maksud kamu perjanjian apa? Pernikahan kamu dengan Winda?" tanya Bayu agak keras.
"Benar. Pernikahanku dan Winda. Aku rasa, aku tidak bisa lagi melaksanakan permintaan kamu," kata Dimas segera.
"Jadi kamu ingin mengakhiri pernikahan kamu dengan Winda? Tunggu sebentar lagi setelah setidaknya sudah 3 bulan, kalian baru bisa bercerai," kata Bayu.
__ADS_1
"Aku tidak bilang akan menceraikan Winda," ucap Dimas mengejutkan Bayu.
"Apa, jadi kamu tidak akan menceraikan Winda?! Lalu apa maksudmu dengan mengakhiri perjanjian kita?" tanya Bayu kaget.
"Aku minta kamu mau melepaskan Winda dan jangan mengganggunya lagi," kata Dimas jelas.
"Apa, melepaskan Winda?! tidak bisa. Sejak awal dia adalah milikku. Dan selamanya milikku. Aku hanya menitipkannya padamu, jadi kamu harus mengembalikannya padaku."
"Tapi sekarang dia adalah istriku. Dan aku tidak akan pernah menceraikannya."
Bayu berdiri sambil memukul meja. Matanya memerah menandakan dia saat ini sedang marah pad Dimas. Bayu mencengkeram kerah baju Dinas dan memukulnya berkali-kali.
"Kenapa kamu diam saja, ayo balas pukulanku jika kamu laki-laki," teriak Bayu.
"Tidak, aku tidak akan membalas pukulanmu. Kamu boleh melakukan apapun padaku, setelah itu lepaskan Winda," ucap Dimas meringis menahan sakit dari pukulan Bayu.
Mendengar ucapan Dimas, Bayu berhenti memukuli Dimas.
"Katakan padaku Dimas, apa yang membuatmu berbuat seperti itu?" tanya Bayu penasaran.
"Aku telah jatuh cinta pada Winda. Dan aku rasa Winda juga tidak membenciku," jawab Dimas dengan tegas supaya Bayu yakin.
"Dimas, Winda itu bukan tipe kamu. Mana mungkin kamu bisa jatuh cinta dengan Winda. Kamu pasti bohong kan? Agar aku melepaskan Winda?” kata Bayu masih belum percaya omongan Dimas.
Bayu semakin tidak bisa menahan diri lagi mendengar Dimas masih saja kekeh mengatakan bahwa dia sudah jatuh hati pada Winda.
Sebuah pukulan kembali mendarat di wajah Dimas hingga bibirnya berdarah. Namun bawahan Bayu segera menghentikan ulah Bayu. Ternyata kejadian itu menarik perhatian para karyawan hingga mereka mulai bergosip tentang bos mereka.
"Dokter Dimas, pergilah," ucap Dani asisten kepercayaan Bayu.
"Jangan pergi, aku akan membunuhmu sekarang juga," teriak Bayu.
Dimas masih belum bergeming dari tempatnya hingga Dani kembali berteriak.
"Dokter Dimas, pergi," teriak Dani.
Dimas akhirnya melangkah pergi meninggalkan Bayu yang masih dalam terus berteriak.
"Dimas, aku tidak akan pernah melepaskan Winda untukmu. Aku tidak akan membiarkan kalian bahagia," teriak Bayu yang membuat Dimas sedih
__ADS_1
Hubungan persahabatan dia dan Bayu ternyata harus berakhir seperti ini hanya karena seorang wanita. Dimas masih berdiri di depan pintu kantor Bayu untuk memberi hatinya keyakinan bahwa keputusannya kalian ini sudah tepat.
"Bos, bos harus tenang. Nanti kita pikirkan cara untuk memisahkan mereka," kata Dani berusaha meredakan amarah bosnya.
"Dimas itu memang kurang ajar. Dia berani mengambil milikku. Dia pikir dia siapa. Dia pikir aku benar-benar sahabat baiknya dan akan diam saja," kata Bayu kesal.
"Bos, maksud bos apa?"
"Dulu aku mendekatinya karena aku iri melihat kehidupannya yang serba mudah karena dia anak orang kaya dan pandai di sekolah. Sedangkan aku hanya anak miskin yang dipandang sebelah mata. Aku membuatnya berhutang nyawa padaku untuk mendekatinya," ucap Bayu berhenti sejenak.
"Padahal akulah yang membuatnya terluka dan terbaring di rumah sakit lalu aku menyelamatkannya."
Perkataan Bayu membuat Dimas marah. Jadi sebenarnya Bayu bukanlah teman dan sahabat baik seperti yang Dimas kira selama ini. Bayu ternyata menyimpan banyak rahasia yang tidak Dimas ketahui. Apalagi tentang kecelakaan Dimas ketika SMA dulu. Ternyata dia pelakunya.
Tetapi Dimas berusaha menahan amarahnya karena teringat bahwa dia bisa bersama Winda karena Bayu. Jadi keputusan Dimas kali ini memang di rasa Dimas sudah tepat, dan Dimas mulai yakin untuk bersama Winda.
Saat melangkah meninggalkan perusahaan Bayu tanpa sedikitpun penyesalan. Masalah dengan Bayu sudah dia selesaikan dan kini tinggal Dimas akan berusaha membuat Winda jatuh hati padanya.
Dimas berharap, setelah kejadian semalam Winda menyimpan sedikit perasaan padanya. Setidaknya Winda tidak membencinya dan masih ingin mempertahankan pernikahan dengannya.
Dimas berencana mengungkapkan perasaannya pada Winda, agar Winda bisa memutuskan untuk terus bersamanya. Makan malam romantis di sebuah restauran mewah, mungkin bisa menjadi harapan baru untuk hubungan mereka berdua.
Dimas berharap tidak ada rasa canggung saat mereka bertemu nanti.
Bersambung
Sambil menunggu up selanjutnya yuk baca karya teman otor yang kece dan apik yang berjudul Kesandung Cinta Anak bau Kencur by yanktie Ino kanan lupa like koment dan fav ya...
Bulrb _kesandung cinta anak bau kencur_
Steve pemuda ganteng yang telah dua kali di sakiti karena pengkhianatan. Dia lalu menjauh dari lawan jenis.
Namun siapa sangka dia malah tertarik pada gadis kecil adik temannya.
Gadis kecil yang sulit dia dapat karena mengira Steve beda keyakinan, sebab sejak ibunya meninggal memang steve ikut omanya.
Saat mereka mulai dekat, ada saja batu sandungan dari pemuja Steve
__ADS_1
Mampukah Steve memiliki cinta anak bau kencur itu?
Mampukah si kecil bertahan terhadap badai kiriman pemuja Steve?